
Badai telah berlalu, dan kini aku sudah bisa melihat indahnya pelangi. Mungkin ini gambaran berapa leganya aku karena kini aku sudah bebas dari masalah-masalah perselingkuhan mantan suamiku. Hidupku pun jauh lebih tenang, tidak ada lagi beban pikiran terutama yang berkaitan dengan ayahnya Gio. Kini aku tinggal fokus dengan buah hatiku. Bekerja untuk menata masa depan anak-anakku nanti.
"Cie, hari ini kayaknya cantik banget." Meli dan Janah tidak ada henti-hentinya meledekku. Gara-gara semalam Handan godain dengan kata-kata cantik banget. Gak nyangka bocah-bocah ini malah iseng meledekku lagi. Bahkan rasanya kuping ini sampai panas, karena kata-kata itu terus yang diucapkan Meli dan Janah.
Aku yang malas meladeni candaan Janah dan Meli pun tetap sarapan tanpa terganggu dengan celoteh dua sahabatku. Biarkan mereka memang kerjaannya meledek jadi sudah tidak aneh lagi. Kalau ditanggapi yang ada tidak ada habisnya.
"Ngomong-ngomong jadi resign Taz?" tanya Meli, sembari menyuapkan nasi goreng buatanku. Masakan spesial untuk teman-temanku yang baik-baik. Yah, sejak Gio tinggal dengan orang tuaku, aku pun jadi lebih rajin memasakan makanan untuk teman-temanku. Biar nambah-nambah pahala.
"Jadi dong ini sudah disiapkan surat pengunduran dirinya. Paling nanti kalau sudah ada penggantinya baru aku benar-benar pulang." Aku menunjukkan satu lembar surat pengunduran diri yang sudah aku buat semalam. Saking semangatnya aku akan berkumpul dengan keluargaku. Sampai-sampai aku pulang makan bersama dengan teman-temanku langsung buat surat pengunduran diri.
"Kok sama sih aku juga udah buat, mau sekalian resign juga," balas Meli, dan sontak saja Janah yang belum tahu kalau Meli akan resign pun terkejut.
"Kamu mau resign juga Mel?" tanya Janah dengan bibir langsung berhenti mengunyah.
"Kamu bohong kan Mel? Masa kamu tega tinggalin aku seorang diri. Aku itu teman kamu loh dari jaman kita masih ingusan, kenapa kamu tega tinggalin aku," imbuh Janah yang langsung menghentikan sarapannya.
Nah kan sesuai dugaan aku yang paling berat kalau Meli resign adalah Janah.
"Maaf Jan, aku lupa bilang sama kamu. Aku harus nyusul ke dua orang tuaku ke Belanda. Mereka minta aku nyusul karena takut aku di sini kenapa-kenapa. Aku nggak tega kalau harus bilang kamu pasti kamu sedih." Meli pun langsung menghentikan sarapannya ketika melihat wajah Janah yang murung.
__ADS_1
"Terus menurut kamu kalau kamu bilang dengan cara begini aku nggak sedih? Tetap sedih Mel, malah aku sedihnya dua kali lipat. Apalagi kamu dan aku sudah jadi sahabat lama, tapi kamu ada masalah apa-apa nggak cerita sama aku, kenapa jadi merasa aku itu tidak penting buat kamu. Apa gara-gara sudah ada Tazi jadi kamu nggak anggap aku ini teman lagi?" tanya Janah dengan wajah yang sudah memerah dan air mata yang sudah banjir.
Aku jadi merasa tidak enak karena Janah yang salah paham. Namun, mau ikut nimbrung juga rasanya tidak enak.
"Jan, kok kamu ngomong kaya gitu sih? Jujur aku nggak bedaian kamu dengan Tazi, kamu sama aja teman aku. Malah aku lebih dekat dengan kamu kan selama ini juga. Aku tidak cerita apa-apa dengan Tazi_"
"Tapi buktinya Tazi tahu kalau kamu mau resign kan? Sedangkan aku kaya orang bodoh yang tidak tau apa-apa. Udah deh Mel, kamu jangan membela Tazi lagi. Aku udah cape. Terserahlah kalian mau pada resign semua juga. Toh memang nantinya kita akan sendiri-sendiri." Janah langsung memutus ucapan Meli.
"Jan, kamu mau ke mana? Sarapan dihabisi dulu. Jangan kaya gini lah Jan. Meli bener ko dia tidak enak kalau mau bilang dengan kamu, karena kamu pasti akan sedih dan merasa kehilangan Meli, tapi Meli rencananya kalau sudah menyerahkan surah pengunduran diri dia bakal kasih tau kamu kok." Aku ikut menjelaskan rencana Meli yang kemarin sempat di jelaskan padaku.
"Iya-iya, aku yang salah, kalian memang semua benar. Mulai sekarang aku berangkat kantor sendiri aja Mel." Janah langsung mengambil tasnya dan berangkat lebih dulu untuk ke kantor.
"Jan, jangan kaya gini lah. Ok aku minta maaf_"
"Taz, emang aku salah yah. Kalau aku tidak cerita sama Janah dulu?" tanya Meli dengan wajah yang murung.
"Kayaknya sih memang seharusnya kamu juga kasih tau dengan Janah. Karena bagaimanapun Janah juga teman kamu yang bisa dikatakan Janah memang jauh lebih kenal kamu dibandingkan aku. Itu sebabnya Janah marah. Karena dia merasa kalau kamu hanya terbuka dan menganggap aku sebagai teman kamu yang tahu masalah kamu. Janah mungkin merasa tidak dianggap," jawabku, aku sendiri juga jadi merasa bersalah dengan Janah.
"Terus aku sekarang harus gimana Taz, Janah marah banget sama aku. Kamu lihat kan bahkan dia sampai banting pintu keras sekali. Gimana kalau Janah marah dan pergi dari rumah ini?" Meli menunduk terlihat sekali kesedihannya, dan aku tahu gimana perasaan Meli saat ini.
__ADS_1
"Kita nanti minta maaf bareng-bareng yah. Aku juga jujur merasa bersalah banget sama Janah. Gara-gara aku dia jadi seperti ini, dan mungkin kalau aku tidak datang ke rumah ini. Kamu dan Janah tidak bertengkar seperti sekarang ini."
"Ko malah sekarang jadi rumit seperti ini sih." Suara Meli terdengar semakin serak, dan parau. Di mana sahabatku pun akhirnya menangis sedih.
Melihat Meli menangis aku pun bangun, tidak tega rasanya melihat Meli menangis sesedih ini. Dan ini adalah kali pertama aku melihat Meli menangis seperti ini. Biasanya Meli itu paling nangis juga karena bahagai, tetapi kali ini Meli menangis karena merasa sedih.
"Jangan nangis dong Mel, nanti malah aku jadi ikut nangis." Aku mengusap punggung Meli untuk memberikan ketenangan, sekaligus menunjukan kalau masih ada aku yang akan menemani Meli untuk menyelesaikan masalah ini.
Cukup lama aku biarkan meli menangis. Hingga jarum jam menunjukan pukul tujuh.
"Udah yuk kita berangkat kerja. Mungkin Janah sedang datang bulan makanya aga sensitif, nanti kita minta maaf bareng-bareng." Aku yang melihat Meli jauh lebih tenang pun mengajak berangkat kerja jangan sampai kita terlambat, nanti ada yang iri dan mengira kalau kita kerja seenaknya mentang-mentang dekat dengan Handan.
Meli mengangguk dengan lemah, dan kita pun akhirnya berangkat kerja bersama.
"Udah jangan sedih lagi yah, bukanya sudah dalam sebiah hubungan pertemanan pasti ada saja salah paham." Aku mencoba menguatkan Meli, dan akhirnya Meli pun mengangguk dan tersenyum tipis. Lega rasanya ketika melihat Meli sudah kembali ceria.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1
Sembari nunggu kelanjutan Janah dan teman-temannya yuk mampir ke novel bestie othor di jamin bikin baper...