Gadis Pilihanku

Gadis Pilihanku
BAB. 28 Berbicara Pada Opa Ferdi


__ADS_3

Mamah Novi dan tante Ghina menghabiskan makanannya kemudian mendatangi Ridwan yang sudah menunggu diruang keluarga.


"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan Ghina?" tanya papah Ridwan.


"Mantan suamiku minta rujuk kembali mas" jawab tante Ghina.


"Lalu apa yang kamu jawab?" tanya papah Ridwan.


"Aku hanya bilang akan aku pikirkan" jawan tante Ghina.


"Aku tidak setuju bila kamu kembali lagi dengan mantan suamimu yang kasar itu" ucap papah Ridwan.


"Iya mas aku juga tidak menyukai prilaku kasarnya" ucap Ghina setuju.


"Bila kamu ingin menikah maka menikahlah tapi dengan orang lain jangan rujuk kembali dengan mantan suamimu itu" ucap papah Ridwan.


"Tidak mas aku tidak ingin menikah lagi. Selain itu aku kemari ingin menanyakan kapan Arrash akan diangkat menjadi pimpinan rumah sakit?" tanya tante Ghina.


"Apa kamu tidak keberatan posisimu dibawah Arrash?" tanya papah Ridwan.


"Tidak sama sekali mas" ucap tante Ghina.


"Baiklah, kalau begitu secepatnya kita akan mengangkat dia setelah Rizki setuju juga" ucap papah Ridwan.


"Iya mas lebih cepat lebih baik" ucap tante Ghina.


...****************...


Dikediaman keluarga Wijaya.


Arrash, opa Ferdi, dan oma Laras telah selesai makan malam kini mereka sedang menikmati siaran televisi bersama.


"Sudah lama sekali kita tidak seperti ini Arrash, oma rindu dengan Arrash kecil yang manja" ucap oma Laras yang duduk disofa bersama Arrash sembari membelai rambut Arrash.


"Iya oma Arrash juga rindu dengan oma dan opa" ucap Arrash.


"Kalau begitu sering-seringlah kamu kemari" ucap oma Laras.


"Iya oma. Opa ada yang ingin aku bicarakan serius" ucap Arrash.


Mendengar Arrash ingin berbicara serius opa Ferdi mengurangi volume televisinya.


"Ada apa Arrash?" tanya opa Ferdi.


"Opa tadi pagi aku menangkap seseorang yang mengintaiku. Rupanya dia mengintaiku sudah dua hari, dan ternyata orang tersebut adalah asisten dari Rudi Pratama dan Rudi Pratama juga yang memintanya untuk mengintaiku" jawab Arrash menjelaskan.


"Apa tujuan Rudi mengirim asistennya untuk mengawasimu?" tanya opa Ferdi.


"Aku tidak tahu opa, asistennya sudah diintrogasi oleh Yogi tapi dia mengatakan hanya dapat perintah tanpa tahu tujuannya" jawab Arrash.


"Apa kamu memiliki masalah dengannya?" tanya opa Ferdi.


"Entahlah opa, aku hanya membatalkan kerjasama" Jawab Arrash.


"Apa mungkin Rudi tidak terima dan dendam kemudian memiliki rencana untuk membalas mu" ucap opa Ferdi.


"Aku rasa bukan aku saja targetnya, bisa saja opa, Fikri dan orang-orang terdekat kita" ucap Arrash.


"Jadi maksudmu kemungkinan dia akan membalasnya pada kita semua?" tanya opa Ferdi memastikan.


"Iya opa" jawab Arrash.


"Apa kamu sudah membicarakan ini dengan orang tuamu?" tanya opa Ferdi.


"Belum opa. Mereka belum aku beri tahu" jawab Arrash.


"Segeralah beri tahu orang tua mu Arrash. Opa Akan memberitahu Fikri dan Farhan" titah opa Ferdi.


"Baik opa" setuju Arrash.


"Ya sudah sebaiknya kamu istirahat, omamu sudah menyiapkan kamar yang dulu kamu pakai" titah opa Ferdi.


"Iya opa" ucap Arrash sembari mengangguk.


Pembicaraan mereka akhirnya terhenti karena mereka segera beristirahat.


...****************...


Pagi tiba.

__ADS_1


Setelah sarapan Arrash bergegas berangkat kekantor.


Namun sebelum berangkat kekantor ia akan menjemput Syaqilla terlebih dahulu.


Mulai hari ini Syaqilla akan kembali mengajar seperti biasa meski kondisi kakinya belum pulih.


Arrash sudah berjanji pada Syaqilla kalau dia yang akan mengantarnya kekampus.


"Sudah siap?" tanya Arrash saat tiba didepan rumah dengan Syaqilla yang sudah menunggu disana.


"Sudah. Ayo mas kita langsung berangkat saja" jawab Syaqilla


Arrash mengangguk kemudian mereka masuk kedalam mobil dan Arrash segera melajukan mobilnya.


"Pulang mengajar jam berapa?" tanya Arrash.


"Jam 2 siang mas" jawab Syaqilla.


"Aku akan menjemputmu" ucap Arrash.


"Tidak usah mas, aku akan pulang naik taksi. Aku tidak ingin merepotkanmu terus menerus" ucap Syaqilla.


"Aku tidak merasa direpotkan" ucap Arrash.


"Tapi aku yang tidak enak mas" ucap Syaqilla.


"Baiklah kalau kamu tidak ingin aku menjemputmu" ucap Arrash.


"Makasih mas kamu sudah mau mengerti" ucap Syaqilla.


Tidak terasa akhirnya mereka tiba di Jaya Universitas.


Syaqilla turun dari mobil lebih dulu sebelum Arrash membukakan pintunya.


Arrash juga ingin mengantar Syaqilla hingga masuk kedalam kampus.


"Terimakasih mas, tapi sampai disini saja antarnya" ucap Syaqilla.


"Baiklah kalau begitu aku langsung berangkat kerja" ucap Arrash.


"Iya mas hati-hati dijalan" ucap Syaqilla.


Arrash meninggalkan kampus untuk menuju kantornya.


Setibanya dikantor ia sudah disambut oleh Yogi yang sudah berada diruangan Arrash.


"Bagaimana, apa kamu sudah memberi tahu opa Ferdi terkait pengintaian terhadapmu?" tanya Yogi.


"Sudah Yog" jawab Arrash


"Lalu apa tanggapannya?" tanya Yogi.


"Kami sudah sepakat untuk waspada" jawab Arrash.


Yogi hanya menganggukan kepalanya.


Arrash kemudian membuka berkas yang ada dimejanya.


"Semua berkas itu sudah aku cek, kamu tinggal cek kembali dan tanda tangan" ucap Yogi.


Arrash mengangguk, Yogipun kemudian kembali keruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tok tok tok


Pintu ruangan Arrash diketuk seseorang.


"Masuk" ucap Arrash.


Ceklek.


Rahayu membuka pintu ruangan Arrash.


"Pagi pak" sapa Rahayu.


"Pagi juga" jawab Arrash.


"Pak saya datang kemari untuk memberikan ini" ucap Rahayu sembari memberikan amplop


"Apa ini?" tanya Arrash.

__ADS_1


"Surat Pengunduran Diri saya pak" jawab Rahayu.


Arrash membuka amplop tersebut.


"Kenapa kamu ingin mengundurkan diri?" tanya Arrash.


"Saya diminta untuk meneruskan perusahaan keluarga saya pak" ucap Rahayu.


"Baiklah kalau begitu surat pengunduran dirimu langsung saya proses, mulai lusa kamu bisa berhenti bekerja disini" ucap Arrash.


"Apa tidak menunggu satu minggu dulu pak untuk prosesnya?" Tanya Rahayu.


"Tidak perlu, saya akan meringankanmu" jawab Arrash.


"Baik pak, terimakasih" ucap Rahayu yang di angguki oleh Arrash.


Rahayu kemudian meninggalkan ruangan Arrash.


"Apa Yogi sudah tahu ini?" tanya Arrash sendirian.


Arrash kemudian menghubungi Yogi.


"Yog keruanganku" ucap Arrash saat panggilan telepon terhubung.


"Oke" jawab Yogi.


Panggilan terputus dan Yogi bergegas keruangan Arrash.


"Apa ada laporan yang salah?" tanya Yogi sesaat masuk keruangan Arrash.


"Tidak ada. Apa kamu sudah tahu kalau Rahayu mengundurkan diri?" tanya Arrash.


Deg.


Yogi terkejut dengan hal itu, pasalnya ia tidak tahu kalau Rahayu mengundurkan diri.


"Sepertinya kamu belum tahu ya" ucap Arrash.


"Belum Rash" ucap Yogi.


Arrash memberikan amplop yang berisikan surat pengunduran Rahayu.


"Bukalah" ucap Arrash.


Yogi membuka amplop itu.


"Ternyata dia benar-benar akan mengundurkan diri" ucap Yogi.


"Apa kalian tidak saling bicara?" tanya Arrash.


"Sejak saat kencan itu aku jadi tertarik padanya. Aku juga berusaha menjalin komunikasi terhadapnya tapi sayang ternyata dia tidak merasakan itu" jawab Yogi.


"Apa tidak sebaiknya kamu bicarakan empat mata dengannya?" tanya Arrash.


"Apa itu harus" jawab Yogi.


"Tentu saja Yog" ucap Arrash.


Yogi mengangguk kemudian ia bergegas keruangan Manager HRD.


Brakk.


Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Yogi membuka pintu secara paksa.


"Pak Yogi ada apa kemari?" tanya Rahayu.


Yogi kemudian melemparkan amplop berisi surat pengunduran diri Rahayu kemeja gadis itu.


"Apa ini?" tanya Yogi.


Rahayu mengambilnya.


"Ini surat pengunduran diri saya, ada apa memangnya?" tanya Rahayu.


"Aku tahu kamu diminta untuk mengurus perusahaan keluargamu. Tapi kenapa kamu mengundurkan diri tidak bicara lebih dulu denganku?" tanya Yogi.


Rahayu mengerutkan keningnya merasa heran dengan apa yang diucapkan Yogi.


"Kenapa aku harus bicara dulu padamu?"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2