Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 29 Menampung Mantan Istri Tunangan


__ADS_3

"Kenapa aku harus bicara dulu padamu?" tanya Rahayu.


Hahh.


Yogi menghela nafas kasar.


"Apa kamu tidak pernah merasakannya?" tanya Yogi.


Rahayu semakin bingung dengan pertanyaan dari Yogi.


"Maksudnya?" tanya Rahayu.


"Apa kamu tidak pernah menganggap kalau aku ingin lebih dekat denganmu?" tanya Yogi.


Deg.


Rahayu terkejut dengan penuturan Yogi itu.


"Apa pak Yogi menyukai saya?" tanya Rahayu.


"Seharusnya kamu bisa merasakannya tanpa aku bicara lebih dulu Yu" jawab Yogi.


"Mana saya tahu apa yang anda rasakan bila anda tidak bicara lebih dulu pak" ucap Rahayu acuh.


"Rahayu aku menyukaimu, jadi mulai sekarang apa yang akan kamu lakukan bicaralah lebih dahulu padaku, jangan anggap aku orang lain, anggap aku calon suamimu" ucap Yogi.


"Ca-calon suami?" tanya Rahayu tergagap.


"Iya, mulai hari ini aku adalah calon suamimu Rahayu" ucap Yogi tegas.


"Tidak, saya tidak mau anda menjadi calon suami saya. Anda terlalu dingin, aku tidak menyukai pria yang dingin" ucap Rahayu menolak.


"Aku akan berubah yu demi kamu. Ingat semuanya demi kamu jadi tolonglah terima aku" ucap Yogi.


Rahayu terdiam sejenak, kemudian berbicara.


"Akan saya usahakan pak" ucap Rahayu.


"Baiklah kalau begitu izinkan aku untuk mengantarkanmu pulang sehabis kerja ini" ucap Yogi.


"Tidak perlu pak saya bisa pulang sendiri" ucap Rahayu.


"Tidak ada penolakan, aku tetap akan mengantarmu pulang aku ingin bertemu dengan orang tuamu" ucap Yogi.


"Terserah anda saja pak" ucap Rahayu pasrah.


"Baiklah selamat bekerja" ucap Yogi sembari tersenyum.


Tapi ucapannya justru tidak ditanggapi oleh Rahayu.


...****************...


Dirumah sakit.


Riana sudah diperbolehkan pulang. Saat ini Alika dan Fikri tengah membereskan barang-barang mereka selama tinggal dirumah sakit untuk merawat Riana.


"Apa kalian akan pulang kerumah?" tanya bu Fatimah.

__ADS_1


"Iya bu, Riana akan aku bawa pulang kerumah kita" ucap Fikri.


"Apa kamu tidak ingin pulang kerumah ayah?" tanya Farhan.


"Lain kali saja ayah kami akan berkunjung kerumahmu" ucap Fikri.


"Baiklah kalau begitu, ayah masih butuh 2 hari lagi untuk dirawat disini" ucap Farhan.


"Iya ayah, aku akan menjemputmu saat ayah sudah diperbolehkan pulang" ucah Fikri.


"Iya nak" ucap Farhan.


Farhan merasa bersyukur hubungannya dengan istri dan sang anak sudah membaik, mereka sama-sama memaafkan masa lalu.


Fikri akhirnya membawa Riana kerumahnya dan Alika hanya mengantarkan saja.


Lepas dari rumah Fikri, Alika akan keluar dari rumah orang tuanya yang jahat itu.


Alika tiba dirumah dan segera membereskan semua pakaian dan kebutuhan untuknya dan Riana.


"Apa yang kamu lakukan Alika?" tanya cheline sang mamah.


"Aku akan keluar dari rumah ini mah" jawab Alika.


"Tidak. Kamu tidak boleh keluar dari rumah ini Alika" cegah Cheline.


"Aku tetap akan keluar dari sini dengan atau tanpa seizin mamah dan papah!" ucap Alika tegas.


Alika kemudian bergegas keluar dari kamarnya.


"Alika berhenti!" teriak Cheline.


"Alika, berani kamu keluar dari rumah ini kamu tidak lagi menjadi anakku!" teriak Cheline.


Alika menghentikan langkahnya kemudian membalikan tubuhnya.


"Aku tidak perduli lagi dengan apa yang mamah ucapkan. Aku sudah muak selalu kalian atur, bahkan tentang cinta dan perasaanku harus kalian atur. Aku tidak perduli kalian tidak menganggapku sebagai anak lagi, aku juga tidak perduli jika aku tidak mendapatkan warisan dari kalian" ucap Alika dengan tegas.


Alika membuka tasnya kemudian mengeluarkan dompetnya.


"Aku kembalikan semua fasilitas yang kalian berikan" ucap Alika kemudian meletakan beberapa kartu debit dan kredit serta kunci mobil.


Alika kemudian pergi tanpa mengindahkan teriakan mamahnya lagi.


...****************...


Syaqilla mengajar seperti biasanm, bedanya saat ini kakinya masih digips yang mempersulitkan dia untuk berjalan.


Syaqilla sudah keluar dari kelas, jam mengajarnya juga sudah habis.


Sesaat ia hendak keluar dari kampus, ia dikejutkan dengan kehadiran Alika disana dengan membawa 2 koper besar.


"Mba Alika" Panggil Syaqilla.


Alika menoleh.


"Syaqilla" Alika memeluk Syaqilla sembari menangis.

__ADS_1


"Ada apa mba?" tanya Syaqilla.


Alika menggeleng dan masih menangis.


"Kita duduk dulu dicafe ya mba, sepertinya mba Alika sedang banyak masalah" ucap Syaqilla.


Mereka Akhirnya duduk dicaffe yang terletak di sebrang kampus.


"Ada apa mba?" tanya Syaqilla lagi.


"Aku pergi dari rumah orang tuaku Syaqilla. Aku muak dengan mereka yang selalu mengatur hidupku, bahkan mereka juga mengatur perasaan dan cintaku" ucap Alika.


"Lalu mba Alika mau kemana setelah pergi dari rumah orang tua mba Alika?" tanya Syaqilla.


Alika menggeleng.


"Begini saja mba, untuk sementara mba Alika tinggal dirumah ku ya" ucap Syaqilla.


"Apa tidak akan merepotkanmu Syaqilla" tanya Alika.


"Tidak merepotkan mba, aku senang bisa membantu mba Alika" jawab Syaqilla.


Alika mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita pulang kerumahku mba" ajak Syaqilla.


Alika mengangguk lagi, mereka akhirnya pulang kerumah Syaqilla menggunakan taksi.


Setibanya dirumah Syaqilla, Alika bergegas membantu pekerjaan rumah.


"Mba Alika tidak perlu seperti itu, anggap saja ini rumah mba Alika juga. Mba Alika jangan sungkan" ucap Syaqilla.


"Tidak apa-apa Syaqilla, anggap saja ini bentuk ucapan terima kasih ku karena kamu mau menampung mantan istri tunanganmu" ucap Alika.


Mendengar penuturan Alika, Syaqilla tersenyum getir.


Syaqilla ikhlas membantu Alika yang kebetulan adalah mantan istri tunangannya.


Tapi disisi lain iya juga merasakan nyeri saat tahu Fikri masih mencintai mantan istrinya itu.


"Apa mba Alika masih mencintai mas Fikri?" tanya Syaqilla.


Alika tersentak dengan pertanyaan Syaqilla.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Syaqilla?" tanya Alika.


"Tidak apa-apa mba, aku hanya ingin tahu perasaan mba Alika pada mas Fikri saja" jawab Syaqilla.


"Memang benar aku masih mencintai mas Fikri, tapi aku sadar Syaqilla aku tidak bisa membuatnya bahagia. Dia akan bahagia bersamamu orang yang saat ini ia cintai. Aku juga bahagia bila mas Fikri juga bahagia" ucap Alika.


"Mba Alika salah bila bicara seperti itu. Mas Fikri masih mencintai mba Alika, rasa cintanya padaku tidak sebesar cintanya pada mba Alika. Walaupun ada wanita lain yang mengisi diruang hatinya, tapi percayalah hati mas Fikri masih untuk mba Alika dan tidak bisa tergantikan. Mas Fikri hanya menginginkan mba Alika, jadi kembalilah padanya aku akan mengalah" ucap Syaqilla sedih.


"Tidak Syaqilla, aku tahu kamu baik tapi tidak seharusnya kamu mengorbankan perasaanmu agar aku dan mas Fikri bisa kembali" ucap Alika penuh penolakan.


"Tidak mba, aku sudah memikirkan ini baik-baik. Dan mungkin ini adalah yang terbaik untuk kita semua. Mungkin saja aku dan mas Fikri belum berjodoh dan Insya Allah aku akan mendapatkan jodoh yang sesungguhnya" ucap Syaqilla.


"Tidak Syaqilla aku tidak mau" ucap Alika kemudian berlari kekamar yang sudah Syaqilla berikan padanya selama tinggal dirumah itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2