
Hatiku sudah sedikit lega ketika Handan mau membantu untuk memberikan pekerjaan. Yah, sahabatku itu mau memberikan pekerjan, awalnya laki-laki itu akan memberikan pekerjaan di kantor lawyer-nya. Sebagai pengacara yang terkenal dan dia bahkan sudah memiliki izin advokat di mana kalau advokat dia bisa ambil tugas di manapun tanpa harus izin lagi. Beda dengan pengacara kalau pengacara dia biasanya bertugas di satu wilayah saja, kalau akan ambil tugas di luar wilayah wewenangnya, mereka akan mengurus izin lagi. (Sumber dari google, kalau salah harap maklum karena othor hanya emak-emak berdaster. )
Namun, aku menolak ketika Handan menyarankan kerja di kantornya. Tidak lain dan tidak bukan, alasan ku tidak ingin ada gosip-gosip atau kesempatan ini akan dimanfaatkan oleh pihak terlapor untuk membuat aku terpojok. Biasa lah yah, ketika orang sudah ketahuan salah maka biasanya akan cari kelemahan kita dan akan digunakan untuk menyerang balik. Aku tidak mau hal itu terjadi dan dimanfaatkan oleh terlapor alias ayahnya Gio.
Sehingga Handan menawarkan aku kerja di kantor keluarganya. Maklum keluarga Handan adalah salah satu keluarga terkaya di Kalimantan, mereka selain punya penambangan batu bara, juga mereka memiliki perkebunan kelapa sawit dan pabrik pengolahanya. Belum kalau tidak salah ibunya membuka jasa catering, yang sudah terkenal lezat.
Heran sih orang tua sudah tajir melintir, tapi anaknya tetap nyaman dengan profesi yang berbeda. Bahkan kalau aku tidak salah dengar kantor tempat Mas Azam mengais rezeki itu juga salah satu cabang kantor milik keluarga Handan. Tapi aku juga masih kurang tahu. Maklum sejak nikah aku jadi wanita yang hanya tahu dapur, sumur dan kasur.
"Gio ...tebak Tante bawa apa?" Suara Janah yang cempreng langsung menggema ketika mereka sudah pulang.
Aku hanya melirik ketika sahabatku membawa mainan dan jajan untuk Gio. Seneng banget lah punya teman seperti mereka yang tidak hanya perduli dengan aku tapi perduli juga dengan Gio. Bahkan mereka membelikan aneka mainan dan jajanan untuk Gio.
"Aku heran banget deh sama Azam dan Bu Dewi. Bisa-bisanya mereka dengan gosip terpanas sepanjang hari ini masih aman-aman saja. Bukanya dipecat atau minimal di mutasi kek, pindah ke kebon kelapa sawit buat mulung buah sawit yang pada rontok. Lah ini mereka malah masih bisa kerja dengan santai. Bahkan tadi mereka makan siang bersama. Udah kaya nggak punya malu." Meli datang-datang langsungĀ nyerocos ngumpat Mas Azam dan gundiknya.
"He'eh, aku yang lihat mereka makan bareng di kantin rasanya malu. Nah tuh orang biasa saja, kayaknya memang orang itu udah kehilangan urat malunya," imbuh Janah yang langsung duduk di samping aku. Sedangkan Meli duduk di depanku dengan tangan membuka mainan untuk Gio.
Jangan ditanya anak aku sudah pasti sedang asik juga buka mainan dari tante-tantenya.
__ADS_1
"Mungkin urat malunya sudah dipotong buat bikin baso," kelakarku, jelas nggak mau aku ambil pusing. Aku bawa bercanda aja. Jujur kalau aku ambil pusing sudah pasti aku sekarang sedang di kamar nangis-nangis bahkan mungkin sudah habis tisu berkotak-kotak untuk mengeringkan air mataku.
Yah, bersikap biasa saja dengan perjalanan nikah lima tahun dan masa pacaran tiga tahun tentu bukan hal yang mudah untuk langsung dilupakan, banyak sekali kenangan manis dengan perjalanan kita. Namun, aku sudah bertekad kalau aku akan menutup semua lembaran kebersamaan. Sehingga aku harus lebih santai agar tidak stres.
Kami pun bercerita apa saja yang terjadi di kantor selama satu hari ini. Yah, Meli dan Janah pun membawa bukti-bukti tambahan yang dia ambil dari grup whatsapp mulai dari kesaksian-kesaksian orang yang bertemu dengan pasangan zina di hotel dan masih banyak lagi yang Meli dan Janah bawa buktinya. Tidak salah memang aku minta bantuan dari dua sohibku.
"Mulai besok aku akan kerja," ucapku di tengah-tengah obrolan masih dengan topik yang sama yaitu perselingkuhan ayahnya Gio.
Meli dan Janah kaget ketika mendengar aku mau kerja.
"Kamu kerja? Nah Gio sama siapa?" tanya Janah.
"Ngapain sih Tazi, kamu nggak usah kerja lah. Kan Gio masih kecil, dan untuk tinggal aku nggak masalah kok kamu tinggal di rumah ini, dan untuk makan, seberapa banyak makan kalian sampai uang tabungan kamu nggak cukup." Meli langsung tidak setuju kalau aku kerja.
"Alasannya bukan itu aja Mel, Janah. Tapi alasanya ada hubunganya dengan hak asuh anak. Kalau aku tidak ada penghasilan dan disangka tidak bisa mencukupi kebutuhan Gio. Takutnya pihak Mas Azam mengajukan banding dan ingin meminta hak asuh Gio. Makanya aku harus punya penghasilan, dan menjaga Gio dengan baik dan memberikan tempat tinggal untuk Gio dengan baik pula agar pengadilan tidak ragu menjatuhkan hak asuh pada aku. Lagi pula aku tidak mau nanti ada omongan yang aneh-aneh dari pihak keluarga ayahnya Gio. Aku harus punya penghasilan agar tidak diinjak-injak dan dikatakan hanya numpang hidup dari Mas Azam." Aku membeberkan dengan jelas alasan aku ingin kerja.
"Ya udah kalau kamu mau kerja, tapi ngomong-ngomong kamu mau kerja di mana? Sudah dapat kerjaanya?" tanya Janah.
__ADS_1
Sebelum aku menjawab pertanyaan Janah, aku menatap Meli. Jujur ada rasa nggak enak ketika aku langsung dekat dengan Handan. Meskipun Handan bilang kalau dirinya dengan Meli nggak ada apa-apa, tapi hati kecilku mengatakan kalau Meli ada arti yang berbeda dengan apa yang terjadi di antara persahabatan mereka.
"Loh kenapa kamu lihat aku kaya gitu banget. Apa ada sesuatu dengan aku?" tanya Meli ketika aku justru melihat ke arahnya.
"Enggak ada sih, aku kerja di kantor keluarganya Handan. Apa kamu nggak keberatan?" tanyaku pada Meli, intinya aku nggak mau nodai persahabatan kita dengan selisih paham. Lebih baik aku jujur dengan pekerjaan itu. Dan kalau memang Meli keberatan dengan aku yang bekerja dengan Handan ya aku tidak akan memaksa. Aku bisa cari pekerjaan lain.
"Dih aneh kamu mah. Ya kali kalau mau kerja dengan keluarganya Handan kenapa emang?" tanya Meli justru terlihat santai aja.
"Ya aku kan cuma takut aja kamu ada perasaan dengan Handan, terus kamu salah sangka dengan aku," jawabku jujur, ya emang itu yang aku rasakan. Aku nggak mau aja kalau nantinya ada ucapan pagar makan tanaman.
"Gak lah, kita cuman teman," balas Meli dan berhasil membuat aku lega.
Setelah tahu hubungan Meli dan Handan tidak ada yang spesial seperti yang aku bayangkan aku pun cukup tenang, karena itu artinya aku dan Meli tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun aku harus tetap waspada. Karena, Handan play boy takut nanti yang merasa pacarnya akan menyerang aku.
Bismillah saja itu tidak akan terjadi. Dan mulai besok aku pun akan mulai bekerja. Meskipun berat meninggalkan Gio hanya dengan Bi Jum, tapi aku pasti kuat toh aku kerja juga demi kebaikan putraku di masa yang akan datang. Aku tidak ingin mengandalkan nafkah dari Mas Azam untuk Gio. Bukan aku sombong, tapi lebih baik aku nggak terlalu berharap apalagi keluarga Mas Azam itu cukup matre bisa-bisa nanti ada ucapan. Uang nafkah dari ayahnya Gio untuk kebutuhan Gio aku yang pakai untuk kebutuhan pribadi.
Membayangkan saja aku sudah panas dingin, apalagi kalau itu beneran terjadi, pusing kepala Tazi.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...