Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Kabar Duka


__ADS_3

Alhamdulillahil ladzi dzahaba bin nahar wa jaa bil laili sakanan ni'matan minhu wa fadhlan. Allahummaj'alna laka minasy syakirin. Alhamdulillaahil ladzi 'afani fi yaumi hadza farubba mubtalan qad ibtuliya fima madla min 'umri. Allahumma 'afini fima baqiya minhu wa fil akhirati wa qina 'adzaban nar.


Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan siang hari dan mendatangkan malam untuk waktu beristirahat sebagai nikmat dan karunia dari-Nya. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang bersyukur kepada-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menyehatkan aku hari ini. Telah banyak cobaan yang telah aku jalani dari umurku. Ya Allah, sehatkan aku dari sisa umurku, dan di akhirat lindungilah aku dari siksa neraka.”


Aku mengusapkan kedua tanganku ketika akhirnya selang infus di tanganku dilepas yang itu artinya aku sudah sehat, akhirnya setelah dua hari aku dirawat di rumah sakit aku pun sudah bisa pulang. Rasa kangenku sudah menggunung dengan Gio. Apalagi kalau anak laki-lakiku itu selalu bertanya, 'Kapan Bunda pulang? Abang kangen Bunda!'


Hati ini rasanya seperti diiris-iris sembilu, sakit, tetapi tidak berdarah. Sakit tenggorokan seperti terpekik menahan rasa sakit dengan keadaan ini.


"Kamu sudah siap?" lamunanku buyar karena suara Handan. Aku hanya membalas dengan anggukan kepala yang lemah. Hanya Handan yang ada di sisiku saat ini. Meli dan Janah sedang kerja. Entah bagaimana aku cara membalas kebaikan Handan, bahkan untuk biaya rumah sakit ditanggung pengacaraku.


Lucu yah, seharusnya aku yang membayar dia karena sudah menjadi pengacaraku yang mana bayaran untuk pengacara itu sangat mahal, tapi malah aku yang selalu dapat tunjangan dari dia. Dengan dalih nanti bisa potong gaji. Yah, aku yang saat ini belum punya tabungan pun menerima bantuan Handan dulu. Namun, nanti aku akan ganti kalau sudah gajian.


"Ndan, menurut kamu lebih baik aku tetap sembunyi di sini, dengan banyak sekali masalah yang aku pikirkan, atau aku kasih kabar kedua orang tuaku? Meskipun aku yakin ke dua orang tuaku pasti akan sangat kecewa," tanyaku pada Handan, sejauh ini nasihat dia adalah yang paling baik dan juga nasihat dia selalu enak untuk dijalankan.


"Kasih tahu dong sama orang tua kamu. Bagaimanapun dia adalah orang tua kamu. Memang alasan kamu tidak mengatakan pada orang tua kamu apa yang terjadi?" tanya balik Handan.


Aku menunduk, dan memejamkan mataku. Yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanku sesungguhnya. "Mungkin bisa dibilang aku hanya gengsi," jawabku dengan lemah.


"Gengsi? Maksudnya apa? Kenapa harus gengsi bukanya orang tua kamu itu baik sama kamu." Handan memang tidak tahu bagaimana hubungan aku dan ayah serta ibuku sebelum ini. Wajar kalau dia tanya seperti itu.


"Intinya aku pernah bersitegang dengan kedua orang tuaku, gara-gara aku yang memilih menikah dengan Mas Azam sedangkan ke dua orang tuaku tidak mengizinkannya. Sehingga mereka sempat kecewa dengan keputusan aku, tapi akhir-akhir ini hubungan kami sudah baik-baik lagi, tapi aku malu kalau mengatakan yang terjadi dengan keluargaku. Aku takut mereka akan menertawakan aku, karena apa yang mereka katakan benar adanya." Aku menjelaskan dengan detail apa yang terjadi dengan keluargaku.

__ADS_1


"Kalau gitu kamu yang harus ngalah dan jangan punya pikiran kaya gitu. Orang tua itu ingin yang terbaik untuk anaknya. Saran aku kamu lebih baik kembali ke rumah orang tua kamu, dan seburuk-buruknya orang tua kalau lihat anaknya diterpa masalah mereka pasti akan membantu dan mendoakan begitupun dengan orang tua kamu. Pasti mereka akan mendoakan kamu jadi lebih baik kamu minta doa juga biar urusan kamu selesai."


Deg! Aku langsung merasa tercubit, ketika mendengarkan nasihat Handan. Benar juga mungkin masalahku selama ini tidak kunjung selesai salah satu penyebabnya adalah orang tuaku tidak memberikan doa. Restu orang tua adalah jalan keberhasilan anaknya. Seharusnya aku tahu itu. Tapi kenapa selama ini Ku tetap generasi.


"Baiklah kalau begitu aku nanti akan mengunjungi orang tuaku dan menjelaskan apa yang terjadi dengan aku. Aku juga akan meminta doa pada ke dua orang tuaku," balasku, dengan sangat yakin. Aku tidak boleh gengsi ataupun apa lah itu, toh memang kesalahan aku adalah memilih nikah dengan ayahnya Gio. Ya aku harus Terima apa pun jalan ku saat ini.


"Butuh bantuan tidak, kalau butuh nanti aku akan temani kamu menghadapi orang tua kamu?" tanya Handan yang langsung membuatku mengangkat wajahku. Aku tersenyum getir.


"Tidak usah aku bisa menghadapi semuanya sendiri," jawabku dengan yakin, dan memang benar kok apa yang aku katakan kalau aku bisa mengurus semuanya seorang diri.


"Hay, jangan salah aku hanya membantu kamu, takutnya nanti kamu akan butuh aku untuk menjelaskan kasus kamu dan segala macam. Emang dikira bantu apa?" tanya Handan dengan senyum yang misterius. Meskipun aku tahu kalau Handan awalnya akan mencari kesempatan di balik kesempatan yang hanya secuil.


"Udah yuk, aku mau ke temu Gio. Ngomong-ngomong kapan aku akan menemui adiknya Mas Azam?" Aku dan Handan kini berjalan bersama sembari tetap membicarakan kasus yang dia tangani.


Aku langsung memalingkan pandanganku ke arah Handan kaget ketika Handan mengatakan mereka, yang artinya lebih dari satu orang dong pelakunya.


"Mereka? Siapa saja?" tanyaku saking aku fokus dengan kesembuhan sampai aku lupa tidak menanyakan kasus perkembangan penabrakan itu.


"Iya ada tiga tersangkanya," jawab Handan dengan santai sontak saja aku terkejut dengan apa yang Handan katakan. Langkah kakiku langsung terhenti ketika Handan mengatakan tiga.


"Tiga?" tanyaku dengan melebarkan kedua bola mataku dan juga menunjukkan jari-jari yang menunjuk tiga.

__ADS_1


"Iya ada tiga dan bisa saja bertambah nantinya. Sekarang polisi masih mencoba mengorek informasi kira-kira siapa saja pelaku dan motifnya."


Aku mengangguk paham. "Lalu sopir ojol gimana? Aku mau jenguk dia," ucapku yang baru ingat dengan pengemudi ojek online yang saat itu bersama dengan aku.


"Itu dia sopirnya udah sembuh, makanya satu hari kemarin aku sibuk banget. Karena banyak yang dikerjakan." Terlihat dari raut wajah Handan kalau laki-laki itu nampaknya sangat sedih dengan ucapannya. Tubuhku pun langsung menegang kembali.


"Sembuh? Maksud kamu sopir ojek itu meninggal dunia?" tanya aku yang rasanya tidak mungkin baru kemarin Handan mengatakan pada aku kalau sopir itu kondisinya baik-baik saja, masa sekarang justru memberitahukan kabar lagi kalau sopir itu meninggal dunia.


"Yah itu lah umur rahasia Tuhan, pagi hari masih baik-baik saja. Bahkan sore hari dokter mengatakan bisa pindah ke ruang rawat. Malam hari langsung kejang dan kritis. Pagi harinya tiba-tiba meninggal dunia. Padahal malam hari sebelum kejang kata keluarganya sempat ngobrol dan menceritakan apa yang terjadi. Udah seperti orang tidak ada masalah apa-apa, tapi tiba-tiba kondisinya melemah dan sekarang sudah tidak sakit lagi."


Air mataku langsung menetes dengan deras ketika mendengar berita duka ini. Yah aku tidak menyangka sama sekali kalau kecelakaan yang ingin membuat aku celaka dan bahkan meninggal dunia malah berakhir pada orang lain yang kena getahnya.


"Inalilahi wainnailaihi rojiun... "


"Ndan, nanti aku boleh kan mengunjungi rumah duka, untuk menyampaikan bela sungkawa?"


"Boleh dong, keluarga mereka juga kemarin sempat menanykan kamu dan aku bilang kamu baik-baik saja. Makanya aku dan pilisi lagi cari siapa saja yang masuk dalam rencana ini, karena sudah menghilangkan nyawa maka hukumannya juga tidak main-main lagi. Ya menyesal pun mereka sudah tidak ada gunanya.


"Amin..." Aku selalu berdoa. agar nyawa dibayar nyawa. Bagaimana kalau aku yang berada di posisi sopir itu. Gio gimana? Meskipun aku tetap sedih mendengar sopir ojek meninggal dunia juga. Keluarganya pasti sedih banget , tulang punggung mereka telah berpulang.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2