Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 26 Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

Arrash yang sedang berbincang dengan anggota keluarganya menerima pesan masuk.


Tring.


Arrash bergegas membukanya.


'Aku sudah bertemu dengan orang yang mengintaimu itu. Dia terlihat jujur saat mengatakan tidak tahu maksud dari Rudi Pratama memintanya untuk mengintaimu. Aku berasumsi bahwa dia dendam denganmu. Kita perlu bicara serius tentang hal ini Arrash' Pesan diterima.


Pesan itu yang dikirimkan oleh Yogi.


Arrash berfikir sejenak.


'Baiklah, tunggu aku dikantor aku akan segera kesana' pesan terkirim.


Arraah kemudian menghampiri Syaqilla yang sedang berbincang dengan Alika, Fikri dan Riana.


"Syaqilla, sepertinya kamu harus aku antar pulang sekarang. Aku ada urusan penting" ucap Arrash.


"Baiklah" ucap Syaqilla setuju.


"Mas Fikri, mba Alika aku pulang duluan, Riana kamu cepatlah sembuh, om, tante, oma, opa semuanya Syaqilla duluan ya" ucap Syaqilla sembari menyalami semua wanita yang ada disana.


"Iya hati-hati" ucap oma Laras.


Fikri hanya menatap kepergian Syaqilla dan Arrash.


'Aku juga bisa melihat kalau Arrash mencintai kamu Syaqilla. Kalian terlihat cocok' batin Fikri.


Fikri merasa bersalah pada Syaqilla, ternyata selama ini cintanya untuk gadis itu tidak sebesar cintanya pada Alika.


...****************...


Syaqilla dan Arrash segera meninggalkan rumah sakit.


Syaqilla langsung diantar pulang oleh Arrash.


"Aku tidak bisa mampir kerumahmu. Aku buru-buru ada hal penting yang tidak bisa ditunda" ucap Arrash.


"Iya mas, kamu hati-hati dijalan" ucap Syaqilla kemudian turun dari mobil dan segera masuk kerumah.


Arrash memastikan Syaqilla masuk kedalam rumah dengan selamat.


Setelah memastikannya Arrash segera melajukan mobilnya dengan kecepatan standar.


Tiba dikantor Arrash segera masuk keruangan Yogi.


Ceklek.


Yogi yang sedang fokus dengan dokumen yang dibacanya segera menoleh kearah pintu.


"Kamu sudah datang Rash?" tanya Yogi.


"Seperti yang kamu lihat" jawab Arrash kemudian duduk disofa.


"Apa saja yang kamu dapat dikantor polisi?" tanya Arrash.


"Nihil" jawab Yogi.


"Rimba mengatakan bahwa dirinya tidak tahu tujuan dari Rudi Pratama memintanya mengintaimu. Dari semua yang dia ucapkan aku bisa melihat dia benar-benar tidak berbohong" ucap Yogi.

__ADS_1


Arrash masih mendengarkan.


"Aku berpendapat bahwa Rudi Pratama memiliki dendan padamu karena pembatalan kontrak kerja sama itu. Dia hendak menjatuhkanmu, atau bisa saja dia akan mencelakain orang-orang terdekatmu" sambung Yogi.


"Kita harus waspada Arrash" ucap yogi lagi.


"Kamu benar Yog. Rudi Pratama pasti memiliki dendam padaku, bukan hanya aku, Fikri dan opa juga. Rudi Pratama pasti akan melibatkan orang-orang terdekat kami" ucap Arrash.


"Lalu apa rencanamu Arrash?" tanya Yogi.


"Untuk sementara kita pura-pura tidak tahu rencana dia hingga ada pergerakan darinya barulah kita bertindak, aku juga harus menceritakan hal ini pada Fikri dan opa agar mereka juga bisa waspada" jawab Arrash.


"Iya, itu lebih baik Arrash" ucap Yogi.


"Oiya seperti yang kamu bilang tadi kalau Rimba sudah berkata jujur maka bebaskanlah" ucap Arrash.


"Kamu yakin?" tanya Yogi memastikan.


Arrash mengangguk kemudian sedangkan Yogi segera mendatangi kantor polisi untuk mencabut laporannya.


...****************...


Dirumah sakit.


Anita yang tadi terpuruk kini perlahan bangkit.


"Apa dokter sakit?" tanya seorang perawat pada Anita, pasalnya Anita terlihat pucat.


Perawat itu masuk keruangan Anita karena menyerahkah berkas pasien.


"Aku baik-baik saja?" jawab Anita.


Kini Anita sedang duduk dikursinya, sembari menulis sesuatu.


'Surat Pengunduran Diri'


Perawat itu tidak bertanya, ia bergegas keluar.


"Mungkin aku seperti pecundang yang lari dari masalah, tapi ini yang bisa aku lakukan agar bisa jauh darimu Arrash. Hanya jarak yang jauh, aku tidak yakin hatiku bisa melupakanmu. Aku sudah mencintai kamu selama belasan tahun" ucap Anita sendirian.


Ia menulis surat pengunduran diri itu sembari menangis.


Anita berencana pindah bekerja dikota lain, dia ingin memulai hidup baru jauh dari bayang-bayang masa lalunya.


Anita juga berharap hubungannya dengan Arrash akan membaik seperti dulu mereka masih bersahabat.


Ia bergegas membasuh muka agar terlihat segar kembali.


Kemudian ia pergi keruangan dokter Ghina, Wakil direktur rumah sakit Jaya Medika sedangkan direkturnya belum diketahui siapa orangnya.


Tok tok tok


"Masuk" sahut seseorang dari dalam ruangan.


Ceklek.


Anita membuka pintu.


"Eh Dokter Anita. Silahkan duduk" ucap dokter Ghina.

__ADS_1


Anita duduk bersebrangan dengan dokter Ghina.


"Begini dok, tujuan saya datang kemari untuk memberikan ini" ucap Anita kemudian menyodorkan amplop yang berisi surat pengunduran dirinya.


"Apa ini?" tanya dokter Ghina kemudian membukanya.


"Surat Pengunduran Diri" tanya dokter Ghina.


"Iya dok saya berencana mengundurkan diri dan akan pindah keluar kota" jawab Anita.


"Apa kamu sudah yakin?" tanya dokter Ghina.


"Sudah dok" jawab Anita yakin.


"Baiklah kalau begitu surat pengunduran dirimu akan saya proses" ucap dokter Ghina.


"Kira-kira kapan saya boleh meninggalkan rumah sakit ini ya dok?" tanya Anita.


"Satu minggu untuk memproses surat pengunduran dirimu. Karena kamu belum cukup lama bekerja disini jadi mohon maaf kami tidak memberikan pesangon" ucap dokter Ghina.


"Tidak apa-apa dokter, saya usahakan seminggu terakhir ini akan tetap bekerja dengan giat" ucap dokter Anita.


"Baiklah" ucap dokter Ghina.


"Kalau begitu saya permisi untuk melanjutkan pekerjaan saya dok" pamit Anita.


"Tunggu Anita. Tante ingin tahu masalah apa yang sedang kamu alami sehingga memutuskan untuk berhenti bekerja disini. Anggap tante ini tantemu, ayo ceritakanlah" ucap dokter Ghina kini bicara dengan Anita tidak seformal saat membahas pekerjaan.


"Maaf tante sudah membuatmu khawatir, aku tidak ada masalah apa-apa. Aku hanya ingin mencari pengalaman ditempat lain" ucap Anita.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin menceritakannya, tante harap kamu selalu bahagia" ucap dokter Ghina.


"Iya tante, terimakasih. Aku permisi" ucap Anita.


Dokter Ghina mengangguk kemudian berkata.


"Silahkan" ucapnya.


...****************...


Dikediaman keluarga Pratama.


Rudi mendapatkan telepon dari seseorang yang ternyata itu polisi bernama Harun.


Harun mengatakan bahwa Rimba asistennya telah tertangkap dan sekarang sedang berada dikantor polisi.


"Ck. Dasar payah! Bisa-bisanya Rimba tertangkap" umpat Rudi.


"Ada apa sih pah kenapa dari tadi marah-marah?" tanya Cheline istri pak Rudi.


"Aku baru bergerak 2 hari untuk memerintahkan Rimba asistenku untuk mengawasi Arrash tapi justru dia tertangkap oleh Arrash sendiri" ucap Rudi kesal.


"Tenang pah, papah jangan marah-marah nanti tekanan darah tingginya naik lagi gimana? Ayo tarik nafas dulu terus hembuskan" ucap Cheline menenangkan Rudi.


Huhh.


Rudi menghembuskan nafas.


"Memangnya apa yang sedang papah rencanakan?" tanya Cheline.

__ADS_1


"Mamah tahu tidak, karena perselisihan aku dan Fikri itu mengakibatkan semua saham milik Wijaya Group ditarik dan semua kerja sama dibatalkan olehnya tidak hanya itu, cucu Ferdi Wijaya yang bernama Arrash juga membatalkan kerja samanya, padahal papah sudah mengincarnya dari dulu karena Jaya Company itu perusahaan besar. Coba hitung mah berapa banyak kerugian yang perusahaan kita alami" ucap Rudi dengan geram.


...****************...


__ADS_2