Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 9 Kebersamaan di Taman Rumah Sakit


__ADS_3

"Anita, udah lama?" ucap mama Novi menghampiri Anita.


"Baru saja tante" ucap Anita seraya merangkul Mamah Novi.


"Langsung kemeja makan yuk kita makan malam" ucap mamah Novi.


Mereka menuju meja makan, disana sudah ada papah Ridwan yang menunggu.


"Malam om" ucap Anita pada papah Ridwan seraya menundukan kepalanya sedikit.


"Malam juga Anita" ucap papah Ridwan.


"Sebentar mamah telepon Arrash dulu" ucap mamah Novi.


"Apa Arrash belum pulang dari kantor" ucap Anita.


"Belum" ucap mamah Novi seraya menghubungi Arrash.


Sambungan telepon diterima, mamah Novi meloudspeaker agar bisa didengar papah Ridwan dan Anita.


"Hallo mah" jawab Arrash diseberang telepon.


"Arrash ini sudah waktunya makan malam kenapa belum pulang" tanya mamah Novi khawatir.


"Arrash lembur mah, nanti tidak pulang. Arrash akan tidur diapartement Yogi saja yang lebih dekat dari kantor" ucap Arrash.


"Apa pekerjaanmu tidak bisa ditunda? ini dirumah ada Anita teman kecilmu" ucap mamah Novi memberitahu Arrash.


"Tidak bisa mah, pekerjaanku akan digunakan besok dan harus selesai malam ini juga" ucap Arrash.


"Ya sudah, Arrash mamah tutup teleponnya kamu hati-hati ya nak" ucap mamah Novi.


Sambungan telepon terputus.


"Tidak biasanya Arrash lembur sampai tidak pulang kerumah" ucap papah Ridwan.


"Iya ya pah, apa pekerjaan Arrash banyak akhir-akhir ini?" tanya mamah Novi heran.


"Entahlah" ucap papah Ridwan.


'Arrash apa kamu menghindari aku hingga tidak pulang kerumah' batin Anita, dia kecewa tidak bisa bertemu Arrash.


...****************...


Dikantor.


Arrash memang tidak berbohong mengatakan bahwa dirinya sedang lembur.


Saat ini dirinya memang sedang lembur bersama Yogi mengerjakan pekerjaan yang dua hari ini terbengkalai.


"Apa kamu menghindari Anita?" tanya Yogi pada Arrash.


"Entahlah, aku kecewa terhadapnya. Kami bersahabat sejak kecil namun dia telah menghianati persahabatan yang sudah terjalin cukup lama" ucap Arrash.


"Kamu ingat tidak saat kita kelas tiga SMP Anita mengungkapkan perasaannya padaku dihari kelulusan kita, ternyata saat itu dia sudah menyukai aku tiga tahun lamanya" sambung Arrash lagi.


"Apa kamu tidak memiliki perasan terhadap Anita?" tanya Yogi.


"Tidak, selain rasa kecewaku. Mungkin untuk bisa berteman seperti dulu pun akan sulit" jawab Arrash.


"Aku mengerti perasaanmu Rash" ucap Yogi.


Lalu keduanya melanjutkan pekerjaannya.


...****************...


Dirumah sakit.

__ADS_1


Fikri masih setia menemani Syaqilla, dia dengan telaten merawat gadis itu.


"Mas bisa tidak ya aku dirawat dirumah saja" tanya Syaqilla.


"Apa kamu sudah bosan dirumah sakit" tanya Fikri.


"Iya mas aku bosan, aku disini hanya bisa berbaring" ucap Syaqilla.


"Besok aku tanyakan pada dokter Anita" ucap Fikri


"Kalau kamu bosan ayo aku bantu, kita jalan-jalan ketaman" tawar Fikri.


"Pakai kursi roda saja mas" ucap Syaqilla.


"Oke kamu tunggu dulu disini aku akan ambil kursi rodanya" ucap Fikri.


"Iya mas" ucap Fikri


3 menit berlalu Fikri datang dengan membawa kursi roda.


"Ayo Qilla aku bantu" ucap Fikri yang diangguki oleh Syaqilla.


Syaqilla sudah berhasil duduk dikursi roda dan segera didorong oleh Fikri menuju taman rumah sakit.


"Waahh.. Indah sekali mas, bulan dan bintangnya malam ini bersinar terang" ucap Syaqilla takjub.


"Iyaa bersinar seperti gadis yang ada disebelahku" goda Fikri.


"Mas Fikri bisa saja" ucap Syaqilla malu-malu.


"Setelah keluar dari rumah sakit kamu tinggal dirumahku saja ya" pinta Fikri.


"Maaf mas kalau aku menolak, tapi aku rasa gak pantas kita tinggal serumah sebelum menikah walaupun dirumah ada ibu" ucap Syaqilla


"Lalu siapa yang akan merawatmu Syaqilla, aku hanya mengkhawatirkanmu" ucap Fikri.


"Ya sudah kalau itu maumu" ucap Fikri.


Mereka berdua hanya menikmati waktu malam berdua ditaman sembari melihat langit, namun pandangan Fikri teralihkan saat melihat tidak jauh dari tempat dia berdiri ada dua orang yang dia kenal yaitu anak dan mantan istrinya.


Alika dan Riana sedang menikmati indahnya bulan dan bintang.


Syaqilla juga menyadari keberadaan Alika dan Riana, gadis itu menoleh pada Fikri ingin mengetahui apakah pria itu melihatnya juga.


Tepat sesuai dugaan Syaqilla, Fikri sedang menatap kearah Alika dan Riana dengan sedih.


"Mas, bukannya itu mba Alika dan Riana y?" tanya Syaqilla memastikan.


"Iya Syaqilla" ucap Fikri.


"Ayo mas kita samperin mereka" ajak Syaqilla.


"Tapi kalau ketahuan orang tuan Alika bagaimana? Aku tidak mau Riana melihat keributan antara ayah dan kakek neneknya" tanya Fikri khawatir.


"Mas lihatkan mereka hanya berdua, kita samperin aja yuk sebentar" ajak Syaqilla lagi.


"Tapi_" ucap Fikri ragu.


"Ayo" ucap Syaqilla menarik tangan Fikri.


"Iyaa Qilla" setuju Fikri.


Fikri dan Syaqilla menghampiri Alika dan Riana yang tidak menyadari kehadiran mereka.


"Alika, Riana" sapa Fikri.


Alika dan Riana menoleh ke arah Fikri dan Syaqilla.

__ADS_1


"Mas Fikri" "Papah" ucap Alika dan Riana bersamaan.


Riana langsung bangkit dari kursi rodanya dan memeluk Fikri.


"Papah Riana kangen" ucap Riana dipelukan Fikri.


"Papah juga kangen sayang. Riana sakit apa nak?" tanya papah Fikri.


"Riana sakit Anemia pah" lirih Riana.


"Ya Allah" lirih Fikri dadanya terasa sesak.


Ingin rasanya selalu ada untuk anaknya tapi apalah daya, hubungan Fikri dan Alika sangat rumit.


"Dimana Omah dan Opah?" tanya Fikri.


"Opah ada pekerjaan diluar kota dan omah sedang pulang kerumah" ucap Riana


Alika dan Syaqilla yang menyaksikan pertemuan ayah dan anak itu ikut terharu.


"Kamu pasti Syaqilla?" tanya Alika pada Syaqilla.


"Iya mba aku Syaqilla. Mbak pasti Alika ya?" ucap Syaqilla balik bertanya.


"Iya aku Alika. Kaki kamu kenapa?" tanya Alika lagi seraya melihat kaki Syaqilla yang di gips.ðf


"Kemarin keserempet mobil mbak" ucap Syaqilla.


"Udah berapa hari dirawat?" tanya Alika


"Dua hari mbak, tapi besok aku mau minta pulang biar dirawat dirumah saja" ucap Syaqilla.


"Semoga lekas sembuh ya" ucap Alika.


"Makasih mbak. Riana sudah berapa hari dirawat mbak?" tanya Syaqilla.


"Riana sudah 4 hari dirawat, tapi kondisinya masih sangat lemah jadi belum diperbolehkan pulang" ucap Alika.


"Mungkin Riana merindukan papahnya mbak" ucap Syaqilla.


"Sepertinya begitu" ucap Alika.


"Semoga saja setelah bertemu papahnya kondisi membaik y mba" ucap Syaqilla.


"Iya semoga saja" ucap Alika.


Syaqilla melihat Alika yang menatap anak dan mantan suaminya, dari tatapan itu terlihat sekali Alika sangat mencintai Fikri.


'Ya Allah apa keputusan menikah dengan mas Fikri sudah tepat?' batin Syaqilla.


'Kamu berhak bahagia mas, walau kebahagianmu itu tidak bersamaku' batin Alika.


Kedua wanita itu saling membatin.


Dua jam sudah mereka berada ditaman, saat ini hendak masuk keruang rawat masing-masing.


"Syaqilla, mas Fikri aku dan Riana duluan y" ucap Alika saat berpisah koridor rumah sakit.


"Riana, papah berharap ini yang terakhir kalinya kamu masuk rumah sakit ya nak. Sehat-sehat terus papa sayang Riana" ucap Fikri sambil berjongkok serta mencium Riana.


"Iya papah, papah juga jaga kesehatan y" ucap Riana.


"Pasti" ucap Fikri yakin.


Alika dan Riana berlalu lebih dulu dan masih diperhatikan Fikri.


"Apa mas Fikri masih mencintai mba Alika?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2