
Hari terus berjalan, waktu pun terus berlalu, dan kini apa yang aku tunggu pun datang. Di mana hari ini adalah sidang putusan dari kasus perzinaan yang aku laporkan. Untuk pertama kalinya aku pun bertemu dengan Bu Dewi dan mantan suamiku. Terakhir aku bertemu dengan Bu Dewi adalah saat malam kejadian di kantor polisi. Sedangkan dengan ayahnya Gio aku beberapa kali bertemu saat persidangan. Namun, belum berhasil berbicara dengan kepala dingin.
Sama seperti biasanya aku dan dua orang itu tidak saling bertegur sapa, apalagi dengan Bu Dewi. Wanita itu saat ini jauh lebih terlihat tua dari yang dulu aku lihat. Dengar dengar saat ini gundik dari suamiku bekerja di perusahaan yang sama hanya saja bagiannya tidak sementereng saat bekerja di kantor yang sebelumnya.
Bukan hanya Bu Dewi yang wajahnya terlihat semakin tua. Ayahnya Gio juga wajahnya sangat terlihat tidak terawat. Kulitnya sekarang coklat dan pakaiannya lusuh. Mungkin karena laki-laki yang pernah menjadi suamiku saat ini bekerja di lapangan sehingga terkena sinar matahari dan juga tidak ada yang merawat sehingga penampilannya sangat terlihat jauh lebih tua dari umur sebenarnya. Jelas kalau dibandingkan Handan lebih tua Handan dari umur, tetapi kalau boleh jujur sekarang lebih terlihat wajahnya tua ayahnya Gio.
Tepat pukul sepuluh pun pembacaan putusan sidang di bacakan.
Jangan ditanya tanganku pun terasa sangat dingin. Aku takut kalau laporanku tidak terbukti meskipun dari bukti sudah sangat kuat.
"Jangan tegang gitu ah, jelek banget kelihatannya," ucap Handan dengan nada suara bercandanya. Yah, untung aku ada Handan yang selalu bisa menghibur seperti saat ini.
Aku mengembangkan senyum, agar terlihat tidak tegang banget. Mungkin di antara kami hanya aku yang terlihat sangat tegang. Mungkin karena bawaan hamil juga jadi aku tingkat stresnya sangat tinggi. Dan juga banyak faktor lain yang membuat aku takut kalau laporanku tidak terbukti dan membuat aku banyak dirugikan.
"Hari ini tanggal satu Agustus. Menyatakan Terdakwa saudara Azam dan saudara Dewi atas terlapor saudara Tazi, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana PERZINAHAN. Pengadilan menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama sembilan, dan denda sepuluh juta rupiah. Semuanya telah terbukti dengan saksi, dan bukti yang sah."
"Alhamdulillah ..." Aku mengucapkan puji syukur di dalam hati setelah hakim membacakan putusan sidang di mana ayahnya Gio dan selingkuhannya terbukti bersalah, karena telah melakukan zina dan selingkuh. Hukumannya pun jelas, dan membuat aku lega.
__ADS_1
Bisa aku lihat dengan jelas ayahnya Gio dan Bu Dewi terlihat sangat kecewa dengan putusan ini. Bahkan sesekali mereka terlihat sibuk dengan pengacara mereka seolah tidak terima dengan putusan ini.
Namun, nampaknya mereka tidak akan melanjutkan banding karena mungkin mereka tahu sekalipun mengajukan pembelaan tetap saja hasilnya akan sama. Yang ada itu hanya akan membuang waktu dan uang karena pasti biaya pengadilan akan ditanggung oleh mereka lagi.
"Handan, bisa bilang sama pengacaranya ayahnya Gio nggak aku mau bicara dengan ayahnya Gio sebentar. Sebelum mereka masuk dalam penjara," ucapku berbisik dengan Handan, yang langsung di balas dengan anggukan kepala. Aku pun langsung menunggu di ruangan sebelah.
Seperti yang Handan katakan kemarin aku ingin mengatakan dengan kondisiku yang sedang hamil ini. Aku pun menunggu ayahnya Gio di tempat yang sudah Handan katakan. Tidak menunggu lama mantan suami pun masuk keruangan yang berada di tepat mediasi.
Kami duduk saling berhadapan. Cukup lama aku dan ayahnya Gio terlibat kebisuan. Aku bingung mau memulai dari mana obrolan ini. Sedangkan menunggu ayahnya Gio yang membuka obrolan pun nampaknya tidak ada mungkin mantan suami masih kaget dan syok tidak terima dengan putusan pengadilan.
"Aku minta maaf, kalau selama ini aku membuat kamu sakit. Jujur aku bingung dengan keadaanku sekarang ini. Banyak banget pikiran dan masalah, sampai aku tidak bisa jenguk Gio."
Aku mengulas senyum meskipun dalam dada ini ada saja sesak yang masih aku rasakan.
"Jujur, ini yang aku tunggu-tunggu dari kemarin-kemarin. Aku hanya ingin kamu minta maaf, meskipun aku sudah memaafkan untuk anak-anak kita. Tapi untuk aku, aku hanya bisa memaafkan untuk hubungan anak-anak, sebatas anak. Maaf juga kalau aku harus melakukan ini semua karena aku juga memiliki harga diri. Aku hanya ingin membela harga diriku dan juga aku ingin memberikan efek jela untuk kamu, Bu Dewi dan mungkin laki-laki di luaran sana yang tengah berselingkuh agar berhenti untuk melanjutkannya cukup kamu yang jatuh dan terperosok dengan perbuatan sesaat itu. Dan aku hanya bisa berharap semoga kamu jadi sosok yang lebih baik lagi nantinya. Siapa pun istri kamu nantinya, tolong hargai dia agar tidak membuat kesalahan yang sama." Aku langsung mengatakan apa yang sejak lama aku pendam.
"Terima kasih untuk maafnya. Aku tahu kesalahanku sudah sangat fatal, dan mungkin ini adalah hukuman yang tepat untuk aku."
__ADS_1
"Yah semoga kamu bisa ambil hikmahnya Mas, karena kalau kamu tetap berprilaku seperti ini yang akan malu juga Gio, dan calon adiknya. Kasihan kalau nanti anak-anak kamu tahu kelakukan bapaknya. Aku seperti ini, agar kamu tahu kalau perbuatan kamu itu membuat malu, terutama untuk keluarga kamu, dan anak-anak kamu."
Pandangan mata Mas Azam menatapku dengan tatapan yang bingung.
"Apa kamu lagi hamil?" tanya Mas Azam, kali ini dengan suara yang bergetar. Terlihat jelas dari sorot matanya kalau laki-laki itu menyesal.
"Sekarang usianya sudah jalan tujuh bulan," jawabku. Tujuanku berbicara dengan ayahnya Gio adalah memberitahukan kondisiku yang sedang hamil.
"Kenapa kamu nggak bilang?" tanyanya ada sorot mata kecewa.
"Untuk apa? Agar kita tidak jadi bercerai? Biarkan aku membesarkan anak ini sendiri, dan aku yakin bisa. Aku tidak mau lagi ada hubungan di antara kita. Biarkan anak ini jadi bukti bahwa aku kuat hadapi ini semua sendiri."
Terdengar isak kan samar dari. laki-laki yang ada di hadapanmu. Aku pun cukup terkejut, aku pikir permintaan maafnya hanya sebuah formalitas saja. Namun sepertinya ayahnya Gio bener-bener menyesal. Yah, aku pun cukup senang kalau memang laki-laki itu menyesal karena jujur aku juga tahu kalau ayahnya Gio hanya tersesat sesaat. Sebenarnya dia baik, dan mudah-mudahan penilaian aku tidak salah.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1