
Terdengar isakan samar dari laki-laki yang ada di hadapanmu. Aku pun cukup terkejut, aku pikir permintaan maafnya hanya sebuah formalitas saja. Namun sepertinya ayahnya Gio bener-bener menyesal.
Yah, aku pun cukup senang kalau memang laki-laki itu menyesal karena jujur aku juga tahu kalau ayahnya Gio hanya tersesat sesaat. Sebenarnya dia baik, dan mudah-mudahan penilaian aku tidak salah. Kasihan Gio dan calon adiknya kalau kelakuan ayahnya Gio masih sama saja seperti ini
"Aku minta maaf Taz, sungguh aku menyesal. Andai waktu bisa diputar kembali aku pasti tidak akan melakukan hal bodoh itu. Aku bukan hanya kehilangan kalian. Aku juga harus kehilangan dua adikku yang sekarang sedang menjalani hukuman atas perbuatannya. Aku tidak menyangka hidupku sekarang jadi seperti ini. Aku sekarang sangat menyesal. Aku pun jatuh miskin, sekarang orang tuaku sakit-sakitan karena memikirkan nasib aku dan adik-adikku." Suara laki-laki yang dulu selalu bisa menenangkan kini pun terdengar sangat pilu.
Harga dirinya jatuh, sebelumnya ayahnya Gio tidak pernah terlihat menangis, tetapi sekarang di hadapanku untuk pertama kalinya aku melihat mantan suamiku menasis seperti anak kecil. Jujur aku kasihan karena masalah yang dihadapi oleh Mas Azam, cukup berat. Apalagi sekarang dia juga harus menjalani hukuman sampai sembilan bulan penjara. Dan denda sepuluh juta yang pasti di saat pekerjaan Mas Azam seperti ini dengan banyaknya kebutuhan yang harus ditanggung nominal sepuluh juta pasti sangat besar.
Namun, aku juga tidak bisa melupakan begitu saja atas apa yang dia perbuat. Semua yang terjadi saat ini adalah buah dari perbuatanya. Tega tidak tega aku harus tetap terlihat baik-baik saja.
"Seperti yang Tazi katakan di awal, kalau Tazi akan maafkan Mas Azam, tapi tidak dengan memperbaiki hubungan yang sudah rusak ini. Tazi memaafkan Mas Azam untuk Gio dan calon adiknya. Mas cukup doakan saja agar persalinan Tazi dan lancar. Dan sekarang Tazi akan langsung pulang." Aku tidak ingin berlama-lama lagi karena selain batas bertemu hanya satu jam. Aku juga takut nanti berubah pikiran kalau berbicara terlalu lama dengan ayahnya Gio.
Niatku bertemu dengan ayahnya Gio adalah mengatakan kondisiku yang sedang hamil, tidak membicarakan yang lainnya.
"Jelas Mas akan doakan kamu. Dan sampaikan salam Mas untuk Gio."
Aku mengangguk. "Nanti Tazi sampaikan salam Mas, dan sekarang Tazi mau pulang yah. Semoga apa pun yang terjadi saat ini bisa merubah Mas jadi lebih baik lagi," ucapku untuk terakhir kalinya sebelum ayahnya Gio dievakuasi ke rumah tahanan.
Ayahnya Gio pun membalas dengan anggukan dan senyum untuk mengatakan kalau dia baik-baik saja.
'Gimana perasaanya setelah bertemu mantan?" tanya Handan begitu masuk ke dalam ruangan di mana aku dan Mas Azam tadi berbicara.
__ADS_1
Handan menyodorkan satu botol air mineral. Aku pun yang memang cukup haus mengambil air yang Handan berikan dan meneguknya hingga hampir tandas.
"Jauh lebih baik. Setelah Mas Azam tahu kalau aku hamil anaknya," jawabku dengan jujur.
"Dia bilang apa?" tanya Handan mulai kepo.
"Mas Azam tidak banyak bicara, hanya minta maaf dan tanya kenapa tidak kasih tahu kalau aku hamil dari sebelum cerai, tapi aku jelaskan kalau aku pun tidak ada niatan untuk menyembunyikannya, tapi memang anak ini yang seolah sengaja ingin kita selesai dulu masalahnya baru memberitahukan aku."
"Dia tidak ada bilang masalah lainya?"
Aku membalas dengan gelengan kepala.
Handan pun langsung tertawa dengan renyah ketika mendengar alasan aku tidak bicara lama dengan ayahnya Gio.
Yah, bayangkan saja sudah lebih dari empat bulan, aku menjalani proses persidangan ini, yang ancaman dari mana saja sudah aku lewati masa dengan berbicara dengan ayahnya Gio aku langsung kasihan kan nggak lucu. Cukup maaf yang aku berikan itu pun hanya sebatas untuk Gio dan calon adiknya.
"Kok malah ketawa sih, udah ah pulang yuk. Aku mau traktir kamu dan Meli sama Janah, makan nanti malam jam delapan ada waktu nggak?"
Sebagai ucapan terima kasih dan rasa syukurku atas semua masalahku selesai dengan hasil yang memuaskan. Itu semua tidaklah ada hasil yang memuaskan tanpa kerja keras dari Handan dan juga timnya.
Aku masih teringat jelas pertama kali aku bertemu Handan di jam pocong. Namun, Handan tidak keberatan sama sekali membantu aku. Dia langsung datang saat itu juga hingga sekarang semuanya sudah berjalan dengan lancar dan hasilnya memuaskan.
__ADS_1
"Astaga Taz, kalau untuk kamu jangankan makan malam, di minta buat halalin kamu juga aku mah senang."
"Kan mulai bercandanya mulai," balasku dengan tatapan mata yang membuat Handan kembali tertawa dengan renyah.
"Santai aja Taz, ini bercanda kok, tapi kalau ada yang mengaminkan aku pun senang." Jangan aneh dengan Handan, jangankan aku sudah resmi jadi janda, dan mantan suami sudah di tahan. Aku yang masih menjadi istri orang pun masih senang di goda. Tapi jujur ini aku anggap hiburan.
Setelah menyelesaikan beberapa urusan terakhir di pegandilan, aku pun pulang masih di antar oleh Handan, karena aku di kota ini memang memilih tidak memakai kendaraan selain ribet aku juga lagi hamil jadi ingin menikmati kebebasan tanpa ke mana-mana nyetir sendiri, cape dan kurang baik untuk aku dan calon adiknya Gio.
Sembari menunggu teman-teman aku pulang. Aku pun mengabarkan kabar bahagia ini pada Ibu dan juga Ayah. Mereka pun sangat bahagia mendengar hasil sidang yang lagi-lagi aku menangkan. Beruntung aku mendapatkan dukungan dari orang tua dan adik-adikku.
Bukan hanya orang tuaku dan adikku yang senang. Gio pun nampaknya senang, dan sekarang sejak tinggal bersama orang tuaku Gio pun sudah mulai sekolah di tempat Ibu mengajar alias sekolah milik kakakku.
Aku sekarang kerja juga tinggal beberapa minggu lagi karena sebentar lagi aku akan resign. Dari Handan dan Om Surya sudah setuju kalau aku akan berhenti kerja ketika usia kehamilanku memasuki usia delapan bulan.
"Terima kasih yah Nak, kamu sudah bertahan sampai detik ini. Maafkan Bunda yang sempat marah dan tidak inginkan kamu. Tapi kami justru yang menguatkan Bunda. Mungkin kalau tidak ada kamu Bunda tidak akan sekuat ini."
Aku mengusap perutku yang sudah semakin besar. Bahkan calon adiknya Gio pun sangat aktif.
Bersambung ....
...****************...
__ADS_1