
"Apa operasinya berjalan lancar?" tanya Yogi sang sahabat sekaligus bawahannya dikantor.
Arrash masih diam, sejak tiba dikantor setengah jam yang lalu Arrash selalu diam dan itu cukup membuat Yogi penasaran.
"Ada apa lagi Rash? ceritalah padaku" ucap Yogi.
"Aku mencintai seseorang Yog" ucap Arrash lirih.
"Alhamdulillah, berarti kamu bisa menikah dengan gadis yang kamu cintai" ucap Yogi senang.
Tapi melihat raut wajah Arrash membuat Yogi heran kenapa sahabatnya itu justru sedih.
"Kenapa kamu malah terlihat sedih?" tanya Yogi.
"Masalahnya aku tidak bisa memiliki dia Yog" lirih Arrash lagi
"Kenapa tidak bisa dimiliki?" Tanya Yogi tapi Arrash diam.
"Apa dia sudah tua?" tanya Yogi.
Arrash menggeleng.
"Apa dia janda?" tanya Yogi.
Arrash menggeleng.
"Apa dia sudah menikah?" tanya Yogi.
Arrash menggeleng lagi.
"Apa dia seorang pria?" tanya Yogi lagi.
Pletak.. Kening Yogi justru dijitak oleh Arrash.
"Enak saja kalau bicara, aku ini pria normal Yog" ucap Arrash kesal.
"Ya terus kenapa kamu sedih, aku tanya sedari tadi tapi kamu hanya menggeleng" ucap Yogi juga kesal.
"Oke aku jawab semua pertanyan kamu. Dia masih muda, dia seorang gadis, dan dia belum menikah" ucap Arrash.
"Lalu apa lagi yang membuatmu sedih?" tanya Yogi lagi.
"Dia sudah bertunangan dan mereka saling mencintai" ucap Arrash.
"Apa aku mengenal gadis itu?" tanya Yogi penasaran.
Arrash menggeleng.
"Tidak. Aku juga baru dua hari mengenalnya" ucap Arrash.
"What! Baru kenal dua hari dan kamu sudah bilang mencintainya" ucap yogi terkejut.
"Aku bertemu dengan gadis itu kemarin, aku jatuh cinta saat pandangan pertama dan gadis itu adalah korban terserempet aku kemarin" ucap Arrash.
"Apa kamu merasakan jantung berdebar saat didekatnya atau melihatnya" tanya Yogi.
Arrash mengangguk.
"Apa kamu meraskan ingin selalu berada didekatnya dan membahagiakannya?" tanya Yogi.
Arrash mengangguk.
"Apa kamu merasakan cemburu saat dia bersama dengan pria lain?" tanya Yogi lagi.
"Iya aku cemburu saat melihat dia bersama calon suaminya" lirih Arrash.
"Apa kamu tidak ingin memperjuangkanya?" tanya Yogi lagi.
__ADS_1
"Mereka terlihat saling mencintai, aku tidak ingin merusak kebahagiaannya" lirih Arrash lagi.
"Kalau begitu kamu harus segera menjalin hubungan dengan wanita lain, agar cintamu terhadap gadis itu tidak semakin besar" ucap Yogi lagi.
"Namanya Syaqilla yog! Bukan gadis itu!" ucap Arrash memperingati.
"Iya iya Rash kan aku belum tahu namanya" ucap Yogi seraya nyengir kuda.
"Aku tidak yakin bisa Yog. Seumur hidup aku baru satu kali jatuh cinta dan itu pada Syaqilla entah kenapa hatiku memilih dia" ucap Arrash semakin lirih.
"Sabar Rash" ucap Yogi menenangkan.
...****************...
Dirumah Arrash.
Mamah Novi telah kembali dari mengantar Nadia.
"Sudah pulang mah?" tanya papah Ridwan yang sedang duduk disofa ruang tamu.
"Iya pah baru saja" jawab mamah Novi.
"Duduk dulu mah" titah papah Ridwan.
Mamah Novi mengangguk dan segera duduk.
"Papah berencana ingin menjalankan surat wasiat papah Jaya mah. Menurut mamah apa Arrash sudah mampu mengemban tanggung jawab itu?" tanya papah Arrash.
"Mamah yakin Arrash mampu pah. Tapi bagaimana nanti dengan Rizki dan Ghina pah, apa mereka tidak keberatan posisinya akan berada dibawah Arrash?" ucap mamah Novi seraya bertanya.
"Sesuai dengan surat wasiat papah Jaya, kalau Perusahaan akan dipegang olehku, kampus oleh Rizki, dan Rumah Sakit oleh Ghina apa bila mereka memiliki keturunan. Tapi hingga sekarang Rizki tidak memiliki keturunan dan Ghina justru bercerai dengan suaminya hanya Arrash lah cucu satu-satunya dikeluarga ini, Rizki dan Ghina pasti juga mengerti dengan isi surat wasiat dari papah Jaya" ucapa papah Ridwaan.
"Kalau mamah sih terserah papah ajalah mamah akan setuju" jawab mamah Novi.
"Nanti kita bicarakan lagi bersama Arrash, Rizki, dan Ghina" ucap papa Ridwan.
...****************...
Ditempat yang berbeda dirumah Nadia.
Nadia mengirim pesan kepada Arrash.
'Arrash akhir pekan kita kencan yuk' pesan terkirim.
Nadia menunggu balasan Arrash pada pesan itu.
Namun sudah menunngu 1 menit, 10 menit, 1 jam, 2 jam namun pesan itu tidak dibalas oleh Arrash, bahkan tidak kunjung dibuka.
Huh.. Nadia menghela nafas kasar.
"Apa kamu benar-benar tidak tertarik denganku Arrash?" Gumam Nadia bertanya sendiri.
Tok tok tok
"Sayang ini mamah nak" ucap Mona mamahnya Nadia.
"Masuk mah tidak dikunci" sahut Nadia dari dalam kamar.
"Apa hubungan kamu dan Arrash ada perkembangan?" tanya mamah Mona seraya menghampiri Nadia.
"Hubungan apa mah, bahkan Arrash sama sekali tidak berminat memiliki hubungan denganku" lirih Nadia.
"Apa kamu mau perjodohan ini dilanjutkan?" tanya mamah Mona sembari duduk ditepi ranjang Nadia.
"Entahlah mah, aku tidak mau memaksa Arrash. Dengan dilanjutkannya perjodohan ini pasti membuat Arrash terpaksa. Aku hanya ingin menikah dengan laki laki yang aku cintai dan mencintai aku mah" ucap Nadia.
"Oke mamah tidak akan memaksa. Mamah juga akan membicarakan pembatalan perjodohan ini dengan mamahnya Arrash, tante Novi" ucap mamah Mona.
__ADS_1
"Iya mah, itu lebih baik" ucap Nadia.
...****************...
Dikantor.
Arrash masih setia curhat dengan Yogi, dia benar-benar tidak bisa fokus bekerja.
Terdengar bunyi notifikasi diponsel Arrash tapi Arrash mengabaikannya.
Pukul 4 sore ponsel Arrash berbunyi dan kali ini panggilan telepon.
Arrash melihat yang menelpon itu adalah Anita, dengan malas Arrash mengangkat sambungan teleponnya.
"Hallo Arrash" sapa Anita lebih dulu.
"Ya" jawab Arrash singkat.
"Malam ini apa aku boleh berkunjung kerumahmu? Aku merindukan tante Novi dan om Ridwan, selama aku kembali kejakarta aku belum pernah bertemu dengan mereka" ucap Anita.
"Iya datang lah" ucap Arrash singkat.
"Terimakasih Arrash, aku senang sekali" ucap Anita senang.
"Aku tutup" ucap Arrash dan langsung menutup panggilan teleponnya.
"Siapa? Sepertinya aku mengenal suaranya. Apa itu Anita?" tanya Yogi pada Arrash.
"Malam ini aku tidur diapartementmu Yog" ucap Arrash.
"What! Apartementku bukan tempat penampungan Arrash Akbar yang terhormat!" kesal Yogi.
"Terserah, yang pasti aku akan tidur disana" ucap Arrash yang hanya dijawab gerutuan oleh Yogi.
...****************...
Pukul 5 sore Anita pulang dari rumah sakit dalam keadaan bersemangat, dia sudah tak sabar pergi kerumah Arrash.
Pukul 6 sore Anita keluar dari apartementnya dan bergegas kerumah Arrash.
Pukul setengah 7 Anita tiba dirumah Arrash.
Anita memencet bell rumah Arrash dan keluarlah seorang pelayan yang biasa dipanggil bi Asih membukakan pintu.
"Cari siapa neng" tanya bi Asih.
"Arrashnya ada ?" tanya Anita.
"Mas Arrash belum datang masih dikantornya" ucap bi Asih.
"Kalau tante Novi dan om Ridwan ada?" tanya Anita.
"Ouh, kalau ibu sama bapak mah ada. Mari silahkan masuk" ucap bi Asih mempersilahkan.
Anita masuk kerumah Arrash dan duduk disofa ruang tamu.
Anita memperhatikan sekeliling ruangan itu tidak banyak yang berubah meski sudah 12 tahun dia tidak berkunjung.
Hanya dekorasi rumah berubah, foto-foto yang dipajangpun berubah.
Deg.
Dada Anita sesak mengetahui dirumah Arrash sudah tidak ada lagi kenangan foto kebersamaannya dengan Arrash saat kecil.
'Aku tahu kamu tidak pernah mencintai aku Arrash, tapi kenapa foto kebersamaan kita saat kecil kamu tidak menyimpannya juga, seolah-olah itu tidak berarti untukmu' batin Anita penuh sesak.
...****************...
__ADS_1