
"Arrash apa kamu menghindariku? Kenapa Arrash?" tanya Anita.
"Apa kamu tidak menyadari kesalahanmu Anita?" Arrash balik bertanya.
"Apa karena aku mencintai kamu Arrash?" tanya Anita.
"Iya" jawab Arrash singkat.
"Apa salahnya bila aku mencintai kamu Arrash?" tanya Anita.
"Tentu saja salah. Kita bersahabat sejak kecil, dengan kamu mencintai aku itu artinya kamu telah menghianati aku Anita. Kamu tau kalau kita bersahabat seharusnya kamu bisa mengendalikan perasaanmu saat benih-benih cinta itu hadir. Jangan biarkan benih cinta itu semakin besar dan berkembang seperti sekarang ini!" ucap Arrash tegas.
Anita menunduk, dadanya teras sesak saat mendengar ucapan Arrash itu, dia juga menangis.
"Tidak bisakah kamu mencintai aku juga Arrash?" tanya Anita sembari menatap Arrash dengan linangan air mata.
"Tidak bisa!" tegas Arrash.
"Kenapa? Kenapa Arrash? Bukankah kita saling mengenal kita tumbuh bersama kita lalui masa kecil hingga remaja bersama, lalu apa yang membuat kamu tidak bisa cintai aku Arrash?" tanya Anita masih menangis.
"Karena hatiku tidak bergetar olehmu Anita" ucap Arrash kemudian berlalu meninggalkan Anita diruangannya.
Brakk.
Pintu ruangan Anita ditutup sedikit kencang oleh Arrash saat dirinya keluar.
Brukk.
Tubuh Anita luruh kelantai, tangisan yang awalnya hanya lelehan air mata kini menjadi pecah.
Hatinya sakit dirinya dicap sebagai penghianat oleh pria yang ia cintai.
...****************...
Setelah keluar dari ruangan Anita, Arrash segera bergegas menyusul Syaqilla diapotek.
Terlihat Syaqilla sedang duduk menunggu antrian menebus obat.
"Masih antri?" tanya Arrash pada Syaqilla.
"Iya masih antri mas, dua orang lagi baru aku yang dipanggil" jawab Syaqilla.
Arrash mengangguk kemudian duduk dikursi tunggu disebelah Syaqilla.
"Sudah selesai bicaranya dengan dokter Anita?" tanya Syaqilla.
"Sudah" ucap Arrash singkat.
"Syaqilla Azzahra" panggil Apoteker.
"Iya" ucap Syaqilla sembari hendak berdiri.
"Biar aku saja" cegah Arrash kemudian bangkit.
Arrash menghampiri apoteker yang memanggil Syaqilla kemudian menebus obat untuk Syaqilla.
"Ini" ucap Arrash memberikan obat yang sudah ia tebus.
"Terimakasih mas" ucap Syaqilla sembari menerima obat itu dan memasukan ketas miliknya.
Arrash mengangguk.
__ADS_1
"Ayo" ajak Arrash ambigu.
"Kemana?" tanya Syaqilla yang tidak paham maksud ajakan Arrash.
"Ayo kita menjenguk anak Fikri" ajak Arrash dengan jelas.
"Ah iya, kita hendak menjenguk anak mas Fikri. Kenapa bisa aku tidak ingat ya?" tanya Syaqilla.
"Kamu hanya tidak fokus" jawab Arrash.
"Iya mungkin saja" ucap Syaqilla.
Mereka kemudian bergegas keruang rawat Riana.
Dipersimpangan lorong rumah sakit Arrash dan Syaqilla bertemu tante Ghina.
"Arrash, Syaqilla" sapa tante Ghina.
"Tante Ghina" sapa balik Syaqilla.
Namun Arrash tidak menjawab sapaan tante Ghina itu.
"Arrash apa kamu hendak menjenguk Farhan?" tanya tante Ghina.
"Iya tante tapi tidak sekarang. Kenapa tante?" jawab Arrash kemudian balik bertanya.
"Sampaikan dengan papah dan mamahmu kalau nanti malam tante akan kerumah" ucap tante Ghina.
"Baik tante" ucap Arrash.
Mereka mengakhiri pembicaraan kemudian berpisah dengan tujuan masing-masing.
"Arrash, Syaqilla ayo masuk" ajak oma Larras.
Situasi diruangan itu menjadi canggung. Antara Arrash, Syaqilla, Fikri dan Alika mereka sama-sama diam.
Yang merasakan kecanggungan itu hanya mamah Novi dan papah Ridwan saja.
Pasalnya mereka yang tahu rumitnya kisah percintaan keempat orang itu.
"Kalian sengaja datang untuk menjenguk Riana?" tanya oma Laras.
"Tidak oma aku hanya mengantar Syaqilla Check Up, dan sekalian saja membesuk Riana" jawab Arrash.
Oma Larras mengangguk.
"Oiya, bukannya Syaqilla ini tunangan Fikri? Kebetulan kita sedang berkumpul gimana kalau sekalian membahas pernikahan kalian? " tanya oma Laras.
Deg.
Jantung keempat orang itu sama-sama tersentak kaget seketika keempat orang itu menjadi tegang.
Arrash akan terluka bila Syaqilla menikah dengan Fikri begitupun dengan Alika mantan istri Fikri.
Sedangkan Fikri dan Syaqilla sendiri mereka sama-sama ragu untuk melanjutkan hubungan kejenjang pernikahan.
"Mah ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal seserius itu. Kita bahas ini setelah mas Farhan dan Riana pulih saja ya" ucap mamah Novi.
"Baiklah, akubhanya ingin melihat cucu-cucuku bahagia" ucap oma Laras.
"Iya oma, mereka pasti akan bahagia" ucap mamah Novi.
__ADS_1
Mendengar oma setuju tidak membahasnya, keempat orang tersebut bisa bernafas lega.
Setelahnya mereka berbincang santai satu sama lain.
Kondisi Riana sudah semakin membaik dan kata dokter besok boleh pulang jadi Riana boleh dibesuk banyak orang seperti saat ini keluarga dari Fikri berkumpul semua.
...****************...
Dikantor polisi.
Setelah Arrash memberi perintah untuk mengurus orang yang telah mengintainya, Yogi langsung bergerak cepat.
Yogi mendatangi kantor polisi.
"Pagi pak. Saya diminta pak Arrash untuk mengurus seseorang yang telah mengintainya" ucap Yogi pada polisi yang sedang berjaga.
"Pagi juga. Kebetulan tadi pak Arrash melaporkannya pada saya. Saya juga yang menangani kasusnya, orang itu bernama Rimba, berusia 35 tahun. Tadi beliau sudah meminta kami untuk menghubungi seseorang yang memerintahkannya dan itu sudah kami lakukan' ucap Harun.
"Kalau begitu boleh saya menemuinya?" tanya Yogi pada Harun.
"Boleh, tapi hanya 15 menit waktu untuk berkunjung" ucap Harun.
"Iya tidak apa-apa pak, saya hanya ingin bicara dengannya ada hal yang ingin saya tanyakan" ucap Yogi.
"Baiklah, kalau begitu akan saya panggilkan" ucap Harun kemudian bangkit.
Lima menit berlalu Rimba datang dengan dikawal dua orang penjaga tahanan.
"Apa tujuan Rudi Pratama memerintahmu untuk mengintai Arrash?" tanya Yogi to the poin.
"Maaf pak Yogi saya juga tidak tahu apa tujuannya, saya hanya diminta untuk memberikan informasi apa saja yang dilakukan oleh pak Arrash" ucap Rimba.
Yogi melihat pada mata Rimba yang mengisyaratkan kejujuran.
Huhh.
Yogi menghela nafas.
"Kapan Rudi Pratama akan datang menemuimu?" tanya Yogi.
"Saya tidak tahu pak, bisa saja beliau tidak akan menemui saya. Bagaimana bila beliau benar-benar tidak menemui saya, lalu bagaimana dengan nasib saya pak?" ucap Rimba.
"Itu urusanmu" ucap Yogi kemudian bangkit dan meninggalkan Rimba.
Hasil introgasi dengan Rimba nihil, dia tidak mendapatkan informasi apa-apa.
Yogi juga bisa melihat Rimba tidak berbohong dengan ucapannya.
"Hanya ada dua kemungkinan Rudi Pratama meminta seseorang untuk mengintai Arrash. Dia pasti tidak terima dengan pembatalan kerja sama itu, dia pasti mencari titik lemah seorang Arrash dan berencana untuk menjatuhkan Arrash atau dia ingin balas dendam dengan orang-orang terdekat Arrash dengan cara menyakiti mereka" ucap Yogi bicara sendiri.
"Aku harus segera memberi tahu Arrash asumsiku tentang masalah ini" ucap Yogi masih bicara sendiri.
Yogi segera mengirim pesan pada Arrash.
'Aku sudah bertemu dengan orang yang mengintaimu itu. Dia terlihat jujur saat mengatakan tidak tahu maksud dari Rudi Pratama memintanya untuk mengintaimu. Aku berasumsi bahwa dia dendam denganmu. Kita perlu bicara serius tentang hal ini Arrash' Pesan terkirim.
...**************************************************...
Terimakasih yang sudah setia membaca cerita novel "Gadis Pilihanku".🤗
Dukung Author juga ya, caranya beri penilaian terhadap karya ini, klik like dan beri komentar pada setiap BAB, serta ikuti akun Author.
__ADS_1