
Makan siang kini pun terasa sangat berbeda. Aku makan bersama keluargaku lengkap, termasuk Ayah yang ternyata juga menyempatkan pulang dari tempat kerja hanya untuk makan siang bersama dan bermain dengan Gio, terutama setelah Ibu mengatakan pada Ayah, kalau aku sudah berpisah dengan ayahnya Gio.
Ayah pulang langsung menguatkan aku. Ibu dan Ayah juga mendukung langkahku untuk penjarakan ayahnya Gio. Orang tua mana yang mau anaknya disakiti itulah yang Ibu dan ayah lakukan.
Sekalipun aku selalu dapat ancaman ancaman dari keluarga ayahnya Gio, Ibu dan Ayah tetap mendukung langkahku. Aku sangat senang karena banyak yang mendoakan aku. Setelah aku menceritakan semuanya pada Ibu dan Ayah, bahkan adik-adikku pun tahu permasalah ku. Aku semakin yakin dan percaya setelah ini pasti aku akan lebih mudah dalam segala urusanku, doa orang tua sudah aku kantongi. Semakin membuat aku yakin kalau aku pasti bisa kembali menang dalam persidangan.
Tentu aku juga katakan upaya adik dari ayahnya Gio yang ingin mencelakakan aku, gara-gara harta. Jelas Ayah dan Ibu semakin mendukung langkahku untuk menjual harta-harta itu dan membagikan pada orang-orang yang kurang beruntung.
Yah, meskipun aku bukan terlahir dari keluarga yang kaya raya, tapi ke dua orang tuaku bisa dikatakan cukup dan bisa memberikan kebutuhan anak-anaknya dengan baik, termasuk aku maupun Gio.
Bukan hanya cerita tentang pencobaan penabrakan itu, tapi aku juga bercerita dengan kondisiku yang saat ini tengah mengandung anak ke dua. Meskipun Ibu dan Ayah kaget, beruntung lagi-lagi mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Ayah pun mau membiayai anak meskipun aku pun mengatakan kalau aku akan tetap bekerja.
"Jadi kamu akan tetap kerja Taz?" tanya Ibu yang sepertinya terlihat kaget dan keberatan dengan keputusanku tetap memilih akan kerja. Apalagi aku lagi hamil itu takut aku terjadi apa-apa. Belum aku juga baru keluar dari rumah sakit.
"Iya Bu, sayang udah dapat kerjaan yang bisa dikatakan enak, nyaman dan juga tidak berat. Gajinya juga gede. Lagian tidak enak sama Handan, dia yang bantu carikan kerjaan itu. Sekalian mau ngurus sidang kalau tetap kerja kan tidak terlalu jauh. Kalau mau hadir sidang," jawabku dengan yakin. Sekalian aku pengin mandiri dan buktikan sama ayahnya Gio dan keluarganya kalau aku bisa menghidupi anak-anak ku dengan baik.
"Apa tidak lebih baik tetap di rumah atau kalau tidak bantu ngajar Ibu, di sekolah Ibu, kan lumayan ada kegiatan juga," imbuh Ayah, dengan menatapku penuh iba. Yah, mungkin selain kasihan, Ayah juga masih belum tenang ketika aku kembali ke tempat itu mungkin takut kalau aku akan dicelakai oleh keluarga ayahnya Gio. Mengingat karin aja mereka berani menyalakan aku.
__ADS_1
"Nanti kalau masalah dengan ayahnya Gio sudah selesai Tazi bakal pulang ke rumah dan membantu Ibu ngajar disekolah," balasku dengan yakin, dan mungkin ini yang terbaik buat aku biar dekat juga dengan keluarga.
"Ya udah terserah kamu saja, tapi Gio tetap di sini yah, Ibu takut kalau Gio nanti kenapa-kenapa. Kalau di sini kan Bi Jum juga ada yang bantu-bantu, ada tantenya ada omnya Gio juga jadi lebih banyak temanya."
Aku menatap pada Gio yang terlihat kalau di rumah kakek dan neneknya memang jauh lebih bahagia.
"Tapi apa Ibu sama Ayah tidak repot kalau Gio di sini?" tanyaku, sebenarnya ini hanya pertanyaan iseng saja. Jelas Ibu dan Ayah pasti tidak merasa repot toh ada Bi Jum juga yang bisa ganti-gantian jaga Gio.
"Ayah lebih tenang Gio di sini. Lagian jaga anak kecil satu apa susahnya, toh Om sama tantenya Gio sudah biasa diandalkan." Yah, yang diucapkan Ayah betul. Adik-adikku sudah bisa ditugaskan ngasuh Gio.
"Iya Gio di sini tidak akan kekurangan sesuatu. Kamu fokus sama masalah Azam aja dulu. Biar lebih fokus." Ibu pun mendukung Gio tetap ditinggal di rumah kakek dan neneknya. Agara aku bisa fokus mengurus kasusku dengan ayahnya Gio. Jujur memang aku semakin tenang, kalau Gio bersama dengan Ibu dan Bapak.
Mungkin karena di rumah ini tidak ada lagi anak kecil, dan tidak ada lagi buat mainan sehingga Gio di sini benar-benar dimanjakan.
"Kamu yakin mau pulang sekarang Taz?" tanya Ibu saat makan malam bersama.
"Iya Bu, biar besok kerja tidak buru-buru," balasku dengan yakin. Aku sudah lebih tenang ketika Gio akan bersama dengan Ibu dan Bapak, serta dengan adik-adikku.
__ADS_1
"Kamu nggak maksain sehat kan biar diizinkan kerja?" Ayah juga nampaknya masih terlalu berat mengizikan aku pergi kerja dan berjauhan dengan Gio.
Aku pun menghirup nafas dalam dan mencoba tetap tenang. "Tazi sudah baikan Yah, Bu, Tazi juga yakin mau tetap kerja dengan Meli dan Janah. Selain biar urusan cepat selesai. Tazi juga tidak enak dengan Handan yang sudah baik mau membantu mencarikan pekerjaan. Tanpa Handan, Tazi tidak akan mudah dapat kerjaan."
"Ya udah kalau itu sudah jadi kemauan kamu dan sudah kamu pikirkan dengan matang-matang. Ibu, dan Ayah hanya ingin yang terbaik buat kamu. Kalau ada apa-apa kamu bicarakan dengan kami, jangan apa-apa dihadapi sendiri. Beruntung kamu punya orang tua yang masih lengkap, adaik-adik yang baik-baik juga, kalau ada apa-apa cerita dan kita selesaikan bersama."
Mendengar nasihat Ibu hatiku kembali diselimuti rasa bersalah. Sungguh aku baru sadar betapa sayangnya orang tua itu. Namun, aku justru sebelum-sebelumnya menganggap kalau aku ini selalu dikekang, padahal yang mereka lakukan demi kebaikan kami. Aku terharu mendengar nasihat dan kasih sayang ke dua orang tuaku. Adak-adikku pun tidak pernah ikut campur urusan aku dan ke dua orang tuaku sebelumnya.
Mereka tetap menghormatiku, meskipun semat bersitegang dengan ibu. Tidak pernah mereka ikut-ikut membenciku. Apalagi sekarang mereka juga sayang banget dengan Gio. Sungguh penyesalan itu datangnya terlambat yah.
Mungkin kalau sekarang aku tidak ada mereka, aku tidak akan sekuat sekarang dan seyakin ini kalau masalahku dengan ayahnya Gio akan segera selesai.
Kini rencanaku hanya satu balik bekerja dan mengurus kasus yang aku laporkan atas ayahnya Gio sampai selesai, dan sesuai dengan keinginanku, bekerja setidaknya sampai aku lahiran. Lalu kembali ke rumah ini dan memulai hidup yang baru dengan aku, dan kedua anakku nanti.
Untuk jodoh kali ini, aku akan mendengarkan nasihat ayah dan ibuku tidak akan aku lagi-lagi sok memilih jodohku sendiri. Menyesal selain menyesal aku juga ada rasa trauma takut gagal lagi. Karena ternyata pernah mengalami kegagalan sekali dalam rumah tangga itu ada perasaan takut kalau hal serupa akan terulang lagi di pernikahan aku nantinya. Dalam hati hanya ingin sendiri. Namun aku juga tidak akan menolak kalau ayah dan ibu akhirnya memberikan jodoh yang kata mereka baik.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...