Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Gio Yang Ingin dimanja


__ADS_3

Terpecah tangisanku di sela kabut yang merapatkan pagi. Dalam gigil yang enggan mengenyah. Di saat kelopak-kelopak mimpi dari bunga tidur yang seharusnya masih memeluk tidurku dan tak henti merajai kenangan. Aku tak henti mengalun kata demi kata, di sepertiga malamku. Ku sisihkan kantuk untuk mengadu tentang masa lalu yang masih merindukan dendam. Mengadu tentang sekeping hati yang masih merasa tersakiti. Aku tidak lelah merajut segala doa, setiap saat untuk menguatkan hati yang masih merasa nyeri.


Pagi hari ini pun tidak ada yang istimewa, seperti biasa aku bangun di pagi hari dan selepas mengadu dan menjalankan kewajiban aku akan menyiapkan makan untuk bekalku dan juga anggota keluarga rumah ini termasuk putraku, Gio. Namun, tiba-tiba suara jerit tangisan Gio membuat aktivitas pagi hariku sedikit terganggu. Yah, entah ada apa tiba-tiba Gio bangun pagi menangis mencariku. Untuk mandi dan bahkan sarapan tidak ingin dengan yang lain. Aku pun memakluminya mungkin Gio sangat rindu dengan aku yang hampir satu bulan ini kurang menyisihkan waktu untuk memanjakannya, pekerjaan benar-benar banyak sehingga membuat waktuku banyak dihabiskan di tempat kerja. Sehingga untuk waktu bermain sangat kurang. Bahkan di akhir pekan aku tidak ada libur.


"Gio kenap Zi?' tanya Meli dan dibalas anggukan oleh Janah. Yang tumben pagi ini suara tangis Gio mendominasi seisi rumah, bahkan rumah yang biasanya sepi kali ini ramai oleh tangisan Gio.


"Tidak tau Mel, Jan, mungkin kangen aja sama emaknya. Maklum wanita karir waktu sama anak benar-benar kurang," jawabku dengan santai, dan setengah berkelakar.


"Oh, tapi Gio enggak sakit kan?" tanya Janah sembari memegang kening putraku dengan punggung tanganya. Namun, langsung ditepis oleh Gio dan tatapan Gio langsung melotot seolah dia takut kalau Janah akan melukai aku.


"Tidak, suhu badan normal, makan juga tadi masih mau. Hanya lagi manja sama bundanya aja," jawabku, menjelaskan kondisi Gio pagi ini, tidak ada yang janggal.


Aku tidak merasa kalau Gio hari ini beda, yang aku rasakan Gio hanya terlalu rindu dengan bundanya itu saja. Aku pun memanfaatkan pagi ini sebelum berangkat kerja untuk memanjakan putraku.


Jangankan Gio yang masih kecil dan masih sangat butuh kasih sayang bundanya. Aku sendiri kalau dulu suami kerja terus ingin memanfaatkan waktu sedikit saja untuk bermanja-manja. Tidak harus jalan-jalan atau makan romantis, cukup dengan memeluk dan saling mengerti sudah lebih dari cukup.


"Tazi, kamu mau berangkat bareng kita nggak?" tanya Meli, yah selama tiga bulan ini aku masih memanfaatkan kebaikan teman-temanku. Eh, awalnya niatnya sih hanya sekali kali nebeng, tapi makin ke sini makin keenakan dan sudah berjalan tiga bulan Meli jadi sopir pribadiku. Meskipun baiknya kalau berangkat kerja saja. Kadang-kadang kalau lagi mode baik pake banget sih dijemput juga kalau pulang kerja.

__ADS_1


Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Ini masih ada waktu untuk aku memanjakan Gio, lagi pula aku juga sudah izin pada Handan kalau aku datang telat, aku ceritakan juga kondisi Gio yang sedang ingin dimanja. Seperti biasa Handan tidak keberatan dan memberikan izin aku datang telat. Meskipun selalu ada saja candaan nyeleneh laki-laki itu.


"Kalian berangkat duluan aja. Aku nanti naik ojek. Tadi sudah izin sama Handan kalau datang akan sedikit telat, jadi paling nanti satu jam lagi aku bakal berangkat. Sekarang mau ajak Gio main dulu sebentar biar nggak sedih terus," balasku sembari mengajak main putraku yang pagi ini bener-bener tidak mau dengan Bi Jum. Aku berharap setelah satu jam ditemani main olehku Gio akan mengizinkan aku kerja. Tidak enak rasanya kalau aku ambil cuti. Apalagi aku dekat dengan Handan, tidak ingin nanti bakal ada gosip-gosip yang maha syahdu menghantam telingaku.


"Ok deh, kalau gitu kita berangkat yah. Kamu hati-hati nanti berangkatnya." Janah dan Meli pun lebih dulu berangkat kerja.


"Gio dadah ... jangan rewel yah. Gio kan anak baik. Nanti tante beliin cilok," ledek Meli sembari melambaikan tangan pada Gio, begitupun Janah.


Seperti sebelumnya Gio tidak memberikan respon sama Meli dan Janah, sangat berbeda seperti biasanya yang sangat rame dengan dua tante jahilnya.


Tepat pukul delapan. Aku pun kembali meminta izin sama Gio untuk kerja. Namun, kembali Gio menjerit bakal langsung merangkul tubuhku, seolah putraku ketakutan kalau aku akan pergi.


"Bi, bisa minta tolong bujuk Gio. Hari ini aku izin hanya masuk agak siangan tidak enak rasanya kalau sampai absen," ucapku sembari setengah berbisik. Tidak tega sebenarnya meninggalkan Gio dengan cara seperti ini. Namun, setelah izin dengan baik-baik dan Gio tidak mengizinkannya, aku pun menggunakan cara ini. Padahal prinsipku ingin kalau kerja izin dengan benar agar aku dapat ridho dari putraku.


Bi Jum pun membujuk Gio dengan mengajak melihat burung, ikan dan bermain bola. Awalnya tentu Gio menolak dan kekeh hanya ingin bersama dengan aku. Namun, ketika bujukan membeli es cream Gio pun mau. Aku membiarkan Gio memakan es cream yang memang sebenarnya aku membatasi makan-makanan manis. Tidak apalah sekali-kali. Setelah Gio mengambil es cream di kulkas tentu milik Meli dan Janah. Biar nanti aku tinggal ganti uang pada teman-temanku. Gio dan Bi Jum di taman belakang dengan menikmati es cream. Aku pun mengendap endap untuk pergi kerja.


Beruntung ojek yang aku pesan pun sudah datang.

__ADS_1


"Pt Jaya Sentosa Energi, yah Pak," ucapku sembari memakai helm.


"Siap Mbak."


Aku pun bisa bernafas dengan lega ketika tidak mendengar tangisan Gio lagi. Tidak apa-apa telat yang penting tidak absen, itu prinsipku. Belum juga ojek yang aku tumpangi pergi jauh. Bahkan aku baru keluar dari komplek rumah meli. Tiba-tiba aku merasa mobil di belakang kami, seperti dikemukakan oleh orang mabuk. Membawanya kencang, lalu pelan, kencang lagi dan pelan lagi. Membuat aku curiga, dan was-was. takut terjadi sesuatu.


"Pak, coba lihat deh mobil belakang. Kok mengemudinya kaya orang mabok," ucapku pada pengemudi ojek.


Supir ojek pun menurunkan kecepatanya, dan melihat dari sepion. "Kita pelan-pelan aja Mbak bawa motornya. Enggak buru-buru kan?" tanya sopir ojek. Aku pun menggelengkan kepala. Meskipun sebenarnya aku buru-buru karena sudah pasti telat, tetapi karena sudah izin Handan aku pun sedikit santai. Sehingga lebih baik selamat dari pada ngebut malah celaka.


Baru saja kendaraan yang aku tumpangi menurunkan kecepatanya. Tiba-tiba mobil belakang menaikan kecepatannya. Tepat di Jalan yang cukup sepi. Mobil itu semakin ngebut, aku pikir mobil itu akan menyelip kendaraan kami. Namun naas justru seolah mobil itu ingin menyelakai aku dan sopir ojek online.


"Pak minggir!!" teriaku. Namun sayang mobil itu semakin oleng dan ....


Barakkk .... tubuhku rasanya terbang, terpelanting hingga pandanganku gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Bersambung ...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2