Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 23 Pengintai


__ADS_3

"Tunggu mas Arrash" ucap Syaqilla.


Arrash mengurungkan niatnya untuk melanjutkan menutup kaca jendela mobil.


"Tunggu mas Arrash, maaf atas ucapan saya tadi pagi. Untuk permintaan maaf tersebut saya mengundang mas Arrash untuk makan malam dirumah bagaimana?" ucap Syaqilla kemudian bertanya.


Arrash tampak berfikri sejenak kemudian mengangguk.


Arrash turun dari mobilnya.


"Ayo mas kita kerumah" ajak Syaqilla.


Syaqilla berjalan lebih dulu dengan kaki yang tertatih dan masih menggunakan tongkat.


Arrash akhirnya berjalan mengikuti Syaqilla dari belakang.


"Besok kan jadwal kamu Chek up?" tanya Arrash.


"Iya mas besok" jawab Syaqilla.


"Pukul 8 pagi aku akan menjemputmu, aku yang akan mengantarmu" ucap Arrash.


"Baik mas" ucap Syaqilla.


Mereka telah sampai diteras rumah Syaqilla.


"Mas Arrash duduk disini saja ya tidak enak kalau didalam tidak ada siapa-siapa dirumah ini takut timbul fitnah" ucap Syaqilla.


"Tidak masalah" ucap Arrash yang kemudian duduk.


"Sebentar mas aku ambilkan minuman dan cemilan dulu" ucap Syaqilla.


"Tidak perlu Syaqilla lebih baik kamu duduk saja" cegah Arrash.


"Kita makan malam sekarang saja ya mas, tidak apa-apakan masih pukul setengah 5" ucap Syaqilla.


"Iya tidak apa apa, lagi pula aku sudah lapar. Kalau begitu aku saja yang pesan makanannya" ucap Arrash.


"Loh ko mas Arrash yang pesan makanannya, kan aku yang mengundang mas Arrash makan malam seharusnya aku juga yang memesannya" ucap Syaqilla.


"Tidak apa-apa, lagi pula kamu tidak membawa ponsel kemari terus kalau mau pesan harus masuk kedalam rumah dulu itu akan memakan waktu lebih lama" ucap Arrash.


"Baiklah mas, lain kali aku yang akan traktir mas Arrash" ucap Syaqilla.


"Kalau begitu akan aku tagih janjimu ya Syaqilla he he" ucap Arrash sembari bercanda dan tertawa.


Syaqilla juga ikut tertawa, kini mereka sudah tidak canggung lagi.


Arrash segera memesan makanan via online.


Sembari menunggu makanan datang Arrash dan Syaqilla saling mengobrol, melempar candaan dan tatapan, mereka sama-sama merasa nyaman.


'Ya Allah sepertinya cintaku untuk mas Fikri perlahan berganti pada mas Arrash. Apa itu artinya perasaan aku ini telah menghianati mas Fikri' batin Syaqilla.


15 menit menunggu akhirnya makanan yang dipesan datang.


"Ayo dimakan" ucap Arrash membuka kotak makanan.


"Iya mas" ucap Syaqilla.


Mereka makan bersama tanpa ada yang berbicara.


Setelah makan mereka kembali berbincang.

__ADS_1


Tidak terasa waktu menunjukan pukul 6 sore, berarti Arrash dirumah Syaqilla sudah 1 jam setengah.


Arrash segera pamit.


"Aku pulang ya besok aku akan menjemputmu" ucap Arrash.


"Iya mas Arrash" ucap Syaqilla.


"Oh iya aku belum punya nomor ponselmu" ucap Arrash sembari menyodorkan ponselnya.


Syaqilla menerima ponsel Arrash dan segera mengetikkan nomornya tanpa diberi nama.


"Ini mas" ucap Syaqilla sembari menyerahkan kembali ponsel Arrash.


"Kalau begitu aku pulang Syaqilla, sampai jumpa besok. Assalamualaikum" ucap Arrash.


"Waalaikumsalam mas Arrash" ucap Syaqilla.


Arrash kemudian pergi dari rumah Syaqilla.


Tanpa sepengetahuan Arrash dan Syaqilla mereka sudah diawasi oleh asisten pak Rudi bernama Rimba.


"Hallo bos" ucap Rimba.


"Iya hallo, ada informasi apa untukku?" tanya Rudi.


"Setelah Arrash keluar dari kantor anda, dia mendatangi seseorang bernama Syaqilla dirumahnya. Syaqilla ini gadis yang sudah bertunangan dengan Fikri" ucap Rimba menjelaskan.


"Awasi saja terus apa yang dilakukan Arrash dan keluarga Wijaya" ucap Rudi.


"Baik pak" ucap Rimba.


Panggilan terputus.


...****************...


Esok hari tiba.


Hari ini jadwal Syaqilla untuk check up.


Setengah delapan Arrash sudah tiba didepan rumah Syaqilla namun ia tidak mengetuk pintu.


Arrash hanya duduk dikursi teras rumah kemudian mengirim pesan pada Syaqilla.


'Aku sudah tiba didepan rumahmu' from Arrash.


'Tunggu sebentar mas aku masih bersiap' from Syaqilla.


'Iya' from Arrash.


Arrash kemudian menghubung Yogi.


"Yog, aku akan terlambat datang kekantor" ucap Arrash.


"Apa kamu jadi menemani Syaqilla Check up?" tanya Yogi.


"Iya, aku menemani Syaqilla Check up" jawab Arrash.


"Jam berapa kamu datang kekantor?" tanya Yogi.


"Entahlah, yang pasti setelah ini" ucap Arrash.


"Kalau bisa sebelum jam 11 ya. Jam 11 kita ada pertemuan dengan pak Cristian" ucap Yogi.

__ADS_1


"Aku usahakan" ucap Arrash kemudian panggilan terputus.


Arrash memasukan kembali ponselnya kedalam saku jas.


Arrash duduk diteras rumah sembari mengedarkan pandangannya kesekitar rumah.


Dia melihat ada seseorang yang memperhatikannya dari kejauhan.


"Sejak kapan orang itu memperhatikanku" gumam Arrash.


Arrash kemudian bersembunyi diantara rimbunnya bunga dihalaman rumah Syaqilla, kemudian ia bergegas memanjat pohon mangga yang terletak tidak jauh dari tempat ia sembunyi.


Arrash memperhatikan orang tersebut dari atas pohon.


"Kemana tadi perginya Arrash? Apa dia masuk kedalam rumah ya?" tanya Rimba sendiri ia masih bertahan ditempat untuk mengawasi Arrash.


Arrash masih memperhatikan orang itu dari atas pohon.


Dia pernah mendengar suara orang itu tapi entah dimana Arrash tidak ingat.


Arrash juga familiar dengan postur tubuh pria itu tapi sayang pria itu menggunakan masker dan topi untuk menutup wajahnya.


'Aku harus memastikan siapa pria itu, dan apa maksudnya dia mengintaiku' batin Arrash.


Arrash melompat dari atas pohon dan mendarat tepat didepan Rimba.


Arrash segera memukul Rimba secara bertubi-tubi dan sulit dihindari.


Rimba akhirnya tersungkur ketanah.


Arrash membuka topi dan maskernya sehingga terlihat jelas wajah Rimba yang sudah lebam karena pukulan Arrash.


"Ck, rupanya kamu. Apa Rudi Pratama yang memerintahkanmu mengintaiku?" tanya Arrash kemudian.


"Ma-maaf, aku tidak bermaksud untuk mengintai. Aku hanya menjalankan perintah darinya" jawab Rimba.


"Apa tujuan dia memintamu mengintaiku?" tanya Arrash.


"Sa-saya tidak tahu, saya hanya diminta memberikan informasi apa saja yang anda lakukan" jawab Rimba.


"Aku akan melaporkanmu kepolisi" ucap Arrash kemudian menyeret Rimba masuk kedalam mobilnya.


Arrash bergegas membawa Rimba kekantor polisi terdekat.


Setibanya disana Rimba diseret oleh Arrash masuk kedalam kantor polisi.


"Selamat pagi pak, saya hendak membuat laporan" ucap Arrash.


"Pagi juga. Silahkan pak isi formulir laporannya kemudian anda ceritakan kronologinya" ucap Polisi tersebut bernama Harun.


"A-Arrash, Eh pak Arrrash saya mohon jangan laporkan saya. Saya tidak ingin dipenjara" ucap Rimba.


"Ini konsekuensimu berani berurusan denganku" ucap Arrash.


"Saya berjanji pak Arrash, tidak akan mengintai anda lagi. Atau bisa juga saya bekerja dengan anda untuk menghianati pak Rudi" tawar Rimba


...**************************************************...


Terimakasih yang sudah menyimak😍


Baca juga novel karya keduaku judulnya "Menikahi Putri Kaya"


Salam kenal untuk semua pembaca dari Author tersayang 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2