
"Ayo buruan, aku antar kamu pulang!"
Aku menatap laki-laki yang sedang berdiri di sampingku. "Aku bawa mobil sendiri," jawabku sembari menunjukkan kunci mobil yang aku bawa. Lagi pula aku tidak ingin merepotkan Handan, dan juga aku belum resmi bercerai dari Mas Azam. Aku takut nanti mereka justru menyerang aku dengan tuduhan kalau aku ada hubungannya dengan pengacara sekaligus dengan sahabatku.
"Udah masalah mobil kamu nanti bisa diambil sama sopir, sekarang aku antar kamu pulang. Lagi pula ini sudah pagi. Kamu pasti belum tidur, kamu juga pikirannya lagi semrawut gitu jadiĀ lebih baik kamu duduk manis, dan aku antar sampai rumah kamu. Tenang saja aku nggak bakal macam-macam kok." Handan pun mengambil kunci yang aku pegang barusan, lalu menyimpannya di saku celananya.
Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang yang Handan katakan benar adanya. Pikiranku sedang kalut dan juga aku sedang banyak masalah, aku juga takut kalau nyetir mobil dengan pikiran seperti ini takut terjadi apa-apa.
"Ya udah, kalau kamu yang maksa aku nggak bisa nolak," balasku sembari bangun dari duduk dan berjalan menuju mobil Handan. Akhirnya pagi ini aku pun diantar pulang oleh teman kuliahku dulu. Yah, Handan adalah teman kami juga meskipun beda fakultas dan beda angkatan, tapi karena dia yang terkenal playboy dan mudah bergaul sehingga kenal dengan geng kami yang terdiri dari Janah, Meli dan aku, tapi aku sendiri begitu lulus kuliah tidak lama menikah dengan Mas Azam. Sedangkan Meli dan Janah masih sibuk mengejar karirnya, ya termasuk Handan.
Begitu duduk di mobil, tanganku langsung memencet kepalaku yang rasanya sangat berat. Mungkin karena pengaruh tidak tidur semalaman, terus juga stres yang luar biasa sehingga rasanya kepala mau pecah.
"Mau ke dokter?" tanya Handan, ketika mobil perlahan meninggalkan parkiran kantor polisi.
"Tidak perlu kayaknya. Mungkin ini karena pengaruh aku tidak tidur dan juga pikiran yang sedang banyak kaya gini, jadi ke kepala rasanya nyut-nyutan," tolak ku. Aku tidak mau merepotkan Handan lagi, setelah aku tidur pasti akan jauh lebih baik.
"Kamu itu selalu kaya gitu. Udah nggak usah nolak kalau dibilangin. Ingat Tazi kamu itu punya Gio yang masih kecil. Kalau kamu ada apa-apa siapa yang akan menjaga Gio. Kamu harus tetap kuat, tetap sehat dan juga tetap jaga kewarasan, emang kamu mau kalau Azam ambil alih hak asuh Gio. Jadi kamu harus jaga kesehatan. Sekarang aku antar ke rumah sakit periksa dan jangan bantah lagi. Justru karena kamu lagi stres gini kamu butuh bimbingan tim ahli kesehatan agar kamu bisa istirahat dengan baik dan agar masalah yang kamu alami tidak mempengaruhi jam tidur maupun makan kamu jadi kamu tetap sehat." Handan lagi-lagi benar, aku memang baiknya mengikuti apa kata dia. Jelas aku tidak mau kalau Mas Azam nanti mengambil Gio dari hidupku hanya gara-gara alasan aku sakit. Aku tetap harus sehat agar Mas Azam tidak bisa mengambil Gio dari hidupku.
"Ya udah kita ke rumah sakit sebelum pulang," balasku dengan pasrah.
__ADS_1
"Nah kalau kaya gitu kan kamu bisa tetap sehat dan Azam tidak ada alasan apa pun untuk mengambil Gio."
Aku mengangguk pasrah. "Dan, ngomong-ngomong menurut kamu yang sudah berpengalaman di bidang hukum apakah kasus yang aku laporkan pada polisi bisa terbukti bersalah, dan mereka berdua bisa di penjara? Atau justru kasus yang aku laporkan bisa cacat hukum dan tuntutan aku gugur dengan batahan mereka?" tanyaku, jujur ini adalah yang paling mengganggu dalam pikiranku sejak tadi. Aku takut kalau perjuangan ku akan sia-sia, dan mereka bisa tertawa dengan bangga.
"Jelas banget sebenarnya kalau yang kamu lakukan sudah benar, dan juga dari bukti yang barusan kamu berikan itu sebenarnya sudah sangat kuat, tapi tidak ada salahnya nanti kamu terus pancing tukang selingkuh itu untuk mengakui kalau dia sudah tidur bareng dan dilakukan sejak kapan. Pokoknya kamu pancing terus Azam agar mengorek semua perbuatan busuknya, kalau kamu bisa dapatkan bukti itu maka aku bisa patikan sembilan puluh persen kamu menang, yang sepuluh persennya mungkin kamu kalah kalau mereka menggunakan kekuatan uang. Tapi kamu jangan khawatir, nanti tim aku akan awasi penuh persidangan ini, sehingga tidak akan ada celah mereka untuk menggunakan kekuatan uang." Mendengar penjelasan Handan jujur aku sedikit bisa bernafas lega.
Sebelum pulang ke rumah Meli, aku pun lebih dulu memeriksakan diri dan minta vitamin dan obat tidur, yah aku pasti setelah ini tidak akan mungkin bisa tidur dengan nyenyak karena masalah yang terus datang silih berganti. Setelah dari dokter, kami kembali melanjutkan perjalanan. Kini aku tinggal pulang dan istirahat. Mungkin dengan memeluk Gio aku akan jauh lebih baik. Saat ini kekuatanku adalah Gio. Aku akan perjuangkan apa pun untuk kebahagiaan Gio.
"Ngomong-ngomong rumah kamu di mana?" tanya Handan, memecah lamunanku.
Ya Tuhan, saking banyak pikiran dan juga merasakan sakit kepala yang luar biasa menyiksa. Aku sampai lupa kalau aku saat ini sedang mengungsi.
"Jangan antar aku ke rumah. Sekarang aku lagi ngungsi di rumah Meli, dan Janah, kamu bisa antar aku ke rumah Meli," balasku, dengan suara lirih.
Lagi, aku lupa, jadi Handan harus putar balik karena gang rumah Meli sudah kelewatan.
Yah, aku memilih tinggal di rumah Meli karena dia di rumah tinggal seorang diri, awalnya Meli hanya dengan pembantunya. Eh, tapi Janah juga memilih tinggal dengan Meli, alasannya ya buat teman Meli tidur. Maklum orang tua Meli sibuk dengan kerjanya sehingga rumah mereka selalu kosong. Mungkin itu salah satu alasan Meli meminta Janah menginap di rumah dia juga.
Dan kini aku tambahi rumah Meli dengan kedatangan aku dan anakku yang sudah pasti akan sangat ramai. Siap-siap saja Meli tidak akan pernah mau tidur malam karena berisik oleh penghuni baru ini.
__ADS_1
Tidak harus menempuh lama kini aku pun sudah sampai di rumah Meli.
"Kamu mau mampir?" tanya aku pada Handan ya kali dia mau mampir ketemu Meli.
"Gak usah lah. Aku juga ngantuk, pengin lanjut tidur lagi. Tapi kalau boleh tidur bareng Gio sih boleh juga mampir, sekali pendekatan sama calon anak." Lagi, Handan emang selalu seperti itu. Ingat yah dia hanya bercanda, aku sudah hafal betul dengan sifatnya sehingga aku sudah kebal.
"Kirain kamu mau ketemu Meli makanya mampir," ledek ku mengacuhkan candaan Handan.
"Ya udah salam buat Meli dan Janah, buat bundanya Gio juga yah. Nitip salam ditunggu jandanya."
Hush... aku membuang nafas kasar, mendengar gombalan Handan yang lancar tanpa hambatan.
"Hati-hati ah kalau bercanda, takutnya di aminkan sama malaikat, nanti nyesel lagi dapat janda. Mana janda anak satu," balasnya aku nggak tau Handan seperti apa, Mas Azam yang kelihatan pendiam dan setia aja nyatanya bikin aku kecewa apalagi yang watak tebar pesona kaya Handan apa bisa aku punya kesabaran seluas samudera.
"Yeh malah seneng lagi dapat yang udah pengalaman, gak harus buka kursus dulu dan membimbing. Malah aku yang dibimbing."
Handan tertawa renyah, aku pun hanya membuang nafas kasar dan bergegas turun, kelamaan berduaan sama Handan otakku tambah pusing.
"Tazi, salam yah buat Gio."
__ADS_1
Bersambung....
...****************...