
Aku tersentak kaget dari lamunanku, ketika mendengar suara pintu dibuka dengan kasar, dan diikuti dengan suara-suara yang sudah tidak asing lagi.
"Tazi ...." Suara Meli dan Janah langsung membengkakkan telingaku. Aku menutup kedua telingaku dengan telapak tangan.
"Kamu gak apa-apa kan? Siapa yang bikin loe sampai rumah sakit begini." Janah si tukang panikan langsung bersikap kaya ibu-ibu rempong.
"Kalian kenapa sih, bisa nggak kalau ngapa-ngapa jangan kaya di hutan. Ini rumah sakit. Bikin kaget aja," ocehku dengan tatapan mata yang tajam. Tujuannya agar teman-temanku merasa bersalah dan tidak mengulanginya lagi kelakuan yang sangat menjengkelkan itu. Namun, apakah mereka mendengar ucapanku. Tentu saja tidak! Meli dan Janah malah tertawa tanpa dosa. Puas banget kayaknya kalau aku marah.
"Kamu hamil lagi yah?" ledek Meli dengan senyum yang sangat menyebalkan, aku pun yang masih belum sepenuhnya terima kehamilan ini hanya membalas dengan membuang pandangan ke luar jendela.
"Kata Handan tadi kamu ditabrak. Apa itu ada hubungannya dengan si Azab." Janah tidak mau kalah kepo juga. Mana sekarang Meli dan Janah kalau panggil ayahnya Gio bukannya Azam tapi Azab.
Ya, lucu sih aku pun langsung terkekeh ketika mendengar panggilan itu. Gagal deh akting marahku sama dua orang yang sangat rese ini.
"Kenapa kalian tidak tanya Handan saja," balasku kembali dengan mode yang kesal.
"Handan lagi sibuk, dari tadi aku telpon tidak diangkat, aku chat minta kasih tahu kamu dirawat kamar berapa pun tidak dibalas sama dia, bikin kesel aja," oceh Meli.
__ADS_1
"Mungkin dia lagi sibuk dengan gebetan baru," ejek Janah.
"Mungkin dia lagi sibuk. Cari pelaku penabrakan yang menimpa aku. Doain yah agar cepat ketangkap. Rasanya aku jadi takut keluar rumah kalau penabrak itu tidak ditangkap juga." Ini baru jawaban aku masuk akal.. Kalau jawaban Janah emang hanya iseng doang. Eh salah bukan iseng tapi. lebih tepatnya meledek Meli.
"Ya udah kalau gitu kamu jangan keluar rumah dulu, di rumah aja terus lagian kamu kan lagi hamil. Tidak bagus ibu hamil capek kerja," sela Janah dengan entengnya, dan sok bijak banget kan. Udah kaya yang tau ajah gimana jadi ibu hamil, dia aja masih kuat jadi jomblo sejati.
"Enak banget ngomong gitu. Meskipun aku lagi hamil kalau aku tetap di rumah saja, siapa yang bakal kasih makan aku dan anak-anakku, siapa yang akan biayain persalinan aku nanti. Aku harus tetap kerja lah. Hidup di dunia ini tidak ada yang gratis. Ya kecuali kamu mau patungan kasih nafkah buat aku dan Gio sekalian," balasku dengan yakin. Yah sebagai singel parent aku juga ingin memberikan yang terbaik untuk putra dan putriku.
"Lah, kamu kan juga punya duit banyak Tazi, yang waktu aku ambil dari rumah Azab dari perhiasan dan tabungan kamu cukup lah buat biaya kalian sampai beberapa tahu ke depan. Emang Gio makan sehari langsung satu juta sampai kamu bingung buat biaya kalian nantinya." Meli tidak mau kalah mrngatakan kalau aku adalah orang kaya raya.
Aku hanya tersenyum hambar mendengar ucapan Meli dan Janah.
"Bukan aku tidak bersyukur aku sampai detik ini juga masih punya tabungan di rekening ku bisa dikatakan cukup untuk makan kami, selama satu tahun belum tabungan uang cash yang kamu dan Janah sempat ambil saat aku pertama kali tahu kelakuan ayahnya Gio. Bukan hanya uang cash yang aku punya, perhiasan surat-surat penting dan juga mobil itu lebih dari cukup kalau aku gunakan untuk kebutuhanku sampai anak keduaku lahiran. Namun, aku masih teringat betul bagaimana Mas Azam menghinaku dengan istilah enak makan uang haram. Dulu mungkin aku tetap tenang karena aku tidak tahu bagaimana cara suamiku mendapatkan harta ini. Namun sekarang setelah aku tahu kalau harta yang ayahnya Gio dapatkan bukan murni dari kerja yang halal, aku pun berencana untuk mengembalikan uang-uang itu, atau kalaupun uang itu jadi milikiu karena harta gono gini maka aku ingin menyumbangkannya. Bukan karena sombong dan lain sebagainya. Aku hanya ingin anak-anakku mendapatkan makan dari harta yang halal," balasku menjabarkan apa alasan aku banting tulang dengan getol dan tdak ingin memakai uang dari ayahnya Gio. Barang satu peser pun.
Bahkan untuk kesehari-hari aku rela menghemat uangku.
"Tapi kamu jangan terlalu cape ingat kamu sedang hamil." Akhirnya Janah dan Meli pun mengerti berada diposisiku.
__ADS_1
"Kalian tenang saja aku bukan cewek yang lemah. Aku pasti baik-baik saja dan tidak akan kenapa-kenapa baik aku maupun anakku." Kami pun masih saling bercerita satu sama lain. Hingga aku yang kangen sama Gio pun meminta agar dua sahabatku menghubungi Gio, dan meminta Bi Jum jaga Gio sampai aku sembuh. Doa pun mengalir dari Bi Jum yang sudah seperti keluargaku. Tidak hanya Bi Jum, Gio pun setelah melihat aku jadi tidak rewel lagi. Beruntung dia adalah anak yang baik. Seolah tahu kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja, dan harus istirahat di rumah sakit sehingga kata Bi Jum tidak rewel sama sekali.
Bertepatan dengan aku mengakhiri panggilan dengan putraku. Telpon lain pun berdering.
"Siapa Jan?" tanyaku pada Janah yang mengangkat teleponku.
"Abang pencara, nih kamu yang angkat." Janah memberika teleponnya padaku.
"Kenapa harus aku, kamu aja yang angkat. Aku mau kirim pesan sama Bi Jum," balasku, jari-jariku pun langsung bergerak gerak di atas layar smart phone pura-pura berkirim pesan sungguhan pada Bi Jum, padahal aku lagi malas angkat telepon dengan Handan.
"Dia pasti mau ngomong sama kamu Taz." Janah masib berusaha agar aku mau angkat telepon dari Handan.
"Tolong kamu yang angkat wakilkan tanya ada apa, aku lagi cape Jan." Aku memberikan tatapan permohonan pada Janah yang masih menginginkan aku yang angkat telepon.
Bersambung...
...****************...
__ADS_1