Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Putusan Hakim


__ADS_3

Jum'at, 21 Juli 2023.


Ruangan sidang nampak tegang ketika hamil mulai membacakan hasil putusan akhirnya sidang gugatan sidang yang aku ajukan.


Menimbang bahwa berdasarkan pasal yang berlaku di negar ini. Kami M E N G A D I L I dan memutuskan.




Menyatakan, bahwa Tergugat yang telah dipanggil secara resmi dan patut untuk datang menghadap di persidangan, tetapi tidak hadir yaitu sodara Azam.




mengabulkan gugatan Penggugat dengan sodara Tazi.




 3. Menjatuhkan talak satu ba’in shugro Tergugat terhadap penggugat Tazi dan tergugat Azam.



Membebankan biaya perkara ini kepada Penggugat sebesar Rp. 281.000,-(Dua ratus delapan puluh satu ribu rupiah). Sehingga beban biasanya ditanggung tergugat.


__ADS_1


Demikianlah diputuskan dalam permusyawaratan Majelis Hakim Pengadilan Agama pada hari ini.


Itu adalah putusan akhirnya dari gugatan cerai yang sudah hampir empat bulan aku jalani.


"Alhamdulillah." Aku langsung mengucapkan puji syukur saat sidang putusan pengadilan diakhiri. Akhirnya perjuanganku selama tiga bulan lebih tidak sia-sia. Kini pengadilan resmi menjatuhkan talak padaku. Ya meskipun ayahnya Gio tidak datang, aku tidak masalah selama hakim tidak menunda putusan sidang perceraian.


Dari sidang perceraian ayahnya Gio tetap wajib memberikan nafkah pada Gio senilai empat juta. Yah, bagi kebutuhan kami empat juta memang kecil, tetapi aku memang yang tidak menarget meminta sekian banyak uang yang harus ayahnya Gio kasih. Aku juga tidak bisa tetap mengharapkan uang yang mereka akan berikan. Dari awal aku sudah sepakat kalau apa yang aku dapat dari uang yang aku nilai haram tidak akan aku pakai. Termasuk harta pembagian dari persidangan tadi atau harga gono gini.


Aku mendapatkan rumah yang aku tempati dulu. Karena ternyata dari aset yang terdaftar, atas nama ayahnya Gio, laki-laki yang saat ini tidak ada hubungannya lagi dengan aku ternyata punya rumah dua. Dan yang aku ketahui lagi-lagi hanya yang aku tempati. Mobil aku dapat bagian satu dan kendaraan roda dua juga aku kebagian satu.


Surat-surat yang tadinya ada di tanganku pun sudah aku kembalikan pada pengadilan karena itu harta akan dibagi lagi. Sesuai yang sudah aku sepakati dengan Handan. Rumah, mobil dan kendaraan bermotor aku jual, dan uangnya aku sumbangkan sebagian dan sebagian lagi aku tabung untuk Gio karena aku tahu Gio pasti suatu saat membutuhkan uang-uang itu. Kalau nantinya Gio tidak mau menggunakannya itu terserah Gio. Yang penting untuk saat ini aku ingin anak-anakku dan aku juga makan dengan uang yang aku yakini halal.


Bukan sok suci, hanya saja aku lebih baik hidup biasa saja, tapi diberkati dari pada bergelimang harta tapi uang panas dan tidak merasakan ketenangan.


"Kamu mau langsung pulang?" tanya Handan ketika aku baru saja selesai mengurus beberapa persyaratan untuk melengkapi surat perceraian.


"Iya, aku besok mau pulang ke rumah Mamah," jawabku dengan jujur.


"Aku bisa pulang sendiri Handan," ucapku dengan santai ya kali baru juga ketok palu kalau aku sudah berpisah dengan ayahnya Gio, sekarang Handan mau langsung pendekatan. Bukanya aku ada masa idahnya juga selama tiga bulan. Aku tidak mau nanti malah ada omongan yang tambah enggak enakin.


"Apan sih, jangan ke GR'an deh, aku kan cuma tanya aja. Lagian masih ada sidang lagi."


Sontak aku kaget dengan ucapan Handa, perasaan tadi pengadilan sudah membacakan putusan terus ada sidang lagi, sidang apa?


"Kasus perzinahan yang kamu laporkan itu juga harus tetap diurus, jangan terlalu senang dengan apa yang kamu dapat hari ini hingga kamu lupa masih ada yang jauh lebih penting." Handan kembali mengingatkan masalah itu, dan aku pun mengangguk paham.


"Kamu nanti ingatkan saja kita sidang tanggal berapa selama aku menghabiskan masa cuti aku akan memilih tinggal di rumah Mamah."


Setelah obrolan aku dan Handan dirasa sudah selesai aku pun langsung kembali pulang ke rumah, dan Handan juga akan kembali melanjutkan pekerjaan yang lainnya. Kasus yang ditangani saat ini sangat banyak dan salah satunya kasus meninggalnya mamang sopir ojek online.

__ADS_1


******


Malam hari di rumah Meli kami pun merayakan perceraianku. Kami masak ala-ala barbeque di belakang rumah Meli, Gio juga nampak bahagia sekali seolah anak itu tahu bagaimana rasaku saat ini, lega sekali.


"Taz, loe udah tahu belum?" tanya Meli dengan berbisik.


"Belum," jawabku langsung tanpa bertanya tau apa. Meskipun aku memang belum tahu apa yang Meli maksud.


"Bu Dewi di pecat tau." Meli langsung membuat gosip yang jujur banget ini adalah apa yang aku harapkan. Jelas dalam hati begitu aku dengar berita yang Meli katakan aku langsung mengucapkan hamdalah.


"Iya tau Taz, terus Azam juga sekarang dipindahkan ke bagian lapangan. Kasihan banget kamu tahu kan mandor lapangan itu panas dan uang gajahnya kecil. Puas banget aku tadi dengarnya." Janah yang sedang balik-balik sosis pun langsung nimbrung ucapan Meli.


"Terus mereka gimana?" tanyaku langsung kepo maksimal malahan rasa lapar langsung hilang lebih ingin tahu tentang gosip yang Meli dan Janah katakan.


"Rame tadi di kantor. Bu Dewi dipecat karena ketahuan korupsi uang perusahaan, dan juga kasus kamu sekarang jadi bahan pertimbangan untuk evaluasi Azam apakah tetap di pertahankan di tempat kita dengan memindahkan bagian dia kerja atau nanti dia juga ikut dipecat karena secara tidak langsung mantan suami kamu juga dapat bagian dari uang yang Bu Dewi korupsi." Meli menjelaskan kasus yang menimpa ayahnya Gio. Pantas saja tadi dia tidak datang dipersidangan mungkin sedang takut kalau di pecat juga.


Udah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin itu yang dirasakan Mas Azam. Makanya kalau sedang berjaya jangan sombong dan berbuat sesukanya. Sampai menyakiti istri sekalinya istri murka apa yang dia punya pun perlahan Alloh ambil nikmatnya.


"Berati Bu Dewi hanya di pecat aja. Uang yang dikorupsi berapa?" tanyaku kenapa hati ini rasanya tidak suka kalau Bu Dewi hanya diberikan hukuman hanya di pecat sedangkan yang ia rugikan uang perusahaan yang pasti tidak sedikit. Mengingat gaya Bu Dewi selama ini hendon banget.


"Hartanya diambil semua lah. Makanya aku yakin banget Azam sekarang sedang ketar-ketir tidak bisa hidup tenang karena cepat atau lambat aku yakin dia juga akan nyusul. Banyak orang-orang penting di kantor minta Azam juga diselidiki apakah dia hanya penadah uang-uang yang Bu Dewi ambil tanpa dia tahu apa yang Bu Dewi lakukan, atau Azam juga tahu dan dia membantu agar semuanya berjalan dengan mulus," jelas Meli.


"Paling juga bentar lagi dikismin ngikut. jejas. si gundiknya." Janah menambahkan.


Dan lagi-lagi hati ini senang mendengarnya sampai-sampai aku bilang amin dalam batinku.


Ingat tidak akan ada perbuatan dosa yang tetap berjaya. Ketika kemarin Mas Azam bangga karena pencapaiannya. seharusnya dia bisa menahan diri karena itu sejatinya ujian, bukan malah berbuat sesuka hati. Ketika sudah seperti ini mau perduli pun rasanya hati tidak meridhoi. Jujur malah aku senang dengarnya.


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2