Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 40 Baju untuk Calon Menantu


__ADS_3

Ting Tong


Ting Tong


Suara bell rumah Arrash ditekan seseorang.


Syaqilla yang kebetulan hendak masuk kekamar tamu pun mengurungkan niatnya.


Ia bergegas membukakan pintu rumah Arrash.


"Permisi mba ini ada kiriman paket untuk bu Noviana" ucap kurier tersebut


"Sebentar kalau begitu pak, saya panggilkan dulu. Bapak silahkan duduk dulu" ucap Syaqilla.


"Baik mba" ucap kurier tersebut kemudian duduk dikursi yang ada diteras rumah.


Syaqilla masuk kedalam rumah untuk mencari keberadaan calon ibu mertuanya.


"Pah mamah dimana ya?" tanya Syaqilla pada papah Ridwan.


"Sedang dikamar tadi katanya mau mandi" ucap papah Ridwan.


"Didepan ada kurier yang mengantar paket untuk mamah pah" ucap Syaqilla.


"Kalau begitu kamu panggil saja mamahnya" ucap papah Ridwan.


"Iya pah" ucap Syaqilla.


Syaqilla bergegas menuju lantai dua dan mencari keberadaan kamar sang calon mertua.


Syaqilla masih mengedarkan pandangannya ke setiap pintu kamar ia tidak tahu kamar mamah Novi yang mana, namun disaat ia sedang kebingungan tiba-tiba ada salah satu pintu kamar terbuka dan keluar lah Arrash dari dalam balik pintu tersebut.


"Syaqilla ada apa?" tanya Arrash.


"Kamar mamah yang mana ya mas?" tanya Syaqilla.


"Yang disebelah kamu itu kamar mamah, memeagnya ada apa?" tanya Arrash.


"Didepan ada kurier nganter paket pesanan mamah mas" ucap Syaqilla.


"Kamu ketuk aja pintunya, mamah ada didalam" ucap Arrash yang diangguki oleh Syaqilla.


Tok tok tok


"Mah ini aku Syaqilla" ucap Syaqilla.


Ceklek.


"Iya ada apa Syaqilla?" tanya mamah Novi.


"Didepan ada kurier ngantar paket untuk mamah" ucap Syaqilla.


"Oohh kurier, ayo kita temui" ajak mamah Novi sembari merangkul lengan Syaqilla.


"Iya mah" ucap Syaqilla.

__ADS_1


Syaqilla dan mamah Novi segera menghampiri kurier diteras rumah.


"Ini dengan bu Noviana?" tanya kurier tersebut.


"Iya pak itu saya" jawab mamah Novi.


"Ini bu ada paket atas nama ibu, silahkan tanda tangan disini" ucap kurier tersebut.


"Iya pak" ucap mamah Novi kemudian menanda tangani serah terima paket.


"Kalau begitu saya pamit pak bu" ucap kurier tersebut.


"Paket apa itu mah?" tanya papah Ridwan.


"Ini loh pah, mamah belikan baju untuk Syaqilla" ucap mamah Novi pada papah Ridwan.


"Syaqilla ayo kita buka diruang tamu" ajak mamah Novi.


"Iya mah, tapi boleh aku kekamar dulu mau bersih-bersih sekaligus Shalat Magrib" ucap Syaqilla.


"Tentu saja boleh, kalau begitu kita bukanya sehabis makan malam saja" ucap mamah Novi.


Setelah makan malam mamah Novi memanggil Syaqilla yang sedang membersihkan meja makan.


"Syaqilla ayo kemari nak" panggil mamah Novi.


"Iya mah" sahut Syaqilla sembari berjalan tertatih karena masih menggunakan tongkat menghampiri mamah novi diruang keluarga.


Disana sudah ada mamah Novi, papah Ridwan dan Arrash mereka sedang berkumpul menikmati siaran televisi.


"Sudah tidak usah dibereskan itu pekerjaan para pelayan, kamu duduk saja disini temani mamah ngobrol" ucap mamah Novi.


Dengan terpaksa ia menjawab


"Iya mah" ucap Syaqilla.


"Kita buka paketnya sekarang ya, itu isinya pesanan baju mamah untuk kamu Syaqilla mudahan cocok" ucap mamah Novi.


Mamah Novi menyerahkan paket tadi pada Syaqilla.


"Ini kamu saja yang buka" ucap mamah Novi yang diangguki oleh Syaqilla.


"Ini paketnya besar sekali mah" ucap Syaqilla.


"Emm iya, mamah tadi bingung mau beli baju untuk kamu semuanya bagus ya sudah mamah pilih banyak" ucap mamah Novi sembari menunjukan cengirannya.


Papah Ridwan hanya geleng-geleng ia sudah hafal dengan kelakuan istrinya bila berbelanja pasti kalap.


Syaqilla perlahan membuka paketnya kemudian mengeluarkan isinya satu per satu.


Terhitung ada 10 gamis dan jilbabnya dengan warna dan model yang beragam.


"Ya ampun mah ini banyak sekali" ucap Syaqilla.


"Tidak apa-apa itu semua baju untuk calon menantu mamah. Bagaimana kamu suka tidak?" tanya mamah Novi.

__ADS_1


"Iya mah aku suka, tapi ini pasti mahal-mahal yah" ucap Syaqilla.


Arrash hanya memperhatikan interaksi kedua wanita yang ia cintai itu tanpa memberi komentar apa-apa.


"Jangan masalahkan soal harga, kalau kamu suka berapapun harganya pasti akan Arrash belikan. Ya kan Arrash?" ucap mamah Novi kemudian bertanya pada Arrash.


"Iya mah" ucap Arrash.


"Makasih banyak ya mah" ucap Syaqilla.


"Sama-sama sayang" ucap mamah Novi.


Sementara itu dirumah Fikri sehabis makan malam ia kedatangan tamu tidak diundang, tamu yang tidak pernah ia sangka akan datang kerumahnya.


"Pak Rudi, bu Cheline" ucap Fikri terkejut setelah membukakan pintu untuk tamu yang mengetuk pintu rumahnya.


"Iya Fikri ini kami" ucap Rudi.


"Tamu siapa mas?" tanya Alika sembari menghampiri.


Fikri tidak menjawab, biarkan sajalah Alika juga sedang berjalan mendekat ia akan tahu dengan sendirinya.


Alika terus saja berjalan hingga sampai diambang pintu dan terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya.


"Mau apa kalian datang kemari?" tanya Alika.


Ia khawatir orang tuanya datang hanya untuk membuat keributan dan membuat hubungannya dengan Fikri hancur seperti dulu.


"Alika, Fikri. Kami datang kemari hendak meminta maaf pada kalian. Kami menyesal telah memisahkan dua orang yang saling mencintai. Kami pikir Alika hanya akan bahagia bila menikah dengan orang yang kaya dan sepadan dengan kami, tapi itu nyatanya salah. Alika hanya akan bahagia bila bersamanu, maafkan kami nak" ucap Rudi.


"Sebaiknya kita bicara didalam rumah saja tidak enak dilihat tetangga" ucap Fikri.


Rudi dan Cheline mengangguk kemudian masuk kedalam rumah itu.


Mereka duduk diruang tamu dengan duduk disofa sederhana dan ruangan yang cukup sempit.


"Seperti yang tadi saya sampaikan, kedatangan kami kemari untuk meminta maaf pada kalian" ucap Rudi.


"Iya Fikri, Alika. Kami menyesal telah memisahkan kalian karena keegoisan kami sebagai orang tua. Maafkan kami nak, kami hanya ingin hubungan kita kembali baik seperti sebelumnya" ucap Cheline.


"Kami sudah memaafkan kalian jauh dari sebelum kalian minta maaf, hanya saja luka yang pernah kalian torehkan akan selamanya tetap ada. Jadi tolong mengerti kami juga pak bu, mungkin akan butuh waktu yang cukup lama untuk kita menjalin hubungan dengan baik seperti tidak pernah terjadi apa-apa diantara kita, tapi yang pasti kami sudah memaafkan kalian" ucap Fikri.


"Tidak apa-apa nak kami mengerti dengan keputusan kalian, mendapatkan kata maaf dari kalian saja sudah membuat kami bersyukur" ucap Rudi.


"Iya nak, sekali-sekali kalian main lah kerumah pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian nak" ucap Cheline.


"Insya Allah" ucap Fikri.


Lain dengan Fikri yang mampu menjawab semua kata-kata kedua orang itu, Alika hanya diam saja dengan wajah yang menunduk, mata berkaca-kaca dan jari yang saling meremas.


Ia tidak menyangka orang tua yang menurutnya egois dan keras kepala itu meminta maaf dan menginginkan hubungan diantara mereka membaik.


"Terimakasih nak karena kalian sudah mau memaafkan kami. Kalau begitu kami permisi nak" ucap Rudi dan hanya diangguki oleh Fikri.


Rudi dan Cheline bangkit dari sofa kemudian berjalan kearah pintu hendak keluar namun terhenti saat mendengar suara sang anak yang sejak tadi diam kini memanggilnya.

__ADS_1


"Mamah papah" panggil Alika.


...****************...


__ADS_2