
Ia kemudian melepaskan ikatan tali yang berada dikakinya kemudian berusaha berdiri untuk berjalan normal.
Syaqilla sudah berhasil berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu keluar. Ia juga meninggalkan nasi bungkus yang diberikan oleh Arman.
Ia berjalan menuju pintu sembari menyeret kakinya yang masih digips itu.
Ia juga mencoba membuka pintu tersebut tapi sayang pintu itu dikunci dari luar.
Syaqilla kemudian mengedarkan pandangannya kepenjuru rumah itu, ia beralih mendekati jendela tetapi jendela tersebut dikunci dari luar dan dalam sehingg tidak bisa dibukanya.
"Ini kesempatan aku untuk kabur. Tapi bagaimana caranya aku keluar dari rumah ini?" tanya Syaqilla pada diri sendiri.
Jalan satu-satunya ia harus memecahkan kaca jendela tersebut. Ia kemudian mencari sesuatu untuk bisa memecahkan jendela itu.
Akhirnya Syaqilla mengambil kursi yang untuk mengikatnya tadi.
Ia menarik kursi tersebut hingga tepi jendela dan mengangkatnya kemudian dipukulkan pada kaca jendela tersebut.
Prang.
Sekali pukulan kursi sudah mampu memecahkan jendela tersebut.
Syaqilla memanjat jendelanya dan keluar dari rumah itu. Ia kemudian berlari sekuat tenaga sembari menyeret kakinya yang digips itu.
Sementara itu kedua penjaga yang sedang duduk berjaga didepan rumah tersebut terkejut dengan suara kaca jendela pecah.
Mereka kemudian masuk kedalam rumah tlnamun rumah itu sudah kosong, tidak ada Syaqilla disana.
"Sial!, kemana dia?" tanya Arman.
"Kita kejar aja Man, dengan kondisi kaki yang pincang mungkin dia lari belum jauh" ucap Erick.
"Oke kita cari sama-sama, kamu cari kekiri gang dan aku cari kekanan" ucap Arman.
"Siap!" ucap Erick.
Kedua penculik tersebut bergegas mencari Syaqilla.
Syaqilla terus berlari tertatih dengan kondisi kaki yang pincang hingga ia bertemu dengan anak-anak yang sedang main kelereng.
"Dek, kakak mau tanya boleh?" tanya Syaqilla.
"Boleh kak" ucap anak tersebut.
"Ini namanya desa apa ya?" tanya Syaqilla.
"Desa A kak" jawabnya.
"Apa ini masih dijakarta?" tanya Syaqilla lagi.
"Masih kak, cuma ini perbatasan denga kota bandung" ucap anak itu.
"Apa kalian punya ponsel?, boleh kakak pinjam sebentar untuk menghubungi keluarga kakak. Ponsel kakak hilang bersama dengan tas yang kakak bawa" ucap Syaqilla.
Kedua anak itu saling pandang.
"Ponselnya dirumah tapi kak" ucapnya.
"Boleh kakak ikut kalian kerumah?" tanya Syaqilla.
"Boleh kak" ucapnya.
__ADS_1
Kedua anak itu kemudian berjalan lebih dulu didepan Syaqilla.
"Kakak ini dari mana ?" tanya anak tersebut sembari berjalan.
"Kakak disini korban penculikan" jawabnya.
"Apa kakak disakiti orang itu?" tanya anak tersebut
"Tidak dek, tapi kakak takut mereka akan menyakiti kakak" ucap Syaqilla.
Tidak terasa akhirnya mereka tiba dirumah anak tersebut.
"Siapa dia nak?" tanya ibu dari anak itu yang bernama Ayu.
"Bu, kakak ini korban penculikan dan ingin mnenghubungi keluarganya. Apa boleh pinjam ponsel ibu?" tanya anak tersebut.
Bu Ayu tidak menjawab, beliau beralih menatap Syaqilla.
"Kamu tinggalnya dimana?" tanya bu Ayu pada Syaqilla.
"Saya tinggal dipusat kota bu, disini saya jadi korban penculikan dan saya ini berhasil kabur, saya ingin menghubungi keluarga saya untuk menjemput tapi ponsel dan tas saya dibuang oleh para penculik itu" ucap Syaqilla.
Bu Ayu kemudian memperhatikan Syaqilla dari atas hingga bawah. Ia merasa iba dengan gadis dihadapannya itu, kondisi kakinya pincang dan pergelangan tangannya yang lecet bekas ikatan tali.
Ia memperbolehkan Syaqilla mengambil ponselnya, kemudian menyerahkan pada Syaqilla.
"Kalau begitu ini pakai ponsel saya untuk menghubungi keluargamu" ucapnya.
"Terimakasih bu" ucap Syaqilla sembari tersenyum senang menerima ponsel tersebut.
Untung saja ia hafal nomor Arrash dan ia segera menghubungi pria itu.
Tut tut.
"Assalamualaikum mas Arrash, ini Syaqilla" ucap Syaqilla.
"Syaqilla? Kamu dimana sayang? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arrash beruntun
"Aku baik-baik saja mas, aku berhasil melarikan diri dan ini aku pinjam ponsel warga sekitar sini, aku berada didesa A letaknya diperbatasan jakarta dan bandung" ucap Syaqilla.
"Kamu tunggu disana? Aku akan menjemputmu" ucap Arrash.
"Iya mas aku tunggu disini" ucap Syaqilla.
Panggilan telepon tersebut berakhir.
"Bu apa boleh saya menunggu disini hingga keluarga saya datang menjemput?" tanya Syaqilla.
"Iya boleh, sebaiknya kamu istirahat disini dan makan siang dulu" ucap bu Ayu sembari membawakan minuman dan makanan untuk Syaqilla.
"Terimakasih bu jadi merepotkan" ucap Syaqilla.
"Iya tidak masalah" ucap bu Ayu.
Syaqilla menerima makanan dan minuman yang diberikan oleh bu Ayu dan memakannya.
Sementara itu, kedua penculik yang kehilangan jejak Syaqilla merasa takut jika sang bos akan marah.
Mereka mencari kesemua gang yang ada didesa itu namun tidak menemukannya dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk menghubungi Irwan, ia mengaktifkan pengeras suara agar Arman bisa mendengarnya juga.
"Hallo bos" ucap Erick.
__ADS_1
"Iya hallo Er" ucap Irwan.
"Bos, maaf bos orang yang kami culik tadi berhasil melarikan diri" ucap Erick.
"Apa! Melarikan diri?" tanya Irwan terkejut.
"Iya bos, maaf bos" ucap Erick.
"Bagaimana bisa dia melarikan diri?" tanya Irwan.
"Dia kabur lewat jendela bos, dia memecahkannya" ucap Erick.
"Cari dia hingga ditemukan. Bila tidak ketemu, kalian tidak akan mendapatkan bayaran" ucap Irwan.
"Tapi bos, kami sudah mencarinya tapi tidak menemukannya" ucap Erick.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya cari dia sampai ketemu dan langsung bawa padaku" ucap Irwan.
"I-iya bos" ucapnya.
Panggilan tersebut berakhir.
"Bagaimana ini man?" tanya Erick pada Arman.
"Mau tidak mau kita harus mencarinya hingga ditemukan, kalau tidak ketemu kita tidak mendapatkan bayaran" ucap Arman.
"Kita sisir lagi aja man kesetiap gang dan perumahan warga, pasti dia bersembunyi disalah satu rumah warga" ucap Erick.
"Oke, kalau begitu kita cari sekarang" ucap Arman yang diangguki oleh Erick.
Kedua orang penculik itu segera mencari Syaqilla kesetiap rumah warga.
Arman dan Erick mengetuk dan masuk kerumah warga untuk mencari Syaqilla.
Penampilan Arman dan Erick yang khas dengan preman membuat para warga ketakutan dan mau tidak mau mereka membukakan pintunya dan memperbolehkan kedua preman itu menggeledah isi rumah yang ia pikir Syaqilla akan bersembunyi didalam rumah itu.
Hampir semua rumah warga digeledah oleh Erick dan Arman namun tidak ditemukan Syaqilla didalamnya.
Hingga tiba dirumah bu Ayu mereka berdua mengetuk pintu rumah tersebut.
Bu Ayu membukakan pintu rumah dan ia dapati ada dua orang preman berdiri dihadapannya.
"Ada apa ya bang?" tanya bu Ayu.
"Kita berdua lagi nyari seseorang, izinin kami masuk untuk menggeledah rumah ini" ucap Arman.
"Maaf abang-abang tapi yang kalian cari itu tidak ada disini" ucap bu Ayu.
"Kami tidak percaya kalau belum memastikannya sendiri" ucap Arman kemudian hendak masuk.
Arman dan Erick segera dicegah oleh bu Ayu.
"Maaf abang tapi saya pemilik rumah ini tidak mengizinkan kalian masuk" ucapnya.
Arman dan Erick tidak perduli dengan izin sang pemilik rumah, semakin ia dilarang untuk masuk semakin curiga juga ia bila dirumah itu ada seseorang yang sedang ia cari.
Kedua preman tersebut masuk dengan paksa hingga mendorong bu Ayu yang menghalangi mereka.
Kedua orang itu mencari kesemua penjuru rumah dan akhirnya menemukan Syaqilla yang sedang bersembunyi didalam kamar mandi.
Mereka mencekal lengan Syaqilla dan membanya keluar untuk ia masukan kedalam mobil.
__ADS_1
...****************...