
Dua hari sudah aku istirahat di rumah, paska pulang dari rumah sakit. Atas kesepakatan bersama aku dan Handan. Aku tidak dulu datang ke rumah sopir ojek online yang meninggal dunia. Untuk ucapan bela sungkawa aku sampai pada Handan agar dia menyampaikan pada keluarga yang tengah berduka. Itu semua karena kondisiku yang juga butuh istirahat. Namun, kalau semuanya sudah membaik aku akan datang langsung untuk mengucapkan belasungkawa.
Selama dua hari aku istirahat, meskipun sebenarnya aku sudah merasa baikan. Namun karena aku diberikan cuti satu minggu sehingga sayang juga kalau aku tidak manfaatkan bersama dengan anakku.
Yah, Gio pun sangat senang ketika ibunya ada di rumah. Hari ini sebenarnya aku masih dalam tahap cuti. Berhubung ini adalah sidang putusan pengadilan cerai aku pun ingin menghadiri putusan cerai untuk terakhir kalinya. Ingin menunjukkan juga kalau aku baik-baik saja. Meskipun keluarga ayahnya Gio ingin menyingkirkan aku. Nyatanya Tuhan maha baik tetap melindungi ku hingga detik ini aku baik-baik saja dan bahagia pastinya.
"Bunda mau ke mana, kerja?" tanya Gio ketika ia melihat aku pagi-pagi sudah memakai pakaian rapih. Bukan pakaian dinas saat di rumah, yaitu daster.
"Bunda mau ke luar dulu sebentar yah. Gio sama Bi Jum. Jangan nakal yah." Sekarang Gio sudah mau kalau aku bekerja kembali. Tentu setelah aku kasih pemahaman kalau memang kerja untuk dia dan adik bayinya nanti.
"Siap Bunda." Gio memberikan hormat dengan semangat. Aku bangga pada Gio meskipun dia masih kecil, tapi dia bisa diajak kerja sama. Dia tidak yang rewel ingin ini dan ingin itu. Anakku seolah tahu kalau bundanya kerja seorang diri sehingga dia harus nurut dan tidak rewel.
Setelah sarapan pagi aku pun bersiap untuk berangkat ke pengadilan sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Handan kalau aku dan dia akan bertemu di pengadilan saja. Meskipun seperti biasa Handan selalu menolak dengan alasan keamanan aku. Namun setelah aku jelaskan kalau aku baik-baik saja Handan pun mengalah akhirnya kami berangkat sendiri-sendiri dan kita akan bertemu di pengadilan.
Ini adalah sidang putusan perceraian, rencananya besok aku dan Gio juga akan mengunjungi rumah orang tuaku, dan aku akan menceritakan semuanya. Yah, memang aku ingin mengunjungi rumah orang tua kalau semua urusan sudah selesai sehingga tidak ada lagi yang harus dicemaskan. Aku sudah tidak ada hubungan dengan ayahnya Gio dan cerita dengan orang tua juga sudah bisa tenang.
"Bi, Tazi titip Gio yah. Kalau ada apa-apa kasih kabar Tazi."
__ADS_1
Meskipun aku yakin, tanpa aku menitipkan Gio Bi jum sudah pasti akan menjaga Gio seperti cucunya sendiri. Setelah aku pamitan dengan putraku dan taxi yang aku pesan sudah datang. Aku pun langsung menuju pengadilan maklum sidang di buka jam sepuluh, aku jam sembilan baru berangkat.
Aku berdo'a agar tidak macet. Kini sejak kejadian penabrakan kemarin, aku tidak berani lagi naik ojek. Rasanya ada trauma lihat motor juga. Apalagi naikinya.
Tidak harus menunggu lama kini aku sudah sampai di pengadilan, seperti biasa-biasanya juga Handan sudah datang lebih dulu. Dia memang dari dulu orang yang sangat tepat waktu. Dia tidak suka kalau ada yang telat. Beruntung aku belum telat sehingga Handan tetap santai. Aku berjalan menuju Handan dan timnya duduk. Masih ada beberapa menit hingga persidangan dibuka.
"Sudah lama?" tanyaku dan berhasil mengagetkan Handan yang sedang serius berbicara dengan timnya.
"Tidak baru aja duduk mungkin lima menit yang lalu. Gimana kamu udah baikan?" tanya Handan yang jelas-jelas itu adalah pertanyaan yang basa basi. Ya kali setiap hari kirim chat tanya gimana kondisinya bahkan tadi pagi juga sudah kirim pesan dengan tanya bagaimana kondisi aku. Apakah aku yakin kalau akan menghadiri sidang putusan pengadilan. Belum juga dua belas jam udah tanya lagi. Ini aku yang memang lupa kalau sudah jawab, apa Handan yang sebenarnya pelupa?
"Eh kirain mau dijawab lagi. Kalau mau dijawab lagi juga enggak apa-apa kok. Malah lebih afdol," jawabnya dengan suara yang tertawa renyah. Kan dia emang kadang asik diajak bicara kadang menyesalinya pol. pantas saja Janah berantem terus kalau ketemu Handan.
"Ayahnya Gio udah datang?" tanyaku. Sebenarnya aku yang baru saja datang juga tadi sempat melihat-lihat ke sekeliling pengadilan, tapi tim ayahnya Gio belum ada yang kelihatan, atau mungkin sudah masuk ke dalam.
"Belum, entah datang atau tidak," balas Sasi, dan di balas anggukan sama Handan.
"Loh kok entah datang atau tidak, nanti sidang perceraian bagaimana? Diundur lagi dong?" tanyaku, kecewa banget rasanya kalau sampai diundur-undur lagi. Apa mereka tidak tahu, aku saja semalam sampai sulit tidur belum juga aku tidur jadi tidak tenang. Perasaan aku sudah melakukan sidang aja padahal itu hanya mimpi. Terus kalau ditunda lagi, ya keenakan mereka.
__ADS_1
"Tenang aja, ada atau tidaknya ayahnya Gio sidang putusan akan tetap berjalan. Malah bisa saja hakim menilai mereka todak koperatif dengan cara tidak datang ke sidang putusan. Mereka menilai pihak tergugat tidak sopan. Sedangkan hakin untuk memberikan sidang putusan sudah pasti ada kerja keras yang harus di bayar." Handan yang menjelaskan atas pertanyaanku.
Rasanya hati ini langsung adem, ketika mendengar jawaban Handan.
"Tapi berati tetap cerai kan?" tanyaku maklum aku tidak pernah ngerti kaya ginian, dalam riwayat keluargaku ataupun saudara-saudaraku tidak ada yang mengalai nasib buruk seperti aku. Baru aku yang bernasib kurang baik. Itu sebabnya aku seperti merasa malu kalau sampai keluargaku tahu kalau aku justru bercerai dengan ayahnya Gio.
Namun, ini semua sudah terjadi mau tidak mau aku harus menerimanya. Cepat atau lambat orang tuaku juga akan tahu bagaimana dengan keadaan rumah tanggaku yang sesungguhnya sehingga aku pun harus siap menerimanya, dan siap juga menceritakan dengan kedua orang tuaku, dan keluarga besar ku akan tahu.
"Ya iya, tetap cerai meskipun tidak ada ikrar talak di akhir persidangan nantinya. Tetap jatuh talak satu jadi nggak usah dipikirkan dia datang atau tidak. Semuanya akan tetap berjalan dengan lancar. Tapi tetap lebih bagus dia datang karena itu jauh lebih jelas putusannya."
Aku mengangguk paham. Kalau sidang perceraian sudah selesai aku tinggal fokus dengan sidang perzinahan dan selingkuh. Kata Handan laporan tabrakan itu pihak dari korban meninggal yang jauh lebih berhak untuk mengajukan laporan, dan aku statusnya sebagai saksi. Meskipun yang diincar adalah aku, tetapi yang dirugikan jauh lebih besar adalah pihak pengemudi ojek online. Berati aku hanya tinggal mengurus satu lagi kasus. Yang aku sebenarnya hanya tinggal mengikuti alur karena aku dan Handan sudah sangat yakin ujung-ujungnya aku yang akan kembali menang. Itu sebabnya ayahnya Gio panik karena dia sudah bisa menebak dia bakal kalah. Sehingga berbuat yang akan merugikan aku. Mungkin niatnya membuat aku takut dan menghentikan kasus ini. Namun sayang semuanya di. luar kendali mereka. Malah mereka terkenal kasus yang jauh lebih berat.. Panik lah pasti hukumannya tidak main-main pastinya.
Tepat pukul sepuluh sidang pun di mulai. Benar dugaanku ayahnya Gio lagi-lagi tidak datang dengan alasan sibuk. Yang datang hanya kuasa hukumnya. Biarlah dia tidak datang juga, yang penting ada kuasa hukum yang sah, dan putusan sidang akan tetap berjalan.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1