
'Mau apa dia datang kemari' batin Arrash.
Arrash tidak menanggapi ucapan Nadia, dia langsung mematikan ponselnya dan segera bersiap untuk berangkat kerja.
Tepat pukul 7 pagi Arrash telah selesai bersiap dan keluar dari kamar seraya membawa tas kerja.
Baru saja turun dari tangga Arrash sudah dihampiri oleh Nadia.
"Arrash ayo cepat duduk, kita sarapan bersama" ucap Nadia hendak menggandeng tangan Arrash.
"Aku bisa jalan sendiri" ucap Arrash datar.
Arrash melanjutkan langkahnya dan duduk dikursi makan.
"Arrash sehabis sarapan kamu antar Nadia pulang y" pinta mamah Novi.
"Arrash ada meeting mah" ucap Arrash datar. Padahal bukan karakter Arrash bersikap seperti itu, entahlah semenjak orang tuanya berniat menjodohkan dia, Arrash jadi bersikap seperti itu.
"Apa meetingnya tidak bisa diwakilkan?" tanya mamah Novi lagi.
"Gak bisa mah" ucap Arrash.
"Ya sudah, biar mamah saja yang antar Nadia pulang" ucap mamah Novi, namun Arras hanya diam.
"Papah kerjanya dari rumah kan? Mamah mau izin ngantar Nadia pulang" tanya mamah Novi.
"Iya antarkan saja Nadia, papah kerjanya dari rumah. Lagian diperusahaan ada Arrash, di kampus ada Rizki, dan dirumah sakit ada Ghina" ucap papah Ridwan.
Mendengar nama Rizki disebut Arrash teringat Syaqilla menelpon Rektornya yang bernama Rizki.
"Apa om Rizki masih bertahan dikampus?" ucap Arrash ambigu.
"Maksudnya?" ucap papah penuh tanya.
"Eh, e-enggak pah. Kalau boleh aku juga mau ngajar dikampus" ucap Arrash tergagap.
"Tentu saja boleh, tapi kamu harus bisa menghandle perusahaan dan kampus sekaligus" ucap papah Ridwan.
"Apa tidak bisa ditukar pah aku yang dikampus dan om Rizki yang diperusahaan" tanya Arrash.
"No. Tidak bisa" ucap papah Ridwan.
"Arrash sudah selesai sarapannya. Arrash berangkat mah, pah" ucap Arrash seraya pamit dan berlalu tanpa mengindahkan kehadiran Nadia disitu.
Nadia kesal niat hati datang pagi-pagi kerumah Arrash ingin menunjukan bahwa dia bisa menjadi istri yang baik, yang menyiapkan sarapan suami tapi Arrash tidak memperdulikan itu.
"Tante, sepertinya Arrash tidak menyukai kehadiranku disini" ucap Nadia lirih.
Papah Ridwan dan mamah Novi pun segera menoleh kearah Nadia.
"Sebenarnya Arrash itu anak yang ramah, sopan, dan penurut. Tapi akhir-akhir ini sikapnya jadi berubah dingin, kamu yang sabar y" ucap mamah Novi, dia juga heran kenapa anaknya bisa berubah dingin seperti itu.
"Aku akan berusaha sekali lagi tante, kalau Arrash masih sama seperti itu Nadia nyerah saja tan" ucap Nadia tak bersemangat.
__ADS_1
"Iyaa gak papa itu hak kamu untuk tidak melanjutkan perjodohan ini, dan tante benar-benar minta maaf sekali soal itu" ucap Mamah Novi yang hanya diangguki oleh Nadia.
"Papah sudah selesai sarapannya mah, papah mau keruang kerja langsung. Nadia om duluan y" ucap papah Ridwan.
"Iya pah" ucap mamah Novi
"Iya om" ucap Nadia.
...****************...
Setelah selesai sarapan Arrash melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Syaqilla.
Meski pikiran menolak untuk dia mendekati Syaqilla namun hati Arrash berbeda. Didalam hati Arrash ingin selalu berada didekat Syaqilla.
Pukul setengah 9 Arrash tiba dirumah sakit, kedatangannya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada disana.
Arrash berjalan melewati koridor rumah sakit.
Tanpa Arrash tahu ternyata Ghina, adik papah Ridwan yang menjabat sebagai Wakil Direktur melihatnya datang kerumah sakit, dia diam-diam segera mencari tahu apa yang dilakukan sang keponakan dirumah sakit itu.
Tante Ghina menghampiri Resepsionis. Y, Arrash memang memanggilnya dengan tante Ghina.
"Apa ada yang tahu Arrash datang kemari ada keperluan apa?" tanya tante Ghina pada resepsionis bernama Irma yang kebetulan kemarin Arrash mendaftarkan Syaqilla kepada Irma juga.
"Pak Arrash kemarin datang dengan seorang gadis berhijab bu, gadis itu habis kecelakaan dan kakinya harus digips. Karena pak Arrash yang mengantar gadis itu kemari jadi beliau yang mendaftarkan dan menanggung semua pengobatan gadis itu" ucap Irma menjelaskan.
"Siapa nama gadis itu? dan dimana dia dirawat?" tanya tante Ghina penasaran.
"Namanya Syaqilla Azzahra bu, dan dirawat dirungan VVIP nomor 4" ucap Irma lagi.
Tante Ghina langsung menghubungi papah Ridwan kakak pertama Ghina.
Panggilanpun dijawab papah Ridwan dan tante Ghina menghentikan langkahnya.
"Hallo mas" ucap Tante Ghina.
"Iyaa Ghin ada apa?" tanya papah Ridwan.
"Mas coba tebak aku dirumah sakit melihat siapa?" ucap tante Ghina.
"Memangnya melihat siapa? Melihat mantan suamimu?" bukannya menjawab papah Rizwan malah mengajukan pertanyaan lagi.
"Isshh, mas Ridwan ini. Aku melihat Arrash dirumah sakit mas" ucap Ghina dengan kesal.
"Hah dirumah sakit? Apa yang dia lakukan Ghina, apa dia sakit?" tanya papah Ridwan lagi.
"Arrash tidak sakit mas. katanya Arrash kemarin datang kerumah sakit ini bersama dengan seorang gadis berhijab. Gadis itu katanya habis kecelakaan dan Arrash yang mengurus semua keperluannya bahkan Arrash sendiri yang mendaftarkan gadis itu ke resepsionis" ucap tante Ghina menjelaskan.
"Apa kamu mengenal gadis itu?" tanya papah Ridwan lagi.
"Namanya Syaqilla Azzahra mas, entahlah aku saja baru mendengar nama itu" ucap tante Ghina.
"Biar aku saja yang tanyakan ini dengan Arrash" ucap papah Ridwan.
__ADS_1
"Oke mas" ucap tante Ghina lalu menutup sambungan telepon.
Tante Ghina penasaran dengan gadis yang bernama Syaqilla Azzahra itu. Tante Ghina melanjutkan langkahnya dan menuju ruang VVIP nomor 04.
...****************...
Didepan ruang rawat Syaqilla, Arrash menghentikan langkahnya lalu mengetuk pintu.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan pintu Syaqilla yang sedang berbaringpun duduk perlahan ditempat tidur, dia menoleh kearah pintu seraya tersenyum.
Namun senyumnya perlahan pudar setelah melihat Arrash yang datang, dan perubahan wajah Syaqilla itu bisa dilihat oleh Arrash.
"Apa kamu sedang menunggu seseorang? Apa tunanganmu tidak menemanimu dirumah sakit" tanya Arassh bertubi.
"Ya. Aku mengkhawatirkannya, sejak semalam dia keluar dan tidak kembali lagi" ucap Syaqilla sedih.
"Mungkin ada sesuatu yang sedang dia urus" ucap Arrash.
Tok tok tok
Percakapan mereka terhenti saat terdengar suara ketukan pintu.
Ceklek.. Munculah tante Ghina disitu.
"Tante Ghina!" ucap Arrash.
Syaqilla hanya diam.
"Ternyata ini gadis yang membuat keponakan tante yang tampan sampai kerepotan" ucap tante Ghina menghampiri Syaqilla tanpa menghiraukan Arrash.
"Perkenalkan aku Ghina, tantenya Arrash" ucap bibi Ghina yang masih menggunakan jas dokter dan mengulurkan tangannya.
"Saya Syaqilla bu" ucap Syaqilla sopan.
"Panggil saja tante, sama seperti Arrash" ucap tante Ghina yang diangguki oleh Syaqilla.
Arrash khawatir tantenya itu akan bicara yang tidak-tidak kepada Syaqilla. Jadi Arrash langaung menarik tangan tantenya untuk sedikit menjauh.
"Apa yang ingin tante lakukan kesini" ucap Arrash pelan takut terdengar oleh Syaqilla.
"Hanya ingin berkenalan dengan calon keponakan menantu" ucap tante Ghina.
Tok tok tok
Ucapan mereka terhenti saat mendengar pintu diketuk.
"Masuk" sahut Syaqilla mempersilahkan.
Ceklek.. Dan munculah seorang dokter wanita disana.
Tante Ghina dan Arrash pun mengalihkan pandangannya kearah pintu.
__ADS_1
"Anita"
...****************...