
Pukul 2 siang Arrash dan Syaqilla pulang dari kampus.
Arrash mengantar Syaqilla pulang kerumahnya lebih dulu.
Tiba dirumah Syaqilla rupanya sudah ada seseorang yang menunggu sembari membawa buket bunga mawar merah.
"Siang mba. Ini ada kiriman bunga dari seseorang, silahkan anda terima dan tanda tangan disini" ucap kurier tersebut.
Syaqilla hendak menerima buket bunga mawar merah itu tapi Arrash lebih dulu merebutnya.
"Ini bunga dari siapa pak?" tanya Arrash.
"Saya kurang tahu mas, silahkan saja mas baca kertas yang terselip dibuketnya. Tapi sebelumnya tolong tanda tangani disini" ucap kurier.
Arrash menanda tanganinya kemudian kurier tersebut pergi.
Arrash membuka kertas yang terselip itu.
"Fahmi" ucapnya sembari meremas kertas itu.
"Fahmi itu mahasiswa semester 4 dikampus mas, ia sudah sering mengirimi aku buket bunga mawar seperti ini selama 3 minggu terakhir. Aku juga sudah menegurnya tapi tidak di indahkannya. Aku juga sudah menolak bunganya tapi kuriernya memohon padaku agar bunga tersebut diterima, Kalau tidak aku terima ia yang akan kena denda katanya mas" ucap Syaqilla.
"Besok beritahu aku ya Fahmi orangnya yang mana" pinta Arrash.
"Iya mas besok aku beri tahu" ucap Syaqilla.
"Kalau begitu aku langsung berangkat kekantor ya" pamit Arrash.
"Iya mas" jawab Syaqilla.
Arrash segera berangkat kekantor.
Setibanya disana ia hanya memeriksa berkas dan tanda tangan kemudian pulang kerumah.
Hampir pukul 6 sore ia tiba dirumah.
Ia segera menghampiri mamah dan papahnya.
"Mamah papah ada hal penting yang ingin Arrash bicarakan" ucap Arrash.
"Apa yang ingin kamu bicarakan nak?" tanya papah Ridwan.
"Aku dan Syaqilla sudah sepakat menjalin hubungan, aku ingin melamar Syaqilla secepatnya" ucap Arrash.
"Papah dan mamah sudah mendengar kabar Fikri dan Alika akan rujuk dan lusa mereka menikah. Tapi kami tetap terkejut mendengar kamu sudah menjalin hubungan dengan Syaqilla. Sejak kapan itu terjadi?" tanya Papah Ridwan.
"Tadi pagi pah mah Arrash dan Syaqilla sepakat untuk menjalin hubungan, kami juga sepakat untuk bertunangan dalam waktu dekat ini" ucap Arrash.
Papah Ridwan dan mamah Novi sama-sama mengangguk tanda setuju.
"Baiklah, secepatnya kita akan bicarakan pada keluarga besar kita. Mungkin kita bicarakan setelah Fikri dan Alika menikah" ucap papah Ridwan.
"Iya pah tidak apa-apa. Tapi Arrash berharap setelah pertunangan kami secepatnya pernikahan dilaksanakan" ucap Arrash.
"Tentu saja nak, semakin cepat maka akan semakin baik. Papah dan mamah mu juga demikian berharap agar kamu cepat menikah dan memiliki anak" ucap papah Ridwan.
"Aminn" ucap Arrash.
__ADS_1
"Selamat ya sayang, akhirnya cinta kamu tidak lagi bertepuk sebelah tangan" ucap mamah Novi.
"Iya mah Alhamdulillah Allah telah mengabulkan do'a Arrash" ucap Arrash.
Mamah Novi memeluk Arrash.
...****************...
Pagi tiba.
Rutinitas Arrash dipagi hari yakni mengantar Syaqilla kekampus.
Kini mereka sudah berada di depan kampus.
"Mana orang yang bernama Fahmi?" tanya Arrash
"Sebentar mas, orangnya belum datang" jawab Syaqilla.
Tidak lama kemudian Fahmi datang dengan mengunakan motor sportnya.
"Itu mas baru saja lewat yang pakai motor sport itu" ucap Syaqilla.
Arrash menoleh kearah jari Syaqilla yang menunjuk.
Arrash mengangguk.
"Kamu tunggu dulu disini ya" ucap Arrash.
Syaqilla mengangguk.
"Apa kamu orang yang bernama Fahmi?" tanya Arrash.
"Iya itu saya. Ada apa ya?" jawab Fahmi kemudian bertanya lagi
"Saya hanya ingin memperingati mu agar tidak lagi mengirimi Syaqilla buket bunga mawar merah" ucap Arrash.
"Apa hak anda melarang saya untuk mengirimi bu Syaqilla bunga?" tanya Fahmi.
"Saya calon suaminya dan saya tidak suka ada laki-laki lain yang mengiriminya bunga" ucap Arrash.
"Maaf ya pak setahu saya calon suami bu Syaqilla itu pak Fikri, tapi pak Fikri justru akan rujuk dengan mantan istrinya dan bu Syaqilla sedang single" ucap Fahmi.
"Fahmi, apa yang dikatakan mas Arrash itu benar. Dia ini calon suamiku, kami akan menikah dalam waktu dekat ini" ucap Syaqilla.
Rupanya Syaqilla juga mengikuti Arrash yang hendak menegur Fahmi.
"Benarkah itu bu? Apa tidak ada kesempatan untuk saya bisa dekat dengan bu Syaqilla?" tanya Fahmi.
"Maaf Fahmi, saya sudah sering katakan padamu bukan kalau saya hanya menganggap kamu sebagai anak didik saya. Usia saya sudah 27 tahun sedangkan kamu baru 20 tahun, perjalanan mu masih panjang Fahmi. Kamu bisa mendapatkan gadis-gadis muda dan cantik yang usianya sebaya denganmu" ucap Syaqilla.
"Tapi tidak ada yang sebaik dan setulus bu Syaqilla" ucap Fahmi.
"Ayolah Fahmi hargai keputusan saya, saya sudah hendak menikah dan kamu pasti akan bertemu dengan gadis yang baik dan tulus juga" ucap Syaqilla.
"Baik bu, maafkan saya sudah membuat ibu tidak nyaman" ucap Fahmi.
"Iya tidak apa-apa Fahmi, belajarlah yang giat dan jadilah anak yang baik. Orang baik akan bertemu dengan jodoh yang baik pula" ucap Syaqilla.
__ADS_1
Fahmi mengangguk.
"Terimakasih untuk nasehatnya bu" ucap Fahmi.
"Sama-sama Fahmi, ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai pengajar mu" ucap Syaqilla.
"Iya bu, kalau begitu saya kekelas duluan" ucap Fahmi.
"Silahkan Fahmi" ucap Syaqilla.
"Assalamualaikum" ucap Fahmi.
"Waalaikumsalam" ucap Syaqilla dan Arrash bersamaan.
Fahmi kemudian berlalu.
"Anak itu memberimu buket bunga mawar merah bukan karena mencintaimu tapi karena dia mengagumi sosok mu Syaqilla" ucap Arrash.
"Memangnya sosok aku seperti apa mas?" tanya Syaqilla.
"Sosok yang sempurna untuk dijadikan istri" jawab Arrash sembari tersenyum.
"Aku serius mas Arrash" ucap Syaqilla sembari mencubit pinggang Arrash.
"Aaww. Sakit Qilla" ucap Arrash.
"Maka dari itu kalau jawab pertanyaanku harus serius" ucap Syaqilla kesal.
"Iya iya" ucap Arrash mengalah.
Syaqilla mendengus kesal.
"Oiya Syaqilla aku sudah memberi tahu mamah dan papahku bila kita menjalin hubungan dan aku akan segera melamarmu" ucap Arrash lagi.
"Lalu apa tanggapan mereka mas?" tanya Syaqilla.
"Mereka merestui kita dan akan membicarakan pertunangan kita pada keluarga besar setelah Fikri dan Alika menikah" jawab Arrash.
"Kalau begitu aku juga akan memberi tahukan paman dan bibiku dibandung" ucap Syaqilla.
"Apa keluargamu hanya tinggal paman dan bibimu saja?" tanya Arrash.
"Ayahku hanya memiliki satu adik yakni paman ku yang tinggal dibandung, sedangkan ibuku beliau anak tunggal dan semua kakek nenekku sudah meninggal, kalau sepupu orang tuaku aku tidak tahu mas" ucap Syaqilla.
"Baiklah tidak apa-apa kita akan temui paman dan bibimu kebandung untuk meminta restunya, kita akan pergi bersama-sam kesana" ucap Arrash.
"Iya mas" ucap Syaqilla setuju.
"Oiya mas Arrash apa tidak berangkat kekantor?" tanya Syaqilla.
"Tidak, aku hendak pergi kerumah sakit untuk memeriksa pekerjaan disana" ucap Arrash.
"Mas Arrash jadi semakin sibuk saja" ucap Syaqilla.
"Apa kamu keberatan aku terlalu sibuk?" tanya Arrash
...****************...
__ADS_1