Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 19 Arrash Kecewa


__ADS_3

Arrash masuk kedalam kamarnya kemudian membersihkan diri.


10 menit kemudian Arrash keluar dari dalam kamar mandi.


Setelah berpakaian Arrash segera merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Ia tersenyum mengingat makan malam bersama Syaqilla tadi.


"Hanya dengan makan malam bersamamu saja aku sudah merasa bahagia" gumam Arrash.


"Semoga saja kita ditakdirkan untuk bersama" sambung Arrash lagi.


Tak lama kemudian Arrash memejamkan matanya dan terlelap.


...****************...


Dirumah sakit.


Setelah menerima donor darah kondisi Farhanzah semakin membaik, ia telah melalui masa kritisnya dan sudah dipindahkan keruang perawatan.


"Papah dan mamah pulanglah aku yang akan merawat mas Farhan disini" ucap Fatimah.


"Apa kamu tidak keberatan jika kami tinggal pulang" tanya oma Laras.


"Tidak mah, aku akan merawat mas Farhan dengan tulus" jawab bu Fatimah.


"Kalau begitu mamah dan papah pulang dulu ya besok pagi kami akan datang kemari dan bergantian merawat Farhan dengan mu Fatimah" ucap oma Laras.


"Iya mah" ucap bu Fatimah.


Oma Laras dan opa Ferdi akhirnya pergi dari rumah sakit dan pulang kerumah mereka.


Mereka bersyukur dalam kondisi seperti ini Allah masih sayang dengan mereka. Mereka dipertemukan dengan Fatimah dan Fikri setelah sekian lama mencarinya.


Disisi lain rumah sakit ada Fikri dan Alika sedang menjaga Riana yang sedang terbaring lemah.


"Apa kamu sudah makan?" tanya Fikri pada Alika.


"Belum mas" jawab Alika.


"Kalau begitu aku akan mencari makanan dulu" ucap Fikri kemudian bangkit dan keluar dari rumah sakit.


20 menit berlalu Fikri kembali keruang rawat Riana dengan membawa kantong keresek berisi makanan.


Mereka duduk disofa yang ada diruangan itu.


"Makanlah yang banyak kamu terlihat semakin kurus" ucap Fikri perhatian sembari menyodorkan makanan untuk Alika.


Namun perhatian Fikri itu justru malah membuat Alika menangis.


"Hei kenapa kamu menangis?" tanya Fikri.


"Tidak apa-apa mas" jawab Alika.


"Maaf, aku tidak pernah ada disaat Riana sakit dan kamu harus merawatnya seorang diri" ucap Fikri.


Fikri menghapus air mata Alika dengan kedua jempol tangannya.


Alika menggeleng.


"Tidak mas. Ini semua bukan salahmu, aku saja yang tak berdaya melawan kedua orang tuaku. Aku takut jika menentang perintah itu akan membuat kamu dalam masalah. Mereka selalu mengancam akan memenjarakan kamu bila aku tidak mengikuti perintahnya termasuk perceraian kita dan hak asuh Riana" ucap Alika semakin menangis.

__ADS_1


Melihat Alika menangis entah kenapa ada sesak didadanya.


'Ada apa dengan diriku kenapa hatiku sakit saat melihat Alika menangis. Apakah aku masih mencintainya? Tapi, bukankah aku sangat mencintai Syaqilla' batin Fikri.


Hati Fikri bergejolak dia pikir dia telah melupakan Alika dan mencintai Syaqilla namun itu semua hanya dalam pikirannya saja sedangkan hatinya berkata tidak.


Fikri membawa Alika kedalam pelukannya.


"Alika, aku tahu kamu tidak bersalah. Kamu lakukan semua itu juga untuk aku untuk kebaikan kita semua" ucap Fikri menenangkan Alika.


"Aku berjanji saat nanti hak asuh Riana jatuh padaku, aku tidak akan membatasi kamu untuk bertemu Riana"


Riana yang terbaring lemah diatas brangkerpun tersenyum. Dia sangat bahagia melihat kedua orang tuanya bersama.


Alika mengangguk.


Fikri mengurai pelukannya pada Alika dan mengusap air mata Alika.


"Kamu sekarang makan yang banyak ya. Kita butuh energi untuk menghadapi hubungan kita yang rumit ini" ucap Fikri.


Alika mengangguk lagi seraya tersenyum.


Mereka makan malam bersama sembari Alika bercerita tentang perkembangan anak mereka.


...****************...


Pagi tiba.


Arrash terbangun pukul setengah 6 pagi kemudian ia bergegas membersihkan diri untuk berangkat kekantor.


Namun sebelum berangkat kekantor ia hendak mengunjungi Syaqilla terlebih dahulu.


Arrash telah siap kemudian bergegas kemeja makan untuk sarapan.


"Loh kamu tidak tunggu mamah dan papah, kita bisa sarapan bersama" tanya mamah Novi.


Pasalnya ini masih pukul 6 pagi dan Arrash sudah hendak sarapan.


"Tidak mah, Arrash buru-buru" ucap Arrash.


"Ya sudah kalau begitu, kamu sarapan yang banyak" ucap mamah Novi.


"Iya mah" ucap Arrash.


Menu sarapan telah siap dihidangkan dan mamah Novi kembali kekamar untuk membangunkan sang suami.


Arrash sarapan sendiri dimeja makan dengan ditemani para ART yang sedang melakukan pekerjaannya.


"Bi Asih tolong siapkan aku bekal ya" pinta Arrash sopan.


Meskipun Arrash majikan dirumah ini namun dia tetap berprilaku sopan pada setiap orang yang lebih tua tanpa memandang status sosialnya.


"Baik mas Arrash" ucap bi Asih.


"Mau disiapkan bekal dengan apa?" tanya bi Asih lagi.


"Ini saja bi menu yang ada dimeja makan" ucap Arrash.


"Ya sudah tunggu sebentar bibi siapkan" ucap bi Asih.


Arrash mengangguk kemudian melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Sarapan selesai bersamaan bekal yang sudah disiapkan bi Asih.


"Ini mas Arrash bekalnya" ucap bi Asih sembar menyodorkan tempat bekal.


"Terimakasih bi" ucap Arrash menerima.


Arrash bangkit sembari membawa piring dan gelas kotor kemudian ia basuh.


Setelah selesai iya bergegas pamit kepada kedua orang tuanya.


Tok tok tok


"Mah, pah Arrash pamit berangkat kekantor" ucap Arrash.


Ceklek.


Pintu kamar dibuka oleh papah Ridwan yang baru bangun tidur.


"Pagi sekali kamu berangkat kekantornya?" tanya papah Ridwan.


"Iya pah ada urusan penting" ucap Arrash.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya papah Ridwan.


"Sudah pah, Arrash berangkat ya pah" jawab Arrash.


"Ya sudah kamu hati-hati" ucap papah Ridwan.


"Iya pah" ucap Arrash.


Fikri bergegas berangkat kerja. Tak lupa juga Arrash mampir kerumah Syaqilla untuk membawakan sarapan.


Tok tok tok


"Iya sebentar" ucap Syaqilla dari dalam rumah.


Ceklek.


"Mas Arrash ada apa pagi-pagi datang kemari?" tanya Syaqilla.


"Ini sarapan untukmu, habiskan ya" ucap Arrash sembari menyodorkan tempat bekalnya.


"Tidak perlu repot-repot mas" ucap Syaqilla.


"Tidak merepotkan, ini ambillah" ucap Arrash.


"Baiklah terimakasih" ucap Syaqilla.


Arrash mengangguk kemudian melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat Syaqilla berbicara.


"Mas Arrash tunggu sebentar ada yang ingin aku bicarakan" ucap Syaqilla.


Arrash menghentikan langkahnya kemudian berbalik.


"Duduk dulu mas" ucap Syaqilla mempersilahkan Arrash duduk di kursi teras rumah.


"Ada apa?" tanya Arrash.


"Begini mas, sebelumnya aku benar-benar berterimakasih mas Arrash sudah mau repot-repot kemari mengantarkan aku makanan. Tapi mas untuk kedepannya tidak perlu lagi, saya bisa mencari makanan sendiri. Lagi pula dengan sering datangnya mas Arrash kesini aku khawatir mas Fikri akan salah paham. Saran dari aku lebih baik mas Arrash tidak perlu datang kemari, dan belajar untuk mencari wanita yang bisa mas Arrash cintai" ucap Syaqilla.


Mendengar itu tentu saja Arrash kecewa namun sebisa mungkin ia kendalikan.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya bila kedatanganku membuat kamu tidak nyaman. Aku tadinya sangat berharap kamu bisa perlahan mencintaiku. Tapi aku terlalu naif sampai mengharapkan itu terjadi" ucap Arrash penuh kekecewaan.


...****************...


__ADS_2