
Setelah kepergian semua orang kini Fikri masih terduduk diruang tamu, dia bingung untuk bertindak, hati dan pikirannya berbeda.
Ingin hati menemui sang ayah dan memeluknya tapi pikirannya membenci sosok ayahnya itu.
Tidak lama kemudian dia bangkit, dia memutuskan untuk mengikuti kata hatinya dan segera bersiap menuju rumah sakit Jaya Medika.
Fikri pergi kerumah sakit menggunakan sepedah motor miliknya.
...****************...
Disisi lain Arrash, mamah Novi, oma Laras, dan bu Fatimah telah tiba dirumah sakit.
Bu Fatimah berdiri didepan jendela kaca ruangan tersebut sembari menangis.
'Mas aku sudah memaafkanmu, maafkan juga aku yang sudah meninggalkanmu. Aku tidak tahan dengan sikap egoismu dulu yang tidak pernah menghargai aku dan juga Fikri' batin bu Fatimah.
"Arrash izin sebentar mah mau keluar beli makanan" ucap Arrash.
"Iya Arrash, beli yang banyak mama juga lapar" ucap mamah Novi.
Arrash berjalan keluar rumah sakit namun baru sampai dilobi rumah sakit ia melihat seorang wanita sedang menggendong anak perempuan sembari menangis dan berlari.
"Dokter tolong anak saya tadi pingsan" ucap wanita itu.
Arrash masih memperhatikannya sembari terus berjalan hingga akhirnya Arrash melewati wanita itu.
Arrash membeli makanan direstoran sebrang rumah sakit kemudian membeli air mineral dan beberapa cemilan.
Arrash kembali kerumah sakit dan bertemu lagi dengan wanita yang menggendong anak itu.
"Sebaiknya mbak minum dulu, itu akan membuatmu tenang" ucap Arrash memberikan sebotol air mineral.
"Terimakasih mas" ucap wanita itu dan diangguki oleh Arrash yang kemudian berlalu.
'Seandainya mas Fikri ada bersamaku aku tidak akan sepanik ini' batin Alika.
Ya memang wanita yang dilihat oleh Arrash itu Alika mantan istri Fikri.
...****************...
Disisi lain Fikri bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya disana dia segera menghampiri meja Resepsionis.
"Permisi mbak" ucap Fikri.
"Iya mas ada yang bisa saya bantu?" tanya Irma.
Ya kebetulan yang ditanyai oleh Fikri itu Irma.
"Pasien atas nama Farhanzah Wijaya apa sudah mendapatkan pendonornya?" tanya Fikri.
"Belum mas, kami sudah mencari di PMI dan beberapa rumah sakit namu kosong karena memang golongan darahnya yang langka" ucap Irma.
"Kalau begitu saya yang akan mendonorkan darah saya" ucap Fikri.
"Apa golongan darah anda sama dengan pak Farhanzah?" tanya Irma.
"Iya sama" ucap Fikri.
__ADS_1
"Baiklah mari ikut, saya akan mengantarkan anda pada dokter David" ucap Irma.
Fikri mengangguk kemudian berjalan mengikuti Irma.
Sesampainya diruangan dokter David Fikri dipersilahkan masuk dan Irma kembali kemeja resepsionis.
"Saya ingin mendonorkan darah untuk pak Farhanzah Wijaya" ucap Fikri duduk disebrang kursi dokter David.
"Apa kamu putra kandung Farhan yang sering ia ceritakan?" tanya dokter David.
Namun Fikri tidak menjawab pertanyaan itu.
"Bisa ambil darah saya sekarang?" tanya Fikri.
"Tentu saja bisa. Sebelumnya anda harus melakukan cek golongan darah terlebih dahulu" jawab dokter David.
"Baiklah lakukan sekarang" ucap Fikri.
Fikripun sudah melakukan serangkaian prosedur mendonorkan darah ia diperbolehkan melakukan donor.
"Kita melakukan transfusi darah dirungan ICU dimana pak Farhan sedang kritis" ucap dokter David dan Fikri hanya mengangguk.
Disisi lain didepan ruang ICU semua orang semakin khawatir dengan kondisi Farhan.
"Fatimah apa Fikri benar-benar tidak akan kemari?" tanya oma Laras.
"Aku tidak tahu mah" ucap bu Fatimah.
Hahh. Terdengar helaan nafas kasar dari Arrash.
"Arrash akan menjemput Fikri" ucap Arrash.
"Kalau tidak berhasil Arrash akan menyeret paksa agar dia mau datang kemari" ucap Arrash.
"Tidak per_" ucap oma Laras tidak dilanjutkan perdebatan mereka terhenti saat dokter david dan Fikri datang menghampiri mereka.
"Fikri kamu datang nak" ucap bu Fatimah sembari meneteskan air mata.
Melihat ibunya menangis Fikri jadi merasa bersalah tapi dia hanya diam.
"Kita akan melakukan transfusi darah sekarang" ucap dokter David.
Dokter David dan Fikri masuk kedalam ruang ICU.
Fikri berbaring dibranker sendiri tepat disebelah branker Farhan.
Fikri terus menatap Farhan selama proses transfusi darah tersebut.
'Ya Allah ini kah ayahku?. Jujur saja aku sangat membencinya, tapi melihatnya terbaring lemah aku merasakan sakit' batin Fikri.
Disisi lain Arrash hendak ketoilet namun langkah kakinya terhenti disaat dia melihat Alika sedang menangis dikursi tunggu tak jauh dari tempat mereka.
'Ini kan wanita tadi. Apa anaknya sakit? Lalu sakit apa sehingga dia menangis seperti itu' batin Arrash.
Arrash menghampiri Alika kemudian memberikan sapu tangannya.
"Maaf mbak, ini mungkin bisa membantu anda untuk menghapus air mata" ucap Arrash.
Alika mendongak ternyata pria tadi yang memberinya air mineral.
__ADS_1
"Terimakasih mas" ucap Alika menerima sapu tangan itu.
Arrash mengangguk kemudian berlalu.
Tak lama kemudian datanglah kedua orang tua Alika, Rudi Pratama dan Cheline Pratama.
"Bagaimana kondisi Riana?" tanya mamah Cheline.
"Kondisinya melemah, baru saja satu hari pulang kerumah tapi Riana sudah tidak kuat" ucap Alika.
"Kita bawa saja berobat keluar negeri" ucap papah Rudi.
"Pah aku mohon izinkan aku membawa mas Fikri kemari. Riana sangat merindukan papahnya aku mohon mah pah demi kesembuhan cucu kalian" ucap Alika sembari memohon.
"Tidak Alika, Fikri mantan suamimu yang miskin itu tidak akan bisa apa-apa!" ucap Papah Rudi.
"Pah aku mohon" ucap Alika memohon.
Rupanya perdebatan ketiga orang itu didengar oleh oma Laras dan bu Fatimah yang hendak ketoilet juga, dan disisi sebrangnya ternyata Arrash juga melihat adegan itu sembari merekamnya.
Meski Arrash tidak mengenal mereka tetapi Arrash memiliki firasat bahwa orang yang sedang dibicarakan itu orang yang ia kenal.
"Apa dia mantan istri Fikri?" bisik oma Laras bertanya.
Bu Fatimah pun menganggukan kepalanya.
"Apa anaknya Fikri sedang sakit?" bisik oma Laras bertanya lagi.
"Iya anak Fikri sedang sakit-sakitan mungkin juga merindukan papahnya" ucap bu Fatimah.
Disisi lain Arrash yang sejak tadi memperhatikan adegan tersebut melanjutkan langkahnya kembali keruang ICU melalui lorong lain.
Sesampainya didepan ruang ICU bertepatan dengan Fikri yang keluar dari ruangan itu.
Baru selangkah Fikri keluar Arrash sudah membuka suara.
"Apa kamu mengenal wanita ini?" tanya Arrash sembari menunjukan rekaman Vidio diponsel Arrash.
Fikri menerima ponsel itu dan benar saja dugaan Arrash bahwa Fikri mengenalnya.
"Tadi saat aku keluar mencari makanan aku bertemu dengan wanita itu sembari berlari menggendong gadis cilik yang pingsan" ucap Arrash.
"Dimana dia sekarang?" tanya Fikri.
"Seperti yang kamu lihat, dia sedang berdebat dengan orang tuanya dilorong melati" ucap Arrash.
Fikri bergegas pergi menemui mantan istrinya itu.
'Wanita itu terlihat begitu mencintai kamu Fikri, begitupun denganmu. Meski beribu kali kamu mengatakan mencintai Syaqilla tapi aku yakin cintamu pada wanita itu masih ada, semoga saja kalian bisa dipersatukan' batin Arrash sembari menatap kepergian Fikri.
"Ada apa Arrash kenapa Fikri buru-buru pergi?" tanya opa Ferdi.
Opa Ferdi sebenarnya ingin berbincang banyak dengan cucunya itu namun Fikri langsung pergi.
"Ada urusan keluarga opa, sepertinya dengan mantan istri dan mertuanya" ucap Arrash.
"Apa! Mantan istri?"
...****************...
__ADS_1