
Tuhan memang maha baik dengan hidupnku di mana sekarang aku merasa selalu berlimpahkan keberuntungan. Kini setelah aku mengajukan surat pengunduran diri, kini hanya butuh waktu satu minggu sudah dapat penggantiku, sehingga aku mulai besok sudah bisa istirahat di rumah. Apalagi perut yang semakin membesar membuat aku sudah seharusnya istirahat. Hari ini aku pun berpamitan dengan teman-teman kantor.
"Semoga persalinan kamu nanti lancar yah, dede bayi dan ibunya."
"Jangan lupa kalau sudah lahiran kabarin yah. "
"Nanti kalau anaknya sudah lahiran mainlah ke kantor biar berasa reunian."
Itu adalah doa-doa dari sahabatku. Meskipun berat karena selama hampir tujuh bulan kita bersama sudah banyak cerita dan kebersamaan yang membekas dalam hati. Doa-doa baik mengalir dari teman-temanku untukku dan calon buah hatiku.
Terutuk Hadan aku pun sangat-sangat berterima kasih dengan teman ku yang satu itu. Meskipun aku tidak bisa berpamitan secara langsung karena Handan yang super sibuk. Namun, tenang aku sudah berpamitan melalui sambungan telepon genggam.
Setelah seharian aku bersedih-sedih karena harus berpisah dengan teman yang baik, kini aku sudah kembali di rumah Meli.
Sesampainya di rumah Meli aku pun langsung merapihkan barang-barangku yang tidak lagi banyak, karena sebagian sudah dibawa pulang oleh orang tuaku kemarin setelah pesta ulang tahun Meli. Ada untungnya ternyata keluargaku datang ke sini, selain rasa rindu yang terobati. Mereka pun bisa dititipi barang yang sudah tidak aku pakai lagi. Sehingga sekarang aku hanya tinggal membawa pakaian dan barang-barang penting dan lainnya yang tidak sampai satu koper.
__ADS_1
Aku menghentikan aktivitasku ketika suara Janah dan meli terdengar. Yah, Meli ternyata tidak jadi resign, karena ke dua orang tuanya masih memberikan izin Meli untuk tinggal di Negara Indonesia tercinta, sehingga Janah tidak lagi marah-marah karena Meli masih tetap tinggal di sini dan kerja di tempat yang sama. Meskipun Meli kerja hanya untuk mengisi waktu luang, buktinya uang gajihnya dengan jatah uang jajan dari orang tuanya jauh lebih besar uang jajan dari orang tuanya.
"Tazi ..." Seperti biasa kalau tau aku sudah pulang nguli pasti dua orang itu langsung menghampiri ke kamarku.
"Dih, kok kamu udah siap-siap aja. Apa kamu akan pulang hari ini?" tanya Meli sembari berjalan mendekat ke arahku yang sedang merapihkan pakaian di susun ke dalam koper.
"Iya, aku sudah telpon adikku untuk nyusul ke sini," jawabku singkat, tanpa menoleh ke Meli dan Janah. Aku masih sibuk dengan tumpukan. pakaian yang harus aku rapihkan.
"Kenapa mesti telepon adik kamu sih, aku kan bisa antarin kamu." Meli memang orang baik pake banget dia benar-benar selalu membantuku tidak perduli dia sendiri sedang cape atau justru sedang banyak masalah.
"Yeh, makan-makan, sering-sering aja Taz, biar kita gemuk," balas Janah dengan tertawa renyah.
"Dih, kamu makan satu tronton juga nggak bakal gemuk," balas Meli, yang memang mereka berdua badannya kurus trus, padahal baik Meli maupun Janah makannya banyak dan sering, tapi tetap aja kurus. Tidak perlu diet sudah ideal pokoknya.
Pekerjaanku pun semakin cepat selesai setelah Janah dan Meli membantuku. Tepat pukul delapan Sulis pun sampai di rumah Meli, tanpa berlama-lama aku langsung berpamitan dengan Janah dan juga Meli, seperti yang sudah-sudah dramatis pake banget kalau sudah berpamitan dengan dua sahabatku itu. Pokoknya kaya kita tidak akan betemu lagi, padahal kapan pun Meli dan Janah pengin ketemu aku. Mereka bisa langsung main ke rumah orang tuaku.
__ADS_1
Setelah bermelow-melow dan membuat aku nangis juga akhirnya. Aku pun benar-benar berpamitan dengan dua sahabatku itu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Kini aku pun sudah sampai di rumah orang tuaku. Seperti biasanya kalau aku pulang pasti disambut sama jagoan.
Bahagia rasanya ketika menunggu persalinan, kita bisa berkumpul dengan keluarga. Apalagi Gio sekarang makin pintar. Anak sulungku sekarang sudah berusia empat tahun, dan Gio sangat mengerti posisinya yang akan menjadi abang. Gio siap kapan pun aku butuh bantuanya.
Gio sekarang sudah bisa diandalkan untuk membantu meringankan pekerjaan. Yah Gio sudah sangat siap kalau jadi abang.
Bersambung....
...****************...
Teman-teman sembari menunggu kelanjutan kisah Tazi dan keluarganya yuk mampir ke novel besties Othor di jamin bikin baper.
__ADS_1
******