
Kalau ada yang bertanya lebih bahagia mana antara memiliki suami ataukah menjadi single parents? Jawabannya tentu lebih nyaman memiliki suami, ada teman untuk berbagai lelah dan cerita. Ada yang memberikan semangat saat kita lelah, dan bergantian menjaga anak-anak. Namun, sekali lagi aku katakan, tidak semua wanita seberuntung orang lain yang memiliki suami pengertian. Ada yang bernasib sama seperti yang aku alami saat ini, bahkan ada yang jauh lebih parah dari nasibku.
Di mana suami ku justru nyaman dengan wanita lain, dan hanya menganggap aku sebagai rumah singgah. Dari pada aku ada di sisinya, tetapi tidak bahagia lebih baik aku memiliki jalan sendiri. Mencari bahagiaku, dengan berpisah dengan dia. Meskipun kalau dibandingkan dengan memiliki suami, rasanya hidup jauh lebih cape seperti sekarang.
Sudah tiga bulan, paska aku memutuskan pergi dari rumah suamiku, dan memilih hanya tinggal berdua dengan putraku. Jangan ditanya teror ataupun umpatan dari pihak suami. Kalau aku bermental kerupuk mungkin sudah jatuh dan akan sakit-sakitan. Karena umpatan dari pihak suami sangat beragam. Bahkan mereka pun menggunakan sosial media untuk menggiring opini kalau akulah yang salah.
Bahkan tidak sedikit yang mendukung mereka, karena hanya melihat dari satu sisi. Persidangan penceraian kami hanya menunggu putusan dari pengadilan. Begitupun persidangan laporanku atas tuduhan perselingkuhan dan Zina sudah memasuki persidangan.
Inilah yang memicu pihak ayahnya Gio menyerang ku dengan tuduhan yang bervariasi. Mulai dari istri durhaka, tidak bersyukur, wanita matre, hanya mengincar harta dan masih banyak tuduhan lainya. Bukan hanya aku yang merasa diserang. Bahkan Meli dan Janah yang tidak tahu apa-apa pun menjadi sasaran mereka. Di kantor pun Janah dan Meli dimusuhi hanya karena mereka berada di pihakku.
Aneh memang, tetapi inilah hidup sulit sekali mencari keadilan, hanya karena aku yang tidak memiliki kekuatan serasa aku ditindas. Ternyata berdiri di jalan kebenaran sangat sulit, yang menurut kita benar belum tentu di mata orang lain benar. Demi menjaga kewarasan aku tidak pernah lagi membuka sosial media. Bukan karena aku takut, tetapi biarkan pengadilan yang membuktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang dizolimi dan siapa yang meng-zholimi.
Seperti pohon tidak pernah berjanji siapa pun yang berdiri di bawahnya akan memberikan keteduhan. Hingga angin datang dan memberikan kesejukan. Hujan turun pun tidak pernah berjanji akan memberi kehidupan, hingga ia menyiram tanpa memilih. Lalu dia yang berjanji akan mengambil deritaku dan membuatku bahagia, nyatanya hanya janji belaka. Dia yang seolah sanggup melindungi kami dari segala duka dan nestapa nyatanya itu hanya upaya menutupi kesalahannya. Karena itu sebagai yang merasa benar, dan korban aku memilih diam saja hingga aku hidangkan bukti. Hingga aku tunjukkan hidupku yang saat ini kelam akan berganti pelangi indah setelah badai melanda. Yah, aku yakin, kebenaran pasti akan menang meskipun banyak kesakitan yang aku rasakan untuk meraihnya.
__ADS_1
Sesuai dengan permintaan Handan selama proses sidang aku pun tidak menghadiri persidangan cerai, dan benar saja semuanya berjalan lancar. Berbeda dengan sidang laporan atas perzinaan, aku datang dengan teratur, karena kata Handan kalau aku tidak hadir terutama sidang perdana takutnya pengadilan membatalkan laporanku. Aku tidak ingin ada pembatalan perkara karena satu kesalahan gara-gara aku tidak hadir.
Sudah satu bulan ini pula aku kerja bagai kuda. Berangkat pagi pulang malam. Seperti hari ini. Aku pulang pukul sembilan malam. Hampir setiap hari aku berangkat pagi dan malam. Bahkan untuk sekedar main dengan Gio aku tidak memiliki waktu. Di saat pagi kadang Gio belum bangun, atau kalau sudah bangun aku hanya bercengkrama sebentar, sebelum aku berangkat kerja. Malam hari keseringan Gio sudah tidur. Seperti hari ini saat aku pulang Gio sudah tidur. Sedih rasanya tidak bisa menyaksikan perkembangan putraku. Bahkan aku lebih banyak tahu kepintaran Gio dari vidio dan juga cerita Bi Jum.
"Gio udah tidur lagi yah Bi?" tanyaku ketika baru pulang kerja, dan tidak mendengar suara anakku berlari menyambut kepulanganku.
"Iya Bu, sekarang tidurnya lebih awal, mungkin kecapean karena sore abis bermain bola." Seperti biasa Bi Jum selalu melaporkan kegiatan Gio selama seharian. Aku mengulas senyum dan mengangguk setiap Bi Jum bercerita kegiatan Gio selama seharian.
"Apa ayahnya Gio atau keluarganya ada yang kirim pesan dengan Bi Jum ingin bertemu dengan Gio mungkin?" tanyaku, karena barusan aku mendapatkan laporan dari Meli dan Janah, kalau pihak ayahnya Gio membuat kehebohan lagi di sosial media. Mereka koar-koar katanya aku tidak memberikan akses untuk bertemu dengan cucunya.
Aku mengangguk paham dengan penjelasan Bi Jum.
Yah, tidak aneh sih mereka hanya bisa koar-koar menggiring opini agar aku terkesan zholim sama mereka. Sebelumnya aku pun sudah bertanya pada Handan apakah ada pihak pengacara ayahnya Gio menginginkan bertemu dengan Gio. Namun, jawabannya sama dengan Bi Jum. Jadi fix, mereka hanya caper. Sebagai orang yang waras, lagi-lagi aku harus ngalah.
__ADS_1
"Ya udah, terima kasih yah Bi, sudah bantu Tazi jaga Gio. Dan kalau ada apa-apa atau ada pesan dari pihak ayahnya Gio. Bibi langsung lapor ke aku yah. Sekarang Bibi istirahat dulu, saya mau istirahat juga," ucapku pada Bi Jum, yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri. Wanita paruh baya itu sangat baik dan mau menjaga Gio dengan tulus. Bersyukur aku memiliki asisten rumah tangga yang tidak pernah memihak pada siapa pun. Beliau netral tidak memprovokasi keluarga ayahnya Gio maupun aku sendiri.
Dengan pelan, aku membuka pintu kamarku. Tubuh kecil dan polos yang sedang terlentang tidur dengan boneka mobil bus berwarna biru di sampingnya membuat hatiku kembali tersayat sayat. Demi dia, aku rela melakukan apa pun agar hidup kamu membaik.
Aku berjalan dengan pelan, ku cium kening Gio yang sedang pulas tertidur. Setiap melihat wajah polosnya saat tidur rasa bersalah dan penyesalan menggerogoti hati ini.
"Maafkan bunda yah Sayang. Kamu pasti kekurangan kasih sayang bunda, karena bunda harus kerja dan jarang menemani kamu bermain. Bunda janji kalau ada waktu libur bunda akan ajak jalan-jalan seharian kita bermain bersama." Tanpa terasa air mataku luluh, mengalir deras.
"Bunda tidak pernah lelah berdoa, agar kamu suatu saat nanti mengerti apa yang bunda lakukan saat ini adalah demi kebaikan kamu."
Tidak henti-hentinya aku menyemangati diriku sendiri, karena aku hanya punya tubuh ini yang kadang merasa lelah dan cape, serta putus asa dengan ujian rumah tangga yang tidak ada habisnya. "Bersyukur aku diberikan Tuhan fisik yang kuat, dan sifat yang masa bodo dan cuek. Tuhan memang maha adil memberikan segala cobaan dengan kekuatan yang aku punya.
"Terima kasih Tuhan, Engkau selalu ada di samping hamba. Hingga hamba kuat berjalan sejauh ini, meskipun dengan hati yang terluka. Tidak pernah lelah hamba meminta pertolongan-Mu.
__ADS_1
bersambung
...****************...