Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 24 Check Up


__ADS_3

"Itu konsekuensinya berani berurusan denganku!" ucap Arrash tegas.


"Saya berjanji pak Arrash, saya tidak akan mengintai anda lagi. Atau bisa juga saya bekerja dengan anda untuk menghianati pak Rudi" tawar Rimba.


Arrash terdiam sejenak sembari berpikir.


"Ck. Kamu bisa menghianati seorang Rudi Pratama kamu juga pasti bisa menghianati aku" ucap Arrash.


"Ti-tidak pak Arrash, saya bersumpah tidak akan menghianati anda" ucap Rimba.


Namun Arrash tidak mengindahkan ucapan pria itu.


"Hukum saja dia pak" ucap Arrash pada pak Harun.


"Kalau begitu bisa anda ceritakan kronologinya" pinta pak Harun


Arrash menceritakan semuanya pada pak Harun.


"Baik pak laporan anda akan saya proses secepatnya. Untuk sementara pria ini ditahan terlebih dahulu disel kami" ucap pak Harun.


"Baik pak" ucap Arrash kemudian menyerahkan Rimba pada pihak kepolisian.


Rimba tidak terima dirinya akan ditahan, ia terus-terusan memberontak namun tindakannya tidak merubah apapun, dirinya akan ditahan oleh pihak kepolisian.


Huhh. Arrash menghela nafasnya kasar.


"Semoga saja dengan tertangkapnya Rimba akan membuat Rudi Pratama jera" ucap Arrash sendirian.


Arrash menghubungi Yogi.


"Yog, ada pengintai yang mengintaiku. Kamu segera urus dia dikantor polisi aku sudah menyerahkannya kepihak yang berwajib" ucap Arrash.


"Apa kamu baik-baik saja Arrash?" tanya Yogi disebrang telepon.


"Iya aku baik-baik saja. Pengintai itu sekretaris Rudi Pratama, dan dia mengintaiku atas perintahnya" jawab Arrash.


"Baiklah aku segera mengurusnya" ucap Yogi.


"Iya" ucap Arrash singkat kemudian memutus panggilan teleponnya.


Arrash bangkit dan segera meninggalkan kantor polisi untuk kembali kerumah Syaqilla.


Pukul 9 tepat Arrash tiba dirumah Syaqilla.


Terlihat Syaqilla sudah menunggu Arrash sembari duduk dikursi teras rumah.


"Apa sudah lama menungguku?" tanya Arrash.


"Iya mas sudah lama. Mas Arrash dari mana?" ucap Syaqilla kemudian bertanya.


"Aku ada urusan sebentar yang tidak bisa aku tinggal tadi" ucap Arrash.


Arrash memutuskan tidak menceritakan pengintai itu pada Syaqilla. Biarlah masalah dengan Rudi Pratama akan ia tangani sendiri.


"Apa kita sudah bisa berangkat?" tanya Syaqilla.


"Tentu saja" jawab Arrash.


"Ayo aku bantu" ucap Arrash hendak membantu Syaqilla berjalan.

__ADS_1


"Tidak usah mas, aku bisa sendiri" tolak Syaqilla halus kemudian perlahan berjalan.


"Baiklah" ucap Arrash.


Arrash lebih memilih mengalah dari pada Syaqilla merasa tidak nyaman saat bersamanya.


Arrash membukakan pintu mobil untuk Syaqilla masuk.


Mereka sudah berada didalam mobil dan Arrash segera melajukan mobilnya dengan kecepatan standart.


"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Fikri?" tanya Arrash membuka pembicaraan diantara mereka.


"Hubungan kami baik-baik saja" jawab Syaqilla.


"Kebetulan anaknya Fikri sedang dirawat dirumah sakit, apa kamu akan menjenguknya?" tanya Arrash.


"Iya aku ingin melihat kondisi Riana" jawab Syaqilla.


'Apa kondisi Riana sangat tidak baik hingga mas Fikri tidak ada waktu untuk menghubungiku?' tanya Syaqilla dalam hati.


Sejujurnya Syaqilla tidak ingin membahas ini, tapi karena Arrash bertanya jadi dia harus menjawabnya.


Sepanjang perjalanan mereka saling berbicara menceritakan pekerjaan masing-masing hingga tiba dirumah sakit barulah mereka menghentikan pembicaraan itu.


Arrash dan Syaqilla segera masuk kedalam rumah sakit.


Setelah menyelesaikan pendaftaran mereka diarahkan oleh perawat keruangan dokter Anita.


Tok tok tok


"Masuk" ucap seseorang diruangan itu.


Perawat itu membuka pintu ruangan dokter Anita.


"Dokter Anita, ini ada pasien Check Up" ucap perawat tersebut.


"Suruh dia masuk" ucap dokter Anita.


Perawat tersebut keluar lagi untuk meminta Arrash dan Syaqilla masuk.


Arrash dan Syaqilla masuk keruangan dokter Anita. Sedangkan perawat tadi kembali melanjutkan pekerjaannya.


Mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat, dokter Anita menoleh kearah sumber suara.


Deg.


Anita yang sedang fokus dengan berkas pasiennya terkejut.


Ternyata pasien yang hendak Check Up itu Syaqilla dan yang membuatnya terkejut Syaqilla datang dengan Arrash.


"Silahkan duduk" ucap dokter Anita.


"Baik dok" ucap Syaqilla.


Syaqilla duduk dikursi sebrang tempat duduk dokter Anita dan Arrash duduk di sofa.


"Hari ini Check Up pertama kamu ya setelah operasi seminggu yang lalu?" tanya dokter Anita memastikan dan membaca kembalai berkas kondisi kaki Syaqilla.


"Iya dok, ini Check Up pertama saya setelah operasi seminggu yang lalu" jawab Syaqilla.

__ADS_1


"Kalau begitu mari saya periksa" ucap dokter Anita kemudian bangkit dari tempat duduknya.


Syaqilla berjalan kearah branker kemudian duduk disan. Syaqilla melihat dokter Anita yang beberapa kali tertangkap oleh Syaqilla sedang memperhatikan Arrash.


'Apa dokter Anita menyukai mas Arrash ya? Tapi bukannya mereka itu sahabat?" tanya Syaqilla dalam hati.


"Apa kakimu masih sering terasa nyeri?" tanya dokter Anita.


"Sudah tidak nyeri seperti pertama kali dipasang gips dok" ucap Syaqilla.


Dokter Anita mengangguk kemudian memegang kaki Syaqilla yang dilapisi gips, ia memeriksa keadaan kaki pasiennya itu.


"Kondisi kaki kamu lebih baik dari saat hari terakhir kamu dirumah sakit" ucap dokter Anita.


"Benarkah dok. Apa saya akan segera bisa berjalan seperti biasanya?" tanya Syaqilla.


"Tentu saja bisa. Setelah 3 bulan masa pemasangan gips maka gips akan dibuka dan kamu bisa berjalan dengan normal lagi" jawab dokter Anita.


"Karena kondisi kaki kamu sangat baik maka Check Up selanjutnya kamu tidak perlu datang seminggu sekali, kamu cukup datang sebulan sekali saja. Saya akan memberikan resep obat untuk keperluan satu bulan kedepan" sambung dokter Anita.


"Apa saya boleh bekerja dok? Maksudnya sayakan kerja sebagai pengajar, apa boleh saya melakukannya? Apa itu tidak beresiko pada kaki saya?" tanya Syaqilla sembari menjelaskan.


"Tentu saja boleh. Aktifitaslah seperti biasa asalkan jangan yang berat seperti kamu naik turun tangga itu akan membuat kaki kamu letih dan beresiko terjatuh yang akan memperparah kondisi kaki kamu yang retak itu" ucap dokter Anita.


"Terimakasih banyak dok sarannya, senang bisa berkonsultasi dengan anda" ucap Syaqilla.


"Iya sama-sama" Ucap dokter Anita.


Dokter Anita menuliskan resep obat untuk Syaqilla dan segera memberikannya.


"Obatnya harus rutin diminum ya" ucap dokter Anita.


"Baik dok sekali lagi terimakasih. Saya permisi" ucap Syaqilla.


"Iya Silahkan" ucap dokter Anita.


Arrash yang sejak tadi hanya menyimak dan memperhatikan interaksi Syaqilla dan dokter Anita segera bangkit menyusul Syaqilla yang sudah berada didekat pintu.


"Arrash aku ingin bicara denganmu" ucap dokter Anita menghentikan langkah kaki Arrash.


"Bicaralah" ucap Arrash dingin.


"Tapi hanya berdua" ucap dokter Anita melirik pada Syaqilla.


Syaqilla yang paham isyarat itu segera berkata.


"Mas Arrash bicaralah aku hendak menebus obat, kita bertemu di Apotek saja" ucap Syaqilla.


"Baiklah tunggu aku diapotek" ucap Arrash.


Syaqilla mengangguk kemudian berlalu.


"Cepatlah apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Arrash.


"Arrash apa kamu menghindariku? Kenapa?" tanya dokter Anita.


"Apa kamu tidak menyadari kesalahmu Anita?" Arrash balik bertanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2