
"Iya-iya, aku yang salah, kalian memang semua benar. Mulai sekarang aku berangkat kantor sendiri aja Mel, Taz." Janah langsung mengambil tasnya dan beranjak dari duduknya lalu berangkat lebih dulu untuk ke kantor.
"Jan, jangan kaya gini lah. Ok aku minta maaf_"
Brakkk... suara pintu tertutup keras. Lagi-lagi ucapan Meli terhenti karena Janah menutup pintu dengan keras. Aku dan Meli pun saling tatap. Pagi ini Janah sangat berbeda. Tidak seperti biasanya yang tetap santai.
"Taz, emang aku salah yah. Kalau aku tidak cerita sama Janah dulu tentang rencanaku untuk resign?" tanya Meli dengan wajah yang murung.
Aku jadi serban salah juga. "Kayaknya sih memang seharusnya kamu juga kasih tau dengan Janah. Karena bagaimanapun Janah juga teman kamu yang bisa dikatakan Janah memang jauh lebih kenal kamu dibandingkan aku. Itu sebabnya Janah marah. Karena dia merasa kalau kamu hanya menganggap aku sebagai teman kamu."
Aku tau ucapanku mungkin akan menyakiti Meli, tapi ini juga bisa dijadikan pelajaran oleh Meli kalau apa-apa harus dibicarakan dengan sahabatnya semuanya tidak hanya salah satu, dan menimbulkan keirian dari yang lainnya. Aku pun ikut introspeksi diri dalam masalah ini. Meli pun mengangguk paham.
Meskipun pikiranku tidak tenang karena kemarahan Janah, tetapi aku dan Meli pun mencoba tetap berangkat kerja. Apalagi hari ini aku akan mengundurkan diri. Namun baru juga aku sampai di kantor Meli sudah kembali telpon.
"Ada apa dengan Meli yah? Kenapa malah telpon? Apa dia dan Janah kembali marahan?" batinku, karena tidak sabar aku pun langsung mengangkat telpon Meli untuk tahu apa yang kiranya buat dia telpon aku.
"Ada apa Mel?" tanyaku setelah mengucapkan salam.
"Taz, kamu tau Janah ke mana tidak?" tanya Meli dengan suara yang bergetar.
"Hah, Janah? Bukanya kamu dan Janah yang kerja satu kantor. Emang Janah belum sampai?" tanyaku agak lain memang, apalagi Janah berangkat jauh lebih dulu dari pada kami.
"Belum Taz, makanya itu kayaknya dia nggak masuk kerja deh. Ini aneh banget, apalagi Janah itu biasanya yang paling rajin, tapi kali ini Janah ko kaya gini sih. Lagian menurut aku kesalahanku itu bukan yang fatal banget kan Taz, tapi kenapa Janah langsung kaya gini." Suara Meli dari kejauhan kembali serak, aku pun semakin bingung harus berbuat apa. Apalagi aku dan Meli kerjanya beda kantor, dan jelas jaraknya lumayan jauh.
"Mungkin Janah lagi pengin istirahat dulu Mel, kamu tenang yah. Nanti kalau pulang kerja kita cari Janah."
"Iya Taz, kamu bantu aku jelasin ke Janah yah."
"Pasti Meli, aku pasti bantu kamu. Apalagi aku juga merasa bersalah gara-gara aku masuk ke pertemanan kalian, kamu jadi ada masalah kaya gini." Yah meskipun Meli bilang bukan gara-gara aku, tapi tetap saja aku berpikir seperti itu.
__ADS_1
Hari ini pun terasa lama sekali, apalagi kerja juga tidak bisa fokus dengan kerjaan. Pikiranku terus bertanya-tanya. Di mana kira-kira Janah. Apalagi nomer ponselnya di matikan, keluarga Janah juga tempatnya jauh dari sini. Kami juga tidak ada yang tahu kira-kira keluarga Janah nomer telponnya berapa. Sehingga tidak bisa mengecek di mana Janah.
Jam kantor pun sudah berakhir, aku langsung pulan dan janjian dengan Meli di cafe. Tidak lain kamu mencoba mencari Janah.
"Mel, maaf telat tadi ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal," ucapku ketika melihat Meli sudah datang lebih dulu.
"Tidak apa-apa, aku juga baru datang. Kira-kira kita cari Janah ke mana yah. Kamu tahu kan Janah tidak mengaktifkan nomer ponsel," tanya Meli kali ini wanita itu terlihat jauh lebih tenang tidak seperti pagi tadi.
Aku mencoba berpikir sejenak. "Kira-kira kamu dan Janah ada tempat paling favorit tidak? Atau kita cari ke mall. Mungkin saja Janah sedang jalan-jalan di mall." usulku, meskipun aku tidak yakin-yakin banget kalau Janah jalan-jalan di mall seharian.
Untuk sesaat Meli nampak berpikir, mengingat-ingat tempat yang ia dan Janah sering datangi.
"Aku dan Janah tidak ada tepat favorit Taz, kamu tau aku dan Janah yang tidak suka jalan-jalan dan kumpul-kumpul dikeramaian kan? Jadi hari-hari kita ya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah," jawab Meli dengan yakin, dan memang yang dia katakan benar Janah dan Meli tidak suka keramaian sehingga kalau libur pun mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mereka. Mereka jauh lebih suka dengan membaca novel dan hal lain yang tidak kelayapan.
Aku mengangguk paham dengan apa yang Meli katakan.
"Mungkin tidak kalau sekarang Janah sudah ada di rumah, dan Janah memilih di rumah untuk tiduran?" tanyaku kembali.
"Kayaknya tidak harus pulang, kita telpon Bibi atau satpam di rumah kamu. Dan kalau Meli ada di rumah kita langsung pulang."
"Astaga Taz, kenapa aku tidak kepikiran sama sekali." Meli pun langsung mengambil telpon genggamnya, dan segera menghubungi orang rumahnya. Aku terus memperhatikan cara Meli berinteraksi yang sepertinya ada kabar bahagia, dari cara Meli berbicara, dan senyum di bibirnya.
"Gimana Mel, apa Janah ada di rumah?" tanyaku tidak sabar rasanya ingin tahu hasil pembicaraan Meli dan orang rumahnya.
"Kita pulang sekarang, Janah udah pulang." Dengan wajah gembira Meli langsung menggandengku. Aku pun tidak sabar rasanya langsung mengikuti Meli, ingin segera minta maaf juga pada Janah.
Sepanjang perjalanan kami pun tak henti-hentinya berdoa agar Janah tidak marah lagi. Kasihan Meli nanti pergi dengan perasaan yang tidak tenang karena kesalahpahaman.
"Ayo Taz ...." Meli terlihat semangat banget akan bertemu dengan Janah. Aku pun mengikuti Meli, dan ....
__ADS_1
"Kejutan ...." Aku dan Meli mematung terkejut, kaget dan bingung.
"Mel kamu ulang tahun?" tanyaku yang benar-benar tidak ingat kalau hari ini adalah ulang tahun Meli. Yah, itu yang aku baca dari tulisan di spanduk yang sengaja dicetak oleh mereka.
"Iya kali ..." jawab Meli dengan bingung ternyata kemarahan Janah tadi pagi hanya akting, ia menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Meli. Yang membuat benar-benar kejutan adalah ke dua orang tua Meli dan juga Gio ada di sini.
Jadi yang ulang tahun Meli kejutan pun bukan hanya untuk Meli, aku pun terkejut dengan hadirnya Gio dan adik-adikku, serta Bi Jum. Eh, ada orang tuaku juga pastinya.
"Bunda ..." Gio langsung berlari memelukku. Rasanya rindu ini langsung terobati, Janah tau saja kalau aku sedang rindu dengan Gio.
"Meli pun nampak sangat bahagia dengan berkumpulnya keluarganya.
"Mamih, Papih kenapa pulang nggak ngomong-ngomong." Meli langsung memasang wajah merajuk, pada kedua orang tuanya.
"Kalau ngomong-ngomong tidak kejutan dong, iya kan Tante, Om." Janah dengan muka tengilnya, menjawab pertanyaan Meli.
"Ini pasti ide gila kamu, aku pikir kamu beneran marah Janah, seharian ini aku kaya orang gila gara-gara kamu." Meli langsung memaki Janah dan tangan memukul sahabatnya itu, Janah pun tertawa puas.
Malam ini pun menjadi malam yang sangat bahagia, bukan hanya Meli tapi untuk aku juga. Keluargaku pun kumpul semua untuk merayakan ulang tahun Meli, dan tidak habis pikirku ternyata Janah yang menjemput mereka. Benar-benar Janah memang tau banget kalau aku sedang rindu dengan keluargaku, terutama Gio. Malam ini pun putraku nampak bahagia banget karena jadi anak kecil satu-satunya yang jelas disayang oleh semuanya.
Sebenarnya aku juga kesel sama Janah yang punya ide gila ini, tapi tidak masalah lah aku anggap impas karena ide Janah dan perjuangannya yang mendatangkan orang tuaku.
Ternyata hidup sendiri membesarkan anak sendiri tidak sehoror pertama kali aku bayangkan. Memang kini aku jadi bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan diriku sendiri, tapi itu semua terobati dengan anakku yang tumbuh dengan baik dan mengerti keadaanku.
Meskipun Gio tidak tau apa yang terjadi dengan ayahnya. Mantan suamiku dari kita bermasalah sampai dia dipenjara belum datang menemui Gio. Entahlah apakah nanti kalau sudah keluar dari penjara akan datang untuk menemui anak-anaknya, atau justru tidak itu terserah dia, yang penting aku tetap akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anakku. Sebagai orang tua tinggal aku menikmati peran ku sebagai ibu sekaligus ayah. Ini sudah jadi keputusanku sehingga aku akan jalani dengan ikhlas. Aku yakin suatu saat kami pasti akan bahagia meskipun hidup tanpa ayah dan suami. Mungkin jauh lebih baik seperti ini aku tidak harus cape dengan drama rumah tangga yang tidak ada habisnya. Anak dia sudah jauh lebih cukup sebagai penguatku.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan Tazi yuk mampir ke novel besties othor.