Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 15 Membujuk Fikri


__ADS_3

"Mas Farhan ada hal penting yang ingin aku bicarakan?" ucap mamah Novi setelah panggilan itu dijawab.


"Hallo Novi ini mamah" ucap seseorang disebrang telepon.


"Kenapa mamah yang angkat teleponnya. Kemana mas Farhan?" tanya mamah Novi.


"Farhan baru saja mengalami kecelakaan nak, dan masih ditangani oleh dokter, kamu segera datang kerumah sakit" ucap Oma Laras.


"Apa mas Farhan dirumah sakit Jaya Medika?" tanya mamah Novi.


"Iya Novi mamah juga baru tiba disini dan Farhan masih berada diruang ICU keadaannya keritis" ucap Oma Laras.


"Baik mah, kami sekarang akan kesana" ucap mamah Novi.


"Iya sayang kamu hati-hati" ucap Oma Laras.


"Iya mah" ucap mamah Novi kemudian mematikan teleponnya.


"Ada apa mah?" tanya papah Ridwan pada mamah Novi yang terlihat khawatir.


"Papah, Arrash kita harus segera kerumah sakit" ucap mamah Novi.


"Ada apa mah?" kini yang bertanya Arrash.


"Nanti mamah jelaskan dijalan, ayo kita berangkat" ucap mamah Novi.


Merekapun akhirnya berangkat bersama menuju rumah sakit Jaya Medika.


Arrash memilih pergi bersama orang tuanya dengan menggunakan mobil Arrash.


"Ada apa sih mah?" tanya papah Ridwan memecahkan keheningan.


"Mas Farhan kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis" ucap mamah Novi sedih.


Setelah mengetahui penyebab mamah Novi yang terlihat khawatir kini papah Ridwan dan Arrash tidak ada yang membuka suara.


Arrash fokus mengemudi hingga akhirnya mereka tiba dirumah sakit.


Mereka disana sudah disambut dengan raut sedih dan khawatir dari orang tua mamah Novi.


Ada oma Laras, dan opa Ferdi yang berjaga didepan ruang ICU dimana Farhanzah sedang kritis.


"Bagaimana keadaan mas Farhan mah" tanya mamah Novi.


"Kondisinya sedang kritis dan memerlukan banyak darah. Tapi_" ucap oma Laras terpotong, dia tak sanggup untuk mengatakannya.


"Kenapa mah?" tanya mamah Novi lagi.


"Tapi stok darah dirumah sakit ini sedang kosong, papahmu yang memiliki golongan darah sama juga tidak bisa memberikan darahnya karena usia papahmu sudah tidak memungkinkan untuk diambil darahnya" ucap oma Laras pada mamah Novi.


"Lalu dimana kita harus mencari darah untik mas Farhan. Hanya darah papah yang sama dengan mas Farhan dan_" ucap mamah Novi terpotong dia ragu akan mengatakannya.


"Dan apa Novi?" tanya oma Laras.


"Dan anak mas Farhan mah. Iya anak mas Farhan pasti memiliki golongan darah yang sama" ucap mamah Novi.


"Tapikan kami semua tidak tahu keberadaan anak Farhan dimana" ucap oma Laras.


"Aku tahu mah dimana dia sekarang" ucap mamah Novi.

__ADS_1


"Apa maksudmu Novi?" tanya oma Laras.


"Aku sudah menemukan Fatimah dan Fikri anak mas Farhan mah" ucap mamah Novi.


"Benarkah, lalu dimana kamu menemukan mereka Novi?" tanya oma Laras.


"Tadi pagi aku bertemu dengannya" ucap mamah Novi.


"Kalau begitu cepat beritahu dia dan suruh segera kerumah sakit" pinta oma Laras.


"Mungkin akan sulit mah, aku juga tidak yakin bisa membujuknya karena kesalah pahaman yang terjadi diantara Fatimah dan mas Farhan dahulu" ucap mamah Novi.


"Kalau begitu biar Arrash saja mah yang membujuknya" ucap Arrash.


"Tidak sayang, kamu tidak akan berhasil membujuknya" ucap mamah Novi yakin.


"Lalu siapa yang akan membujuknya mah?" tanya Arrash.


"Mamah dan oma Laras yang akan membujuknya. Bagaimana mah?" ucap mamah Novi kemudian bertanya pada oma Laras.


"Mamah setuju" ucap oma Laras pada mamah Novi.


"Kalau begitu Arrash yang akan mengantar kalian, disini biar papah dan opa yang menjaga om Farhan" ucap Arrash.


"Iya" setuju papah Ridwan dan opa Ferdi.


Arrash, mamah Novi dan oma Laras pergi untuk membujuk bu Fatimah dan Fikri agar bersedia menemui Farhan yang sedang kritis.


"Kita akan kemana dulu mah?" tanya Arrash yang sudah melajukan mobilnya.


"Kita kerumah Syaqilla dulu, Fatimah tinggal disana untuk merawat Syaqilla" jawab mamah Novi.


Mereka tiba dirumah Syaqilla pukul 3 sore.


Tok tok tok


Mamah Novi mengetuk pintu rumah Syaqilla.


Ceklek.


Yang membukakan pintu rumah tersebut adalah Syaqilla.


"Syaqilla apa Fatimah ada?" tanya mamah Novi.


"Ada tante mari silahkan masuk, bu Fatimah sedang dihalaman belakang sedang merawat tanaman" ucap Syaqilla.


"Terimakasih" ucap mamah Novi dan oma Laras bersamaan kemudian mereka masuk.


Namun tidak dengan Arrash yang masih tertahan diambang pintu.


Syaqilla jadi canggung dengan Arrash, apalagi saat mengetahui kalau Arrash mencintai dia.


Syaqilla bingung harus bertindak seperti apa, ingn acuh dan pura-pura tidak tahu tapi Syaqilla tidak bisa.


"Mas Arrash ayo masuk juga" ucap Syaqilla mempersilahkan.


Arrash mengangguk kemudian masuk kedalam rumah dan duduk disofa.


"Syaqilla apa boleh tante menghampiri Fatimah?" tanya mamah Novi.

__ADS_1


"Boleh tante silahkan, kalau mau kebelakang pintunya lewat sebelah sini" ucap Syaqilla sembari menunjuk pintu disebelah kiri rumah.


Mamah Novi dan Oma Laras segera kehalaman belakang rumah Syaqilla. Kini hanya tinggal Syaqilla dan Arrash yang berada diruang tamu.


"Apa kakimu sudah membaik?" tanya Arrash pada Syaqilla memulai pembicaraan.


"Kakiku sudah baik-baik saja" jawab Syaqilla.


"Apa mamahku tadi menemuimu?" tanya Arrash.


"Iya" jabaw Syaqilla.


"Apa yang dia bicarakan?" tanya Arrash lagi.


"Maaf mas Arrash lebih baik kamu tanyakan saja pada tante Novi" jawab Arrash.


"Aku sudah menanyakan pada mamah tapi aku ingin juga mendengar darimu" ucap Arrash.


"Mamahmu mengatakan kalau kamu mencintaiku dan meminta aku untuk memberi kesempatan untukmu" ucap Syaqilla.


"Lalu apa tanggapan darimu?" tanya Arrash.


"Tentu saja aku menolak, perasaan itu tidak bisa dipaksakan" jawab Syaqilla.


"Apa kamu sangat mencintai Fikri?" tanya Arrash lagi.


"Tentu saja aku mencintainya kami akan menikah setelah kakiku sembuh" jawab Syaqilla.


Setelah pembicaraan itu Arrash dan Syaqilla saling diam mereka tidak berbicara lagi.


Disisi lain mamah Novi dan oma Laras menghampiri bu Fatimah.


"Fatimah!" seru oma Laras setelah menghampiri bu Fatimah yang sedang memangkas bunga.


"Ma-mamah Laras" ucap bu Fatimah menoleh dan tergagap pasalnya terkejut dengan kehadiran ibu mertuanya itu.


"Fatimah kemana saja kamu nak kami semua mencari mu selama 28 tahun ini terutama Farhan" ucap oma Laras kemudian memeluk bu Fatimah.


"Maafkan aku mah, aku sudah membawa Fikri bersamaku" ucap bu Fatimah.


"Lalu dimana kalian tinggal setelah pergi dari rumah?" tanya oma Laras.


"Kami tinggal di Jogja mah, tapi setelah Fikri masuk kuliah kami pindah kejakarta. Fikri juga sudah pernah menikah namun pernikahannya tidak mendapatkan restu dari orang tua istrinya dan akhirnya mereka berpisah. Dari pernikahan itu Fikri memiliki anak satu" ucap bu Fatimah.


"Fikri sudah punya anak dan aku tidak tahu" ucap oma Laras sedih.


"Maaf mah" ucap bu Fatimah.


"Iya tidak papa. Fatimah apa kamu masih belum bisa memaafkan Farhan?" tanya oma Laras.


"Aku sudah memaafkannya mah, hanya saja untuk kembali bersama mas Farhan aku belum bisa" ucap bu Fatimah.


"Fatimah, saat ini Farhan membutuhkan kamu dan Fikri tadi siang dia kecelakaan" ucap oma Laras.


"Lalu bagaimana kondisinya mah?" tanya bu Fatimah khawatir.


"Kondisinya kritis dan sangat membutuhkan tambahan darah, sedangkan stok dirumah sakit kosong. Fatimah tolong bantu mamah untuk membujuk Fikri, hanya dia yang bisa memberikan darahnya untuk Farhan" pinta oma Laras.


"Iya Fatimah, hanya kamu yang bisa membujuk Fikri. Kami sangat mengharapkan bantuan darimu dan juga Fikri" ucap mama Novi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2