Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Nasihat Handan


__ADS_3

Aku membuang nafas kasar, ketika membaca pesan dari ayahnya Gio. Tangan kananku merem@s ujung hijab yang panjang. Rasanya aku tidak ingin bertemu lagi dengan ayahnya Gio. Namun, aku juga penasaran dengan maksud dia meminta kita bertemu.


[Mau bicara apa?] itu adalah pesan balasan yang aku kirimkan untuk Mas Azam.


[Ada yang ingin aku bicarakan penting.] Tanpa menunggu lama Mas Azam pun mengirimkan pesan lagi. Aku kembali memejamkan mataku, dan menghirup nafas dalam. Mencoba berpikir tenang agar aku bisa menentukan pilihan apakah aku akan menemui Mas Azam atau tidak.


[Temui aku di cafe kenangan! Aku sekarang ke sana.] Itu pesan dari ayahnya Gio lagi.


Ya udahlah tidak ada salahnya aku menemui Mas Azam, mungkin memang ada yang ingin dia katakan, tapi terlebih dahulu aku pun mengirimkan pesan pada Meli dan Janah, kalau aku akan pergi menemu ayahnya Gio. Takutnya dia temanku cari aku karena belum pulang. Ya sekalian nitip Gio sih.


Janah dan Meli pun memperingatkan aku agar jangan bertemu sendiri, katanya terlalu bahaya takut kalau aku terjadi apa-apa. Namun, aku mencoba menenangkan mereka agar mereka jangan cemas. Terlebih kita ketemuan masih siang. Ya meskipun tidak memungkiri kalau aku memang ada perasaan cemas dan takut kalau Mas Azam berbuat diluar kuasaku.


Dengan menyebut bismillah. Aku tetap berusaha percaya kalau ayahnya Gio tidak akan berbuat aneh-aneh. sehingga aku pun memutuskan untuk mengikuti apa kemauan Mas Azam, sore ini aku akan menemuinya di cafe Kenangan.


Langkah kakiku pun menyusuri lantai demi lantai dan kini aku sudah berada di lobby kantor. Meskipun aku baru di kantor ini, tetapi aku sudah banyak yang kenal. Sepanjang aku jalan dari ruangan kerjaku hingga ke lobby kantor banyak yang menyapaku dengan ramah. Rasanya aku pun langsung betah tinggal di kantor ini.


Sembari nunggu taxi aku memilih duduk tidak jauh dari lobby. Namun bukanya taxi yang datang, justru bosku yang datang. Laki-laki bersetelan jas sudah setengah acak-acakan turun dari mobil, dengan senyum mengembang menunjukkan ketampanannya. Yah aku akui kalau kalau Handan memang tampan, itu sebabnya ia jadi play boy karena ketampanannya jadi modal utama ia banyak menghipnotis kaum hawa, eh fia kaya juga sih. Paket komplit lah. Coba kalau tidak tebar pesona mungkin aku juga sudah pasti kepincut sama pengacara ku.


"Mau pulang?" tanyanya dengan menghampiriku yang sedang duduk sambil memegang ponsel.


"Iya, lagi nunggu taxi," jawabku sembari menunjukan aplikasi online pemesanan Taxi.

__ADS_1


"Kenapa pesan taxi, ayo aku antar." Sesuai tebakanku pasti dia datang ke sini di jam pulang kerja hanya untuk modusin aku.


"Enggak usah, udah pesan taxi juga." Aku berusaha menolak. Iya alasanya sebenarnya lagi-lagi karena temanku, Meli.


"Kenapa? Karena Meli, tenang aja dia tidak akan marah, nanti aku jelasin. Lagian kan kita berteman. Kenapa takut banget." Bukan Handan namanya kalau tidak maksa dan harus aku turutin. Pokoknya tidak boleh nolak!


"Tidak usah Dan, lagian aku mau ketemu dengan ayahnya Gio tidak enak kalau nanti malah dilihatnya aku sama kamu malah takutnya jadi fitna." Aku pun akhirnya jujur kalau aku akan bertemu dengan ayahnya Gio, harapan aku untuk kali ini Handan bisa ngerti kenapa aku tidak mau diantar oleh dia.


Namun, bukanya Handan mendengar ucapan aku, dan berhenti mengajak pulang bareng , laki-laki itu malah ambil duduk di hadapanku dengan tatapan yang serius.


"Kamu mau ketemu Azam? Sendiri? Apa kamu sudah gila Tazi, kamu sedang proses gugatan cerai, dan kamu juga sedang menggugat dia dengan perbuatan Zina dan perselingkuhan, dan kamu malah mau bertemu dengan Azam sendiri. Apa kamu tidak takut." Suara Handan meninggi, serius dan juga penuh dengan penekanan. Aku jadi bingung, apa aku salah kalau aku temui ayahnya Gio sendiri?


"Tidak!"


"Kenapa? Mungkin Mas Azam ingin bertemu dengan anaknya atau mungkin dia memang ada yang ingin dibicarakan dengan aku?" tanyaku cukup kecewa dengan jawaban Handan. Yah, bukanya Azam juga ayahnya Gio tentu masih ada hak untuk bertemu dengan anaknya.


"Tazi, kalau dia ingin bertemu dengan Gio selama sidang gugatan kamu belum di putuskan apalagi kamu belum masuki tahap sidang, baiknya ada omongan antar pengacara. Kalau kamu tanya kenapa seperti itu? Karena ditakutkan Azam memiliki rencana lain, bukan tidak mungkin Azam sedang merencanakan sesuatu. Sehingga dia menemui kamu seorang diri. Kalau dia tidak ada niat apa-apa yang cukup membahayakan kamu sudah pasti Handan akan datang kepengacaranya meminta pada aku untuk dipertemukan dengan Gio. Itu baru niat baik, kalau dibelakang pengacara apalagi kamu sendiri pasti niat dia sudah tidak baik lagi. Diluar sana banyak yang jadi korban kekerasan suami yang merasa cemburu atau justru sakit hati pada pasangannya. Jangan terlalu percaya pada laki-laki yang sudah pernah membuat hati kamu kecewa. Selingkuh aja dia dengan santai bahkan orang-orang sudah tahu saja mereka kaya tidak ada merasa bersalah, bisa saja dia juga melakukan rencana jahat terhadap kamu. Kalau ada apa-apa kamu bilang sama aku, karena aku pengacara kamu. Aku bisa bersikap play boy dan tukang gombal, tapi kalau soal kerjaan aku profesional." Handan membeberkan alasan dia tidak mengizinkan aku menemui ayahnya Gio sendiri, dengan nada bicara yang tinggi dan penuh penekanan. Tujuannya sudah pasti agar aku tidak bodoh lagi.


Jujur aku merasa tertampar karena penjelasan dari Handan. Yah, aku jadi kepikiran bagaimana kalau memang ayahnya Gio sedang merencanakan sesuatu. Apalagi saat berkirim pesan dengan aku tadi terkesan sangat memaksa. Kini aku pun jadi takut untuk bertemu dengan ayahnya Gio.


Aku menatap Handan dengan tatapan yang bingung. Jelas aku jadi takut, kalau ada apa-apa dengan diriku bagaimana? Sedangkan Gio sendiri masih kecil.

__ADS_1


"Lalu menurut kamu aku harus apa?" tanyaku dengan suara yang lemah. Benar yang dikatakan Handan, dia memang terkesan play boy, tapi ketika dia menyangkut pekerjaan laki-laki itu sangat profesional dia tidak pandang teman bekerja sangat profesional sesuai dengan bidangnya.


"Kalau mau temuin Azam, di manapun selama belum ada keputusan sidang jangan pernah sendiri, ajak pengacara kamu. Karena kalau ada apa-apa kamu masih tanggung jawab aku. Apalagi kasus kamu sudah terdaftar di kepolisian, jadi jangan pernah sekali-kali menemui Azam sendiri meskipun itu terpaksa dan mendesak. Telpon aku agar aku tetap bisa memastikan keselamatan kamu," jelas Handan lagi.


"Kalau gitu aku tetap temu ayahnya Gio, tapi kamu ikut?" tanyaku, kalaupun lebih baik aku tidak bertemu dengan Mas Azam, aku pun tidak masalah.


"Iya, kalau tidak bisa dia katakan masalnya pada pengacaranya biar kami yang selesaikan, antar pengacara jadi jauh lebih baik, jangan sampai kalian berkomunikasi ataupun bertemu seorang diri. Apa kamu tidak pernah melihat televisi selebriti pun kalau ada masalah dengan hukum tidak pernah mereka berkomunikasi secara pribadi pasti mereka minta hubungi pengacara. Itulah gunanya kita. Memastikan kalau tidak ada tekanan ataupun ancaman bahaya dari pelapor atupun terlapor."


Aku mengangguk paham. "Kalau gitu kita berangkat bareng atau terpisah saja?" tanyaku lagi.


"Kalau kamu sudah pesan taxi terpisah saja. Takut nanti Azam menuduh macam-macam. Kamu harus hati-hati jangan pernah terpancing dengan ucapan Azam. Biasa jadi dia sedang menjebak kamu agar kamu marah dan melakukan tindakan yang membahayakan dia dan itu bisa jadi serangan balik untuk kamu. Hadapi dia dengan senyuman. Anggap saja kamu dan dia sedang bercanda sehingga jangan diambil hati. Pokoknya santai aja. Jangan terpancing apapun ucapan Azam!"


Mendengar ucapan Handan, aku kembali mengangguk paham yah mungkin memang Mas Azam sedang menjebak aku intinya aku harus ikuti apa kata pengacaraku.


"Terima kasih Dan." Handan membalas dengan anggukan kepala.


Kami pun akhirnya berangkat menemui Mas Azam dengan terpisah, kini aku jauh lebih tenang ketika Handan ikut dengan aku. Ada untungnya Handa maksa aku untuk mengantar pulang.


Bersambung....


...****************...

__ADS_1


__ADS_2