Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Tangisan Ku Pun Pecah


__ADS_3

Tanganku meraih kunci mobil yang diberikan Handan. Tidak seperti biasanya yang mana aku selalu menolak apa pun yang Handan sarankan, untuk kali ini aku justru langsung mengambil kunci yang Handan berikan. Yah, aku memang saat ini butuh Handan, karena nasihat-nasihat dari laki-laki itu cukup membuatku nyaman. Di mana saat ini aku butuh nasihat dari Handan.


Pandanganku mengikuti ke mana arah Handan pergi, aku benar-benar pasrah menyerahkan semua urusanku pada Handan, karena aku tahu laki-laki itu sedang memperjuangkan hak ku dan juga Gio. Laki-laki itu memang play boy dan sangat menyebalkan saat aku menjadi temannya. Namun, benar apa kata dia ketika dia sedang bekerja ia sangat berbanding terbalik seratus persen. Dia sangat tanggung jawab dan juga sangat totalitas, untuk menyelesaikan kasus yang dihadapinya.


Dengan perasaan berat aku pun berdiri, ku ayunkan kaki ini meskipun rasanya berat. Ku tegakkan tubuh dan pandanganku. Seolah menunjukkan kalau aku baik-baik saja. Ku sisihkan tatapan-tatapan mengandung hujatan dari mereka yang tidak tahu permasalahan ku sebenarnya. Biarkan mereka berasumsi sendiri. Yang jelas aku adalah wanita yang sedang berjuang utuk harga diri sebagai seorang istri dan ibu.


Brakkk ... pintu mobil aku tutup dengan kasar. Tidak lupa aku menguncinya takut kalau ternyata ayahnya Gio tidak langsung pulang dan bisa saja dia menyelakai aku. Aku masih ingat ucapan Handan. Lagi-lagi aku harus waspada dan bisa jaga diri karena bisa aku rasakan Mas Azam yang dulu dengan yang sekarang sangat berbeda jauh.


Otakku meregang ketika kembali aku teringat dengan tamparan dari suamiku. Ini adalah pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini. Sekalinya ditampar di depan umum. Sakitnya bertubi-tubi.


Sesak yang sejak tadi aku tahan. Di dalam mobil akhirnya bendungan air mata ini pun pecah. Aku menangis meluapkan sesak di dadaku. Aku bukan wanita kuat yang bisa menahan ini sendirian. Aku juga memiliki batas kesabaran dan batas ketegaran. Sehingga ketika aku diperlakukan seperti ini air mata menjadi simbol betapa hancurnya hati ini.


Dulu laki-laki itu bukan hanya imam, dan pelabuhan hatiku. Aku menganggapnya jauh lebih dari itu. Dia adalah keseluruhan makna dari arti keluarga. Dia bukan sekedar imam, dia adalah sumber kebijaksanaan. Dia bukan sekedar suami dengan kasih sayang yang selalu tercurah setiap saat. Dia bukan sekedar tanah yang bisa menghidupi apapun yang ada di atasnya. Dia bukan sekedar tulang punggung keluarga kecil kami, dari dialah kami semua dihidupi dengan layak. Bangga pasti, itu yang aku rasakan selama lima tahun ini. Dia adalah sumber dari semua harapan, dia tidak pernah mengeluh meskipun setiap hari mengeluarkan peluh demi keluarganya. Dia adalah senja yang indah, malam yang memeluk dan sadarkan kamu tetang cinta dan ketulusan.

__ADS_1


Namun itu dulu, sekarang kebaikannya mengurai berganti dengan sifat yang sangat berbanding terbaik. Ternyata baik yang ia lakukan selama ini hanya sandiwara untuk menutupi kebusukannya, dan kini rasa sayangku berganti dengan rasa benci yang mengubur semua kenangan indah bersamanya.


Aku buru-buru menyeka air mata ketika pintu mobil di buka. Yah, dia adalah Handan.


Dengan terpaksa aku mengembangkan senyum terbaik untuk Handan. "Apa kamu sudah dapatkan rekaman CCTV barusan?" tanyaku, dengan suara yang berat.


"Kamu menangis?" tanya Handan.


Kembali aku menarik bibirku. "Aku hanya melepaskan sesak di dadaku, dan hasilnya aku sekarang jauh lebih baik lagi," jawabku dengan mengulas senyum agar Handan yakin kalau aku tidak selemah itu.


Aku mengulas senyum dan bangga serta puas dengan kerja Handan yang sangat baik.


"Kita sekarang pulang?" tanya Handan.

__ADS_1


Aku mengangguk dengan yakin. "Aku sudah kangen banget dengan Gio. Ini adalah pertama kalinya kami berjauhan," balasku dan memang sejak tadi aku sudah ingin pulang dan memeluk sumber kekuatan untuk aku.


"Iya aku juga udah kangen dengan calon anakku."


"Handan .... hentikan candaan kamu. Aku takut ada malaikat yang mencatat candaan kamu dan mengaminkannya." Aku kembali ke mode galak.


"Loh, itu bagus dong ...." Bukan Handan kalau laki-laki itu tidak ngeyel.


"Handan ...."


Hahahah laki-laki itu justru tertawa renyah.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2