Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Obat Rindu


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang aku dan Handan pun terus membahas masalah ayahnya Gio. Termasuk persidangan cerai yang sudah masuk ke pengadilan dan lusa kami sudah mendapatkan panggilan sidang pertama. Seperti kesepakatan bersama dengan Handan aku tidak akan mendatangi sidang itu, aku serahkan semua urusan pada Handan.


Yah menurut nasihat pengacara ku itu kalau semua ingin berjalan dengan lancar dan cepat maka lebih baik aku tidak hadir dan semua urusan dikerjakan oleh Handan.


Hadapanku tentu semuanya berjalan dengan lancar dan tanpa ada kendala apa pun.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, bertepatan dengan adzan magrib kami akhirnya sampai juga di rumah Meli. Lega, itu yang aku rasakan karena akhirnya aku bisa juga sampai di rumah. Yang pertama aku cari adalah Gio. Aku langsung memeluk Gio begitu aku melihat putraku. Rasanya rindu yang sudah menggunung langsung hilang ketika memeluk sumber kekuatanku. Tidak hanya rindu yang langsung hilang sudah, tetapi rasa cemas dan kekuatanku serta marah dan segala macam yang ada di dadaku langsung luluh sudah denan pelukan dari anakku.


Aku tidak pedulikan lagi Handan, Meli dan Janah. Ku biarkan sahabatku saling bercerita di ruang tamu. Sekalian aku memberikan waktu untuk Meli dan Handan biar pendekatan.


"Bunda dali mana?" tanya Gio dengan mengusap wajahku yang bersimpuh di hadapan Gio. Mensejajarkan tinggi Gio.


Aku mengulas senyum dan mengusap balik wajah putraku. "Bunda abis kerja Sayang. Gio nakal tidak di rumah bareng dengan Bibi?" tanyaku meskipun Bi Jum sudah memberikan laporan apa pun kegiatan Gio sehari ini termasuk apakah Gio mencari aku atau tidak. Alhamdulillah Gio tidak rewel, meskipun kata Bi Jumi beberapa kali Gio bertanya keberadaan aku. Namun, setelah diberi tahukan bundanya ke mana. Maka Gio akan kembali mengerti, dan tidak lagi bertanya

__ADS_1


Mungkin Gio hanya bingung kenapa aku lama sekali kerjanya. Di mana biasanya aku akan seharian di rumah. Namun, kali ini aku pergi dari pagi hingga sore baru pulang.


Sebelum menjawab pertanyaan aku, Gio lebih dulu menatap Bi Jum. Setelah Bi Jum menggelengkan kepala Iko langsung tersenyum. Senyum yang mampu menghilangkan segala cape yang aku rasakan.


"Tidak Bunda. Gio baik_"


Aku kembali mengulas senyum dan menarik tubuh putraku ke dalam pelukanku. "Bunda suka dengarnya kalau Gio tidak rewel. Besok Bunda  kerja lagi. Gio jangan rewel yah, Gio sekarang mainnya sama Bi Jum dulu. Nanti kalau Bunda sudah libur baru kita main bersama." Aku tahu usia Gio memang masih tiga tahun dan itu tandanya dia belum begitu paham dengan apa yang aku bicarakan, tetapi aku ingin Gio tahu kalau untuk sekarang bundanya tidak bisa menemaninya setiap saat. Aku harus pergi untuk bekerja sehingga Gio akan mengerti dengan keadaan aku.


"Iya Bun, Gio gak nakal ..." Setelah aku puas melepaskan rasa rinduku pada Gio. Kami pun beranjak ke kamar untuk membersihkan diri dan menjalankan kewajiban sebagai hamba Alloh.


"Gio jangan rewel yah, kita akan sholat dan berdoa pada Alloh,"bisik ku dengan membenarkan peci putraku.


"Siap Bunda_" jawab Gio dengan mengacungkan dua jempolnya. Aku pun melaksanakan sholat bersama Gio, meskipun beberapa kali anakku memanggil aku, bahkan berlari ke sana ke sini, tetapi aku sangat senang karena aku masih bisa membimbing putraku dengan baik.

__ADS_1


Beribadah wajib kami memang sudah biasa hanya berdua dengan Iko. Meskipun dulu ada ayahnya Gio, tetapi Mas Azam selalu banyak alasan apabila aku ajak sholat bersama. Sehingga aku lebih sering beribadah dengan Gio.


Selepas sholat Isa. Aku pun turun ke bawah, untuk makan malam bersama. Tentu bersama dengan Gio karena jam tidur Gio adalah pukul sembilan.


Aku yang berpikir kalau Handan sudah pulang nyatanya salah. Ternyata Handan masih ngobrol bersama Meli dan Janah. Orang-orang itu memang sangat senang kalau untuk urusan Ghibah.


Termasuk aku yang jadi korbannya. Eh, bukan ghibah buruk sih Handan hanya menceritakan kejadian apa di cafe. Termasuk aku ditampar dan nangis tak luput dari cerita Handan.


"Hai Gio, sini bareng sama calon papah baru." seloroh Handan yang berhasil membuat aku, Meli, dan Janah sontak saling lirik.


Apa yang aku takut kan pun terjadi. Candaan Handan tidak bisa direm.


#Nah loh Handan siap-siap bakal ada peperangan antara negara ini mah.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2