
Hari pertama aku berkerja, semuanya berjalan dengan lancar. Teman-temanku pun sangat mendukung dan banyak membantuku. Mereka benar-benar membuatku nyaman di pekerjaan ini. Hari pun terus aku jalani dengan baik. Setiap akhir pekan aku pasti pulang ke rumah orang tuaku, untuk melepas rindu dengan Gio.
Jangan ditanya cape atau tidak? Jelas sebagai wanita yang sedang berbadan dua. Cukup cape untuk aku harus menempuh perjalanan yang cukup lama.
Namun, aku dari awal sudah memutuskan ini, sehingga aku pun harus melakukannya dengan ikhlas. Persidangan kasus perzinaan ayahnya Gio pun masih terus berlanjut. Bahkan aku dua kali bertemu dengan ayahnya Gio. Kami tidak ada obrolan, karena bagi aku tidak ada yang diobrolkan. Aku sendiri sudah membuka whatsapp blok nomer mantan suami. Karena takutnya ayahnya Gio akan bertemu dengan Gio.
Aku mengatakan kalau Gio ada di rumah orang tuaku. Kalau mau ketemu Gio kabarin aku agar bisa memberikan waktu untuk Gio, bertemu dengan ayahnya.
Nampaknya hingga hari ini sudah tiga bulan sejak kami bercerai dan persidangan pun tinggal penunggu ketuk palu. Tidak ada pesan maupun ucapan secara langsung kalau mantan suami ingin bertemu dengan Gio. Aku kembali memaklumi mungkin memang ayahnya Gio sedang sibuk. Maklum kasus adiknya pun sudah masuk ke persidangan. Sehingga pasti menguras energi dan pikiran ayahnya Gio.
Itulah akibatnya dari orang-orang yang licik sehingga membuat keputusan yang merugikan diri sendiri. Coba kalau tidak rakus, iri dengan nasib orang kepanasan dan berniat menghancurkan kami. Akhirnya kena batunya sendiri. Aku sendiri sudah beberapa kali diperiksa untuk jadi saksi dari kasus penabrakan adik dari mantan suami.
Soal rumah dan kendaraan pun semuanya sudah laku terjual. Seperti rencanaku diawal hasil penjualan aku sumbangkan.
Keputusanku sempat mengundang masalah dengan keluarga kakek dan neneknya Gio. Katanya aku terlalu sombong, dan sok suci menyumbangkan harta pemberian ayahnya Gio hanya karena dapat uang itu tidak halal. Namun, lagi-lagi mereka mengatakannya lewat unggahan di facebook, sehingga aku tidak ingin menanggapinya. Apa pun yang diunggah ke media sosial aku anggap itu hanya mencari panggung dan menyudutkan aku agar aku dihujat. Namun, nyatanya banyak yang justru mendukung perlakuanku.
Krekettt ...
__ADS_1
Aku yang ngangkat wajahku saat pintu ruangan dibuka. Seseorang yang sangat aku kenal pun masuk dan duduk di kursi di hadapanku.
"Ada apa? Kok wajahnya kayaknya bahagia banget?" tanyaku pada Handan yang jangan ditanya wajahnya seperti baru dapat bonus besar.
"lagi seneng aja, sebentar lagi kasus kamu dan Azam selesai. Jadi bisa pendekatan dong sekarang mah. Apalagi sebentar lagi kamu juga lahiran, bisa lah daftar jadi pengganti ayahnya Gio." Handan tertawa dengan renyah.
Oh, aku sadar selama ini Handan seperti menjaga jarak dengan aku, karena dia tahu aku masih masa Idah dan tidak ingin ada gosip tentang aku dan dirinya.
Aku hanya membalas ucapan Handan dengan senyum masam. Intinya aku tidak ingin membatasi Handan kalau memang ia ada niat baik untuk menjadi pengganti ayahnya Gio. Namun, semuanya harus atas persetujuan orang tuaku. Kalau kedua orang tuaku setuju maka aku pun tidak akan menolak. Mungkin saja Handan jauh lebih tanggung jawab dari ayahnya Gio.
"Aku juga kayaknya kalau kehamilanku sudah tujuh bulan akan resign, cape juga ternyata pulang pergi dengan jarak yang cukup jauh, apalagi kalau sudah hamil besar ingin kumpul dengan anak dan keluarga," ucapku, agar Handan tidak berpikir macam-macam, yah saat ini usia kandunganku sudah hampir tujuh bulan, hanya saja, aku yang pakai gamis dan selalu pakai pakaian besar sehingga ayahnya Gio sampai detik ini tidak tahu kalau aku sedang hamil anaknya.
Kehamilanku pun saat ini terlihat seperti jauh lebih kecil sehingga kalau yang melihatku sekilas tertipu seolah aku tidak sedang hamil. Mungkin juga karena aku sekarang kerja, dan setiap jum'at malam aku selalu langsung pulang ke rumah orang tuaku dan minggu malam akan kembali lagi ke sini sehingga aku sekarang jauh lebih kurus. Tubuh tidak bisa bohong kalau aku lelah. menjalani ini semuanya.
"Itu menurut aku juga lebih bagus, karena kamu bisa jauh lebih tenang," balas Handan. Yah, aku tahu temanku adalah laki-laki yang baik dan tidak neko-neko. Semakin lama aku kenal Handan, aku pun semakin kagum di balik sifatnya yang play boy dan kadang ceplas ceplos Handan adalah orang yang baik.
"Dan, menurut kamu apa aku lebih baik mengatakan pada ayahnya Gio kalau aku sedang hamil anaknya atau tidak usah?" tanyaku pada Handan, jujur ini cukup mengganggu pikiranku. Meskipun kalau aku boleh egois aku tidak ingin ayahnya Gio tahu kalau aku sedang hamil anaknya lagi. Untuk saat ini bertemu dan mengapa saja rasanya sangat malas apalagi kalau ia tahu aku hamil anaknya otomatis akan ada hubungannya yang kembali harus diperbaiki demi anak-anak kami. Meskipun tidak dengan rujuk.
__ADS_1
"Loh kenapa tidak. Lebih baik kamu katakan saja kalau kamu sedang hamil anaknya. Biar tidak jadi fitnah juga, karena bagaimanapun Azam adalah ayah biologis anak yang sedang kamu kandung. Lagian kalau anak kamu cewek, Azam tetap walinya nanti kalau mau nikah jadi lebih baik kamu katakan dengan jujur." Lagi, nasihat Handan membuatku sadar kalau memang seharusnya aku mengatakan dengan jujur mengenai kehamilanku.
"Tapi kalau ayahnya Gio tidak mau mengakui anak ini bagaimana?" Jujur dalam hatiku ada rasa takut, kalau nantinya ayahnya Gio malah menuduhku berbuat yang tidak-tidak dengan laki-laki lain. Maklum selama ini mereka mencari ke burukanku, tetapi tidak ketahuan juga. Aku tetap lolos dari masalah-masalah yang mereka buat.
"Itu urusan Azam, karena Azam yang akan rugi. Kamu cukup kasih tahu faktanya kalau kamu hamil anaknya. Masalah tidak mengakui, kamu jangan ambil pusing. Aku yakin anak kamu tidak akan kehilangan kasih sayang. Dan yang rugi juga nantinya Azam. Tapi kalau dia pintar tidak mungkin dia berpikir yang tidak-tidak. Dia tahu usia kehamilan kamu dan juga usia perpisahan kamu pasti bisa tahu jawabannya."
Mendengar nasihat dari Handan kini perasaanku pun jauh lebih tenang. Benar memang toh tugasku hanya memberitahukan kalau aku sedang hamil anaknya percaya atau tidak itu urusan dia nantinya. Yang penting aku jujur agar ke depannya tidak jadi masalah. Bisa saja kan kalau aku bicaranya telas malah Mas Azam mengira yang tidak-tidak.
"Ya udah, kamu nggak ada kerjaan lagi pulang yuk sekalian aku mau ketemu Janah."
"Ketemu Janah apa temennya Janah? Udah sih jujur aja udah sampai mana hubungan kamu dengan Meli?" ledekku yang langsung di balas wajah masam.
"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Meli, Tazi. Orang aku memang mau ketemu dengan temennya Janah, tapi itu kamu bukan Meli. Aku sama meli cuma teman. Sebatas teman tidak lebih," jelas Handan.
"Iya-iya, aku percaya. Lagian Meli juga bilang begitu ko."
Yah, aku memang sebelumnya udah berkali-kali juga mencoba mencari tahu apa yang terjadi di antara hubungan Handan dan Meli dan baik Handan maupun Meli semuanya sepakat bilang kalau hubungan mereka itu hanya teman jadi aku lega deh. Kalau pun nanti Handan dekat dengan aku, setidaknya Meli tidak marah karena mereka tidak ada hubungan apa-apa.
__ADS_1
Bersambung.....
...****************