
Aku bersimpun di hadapan Gi. dan memegang pundak putra sulungku. "Gio, Bunda pulang dulu yah. Gio di sini bareng sama Nenek dan Kakek, ada Tante dan Om juga, dan ada Bi Jum juga jadi Gio jangan nakal yah," pamit ku pada Gio, sebelum aku pulang kembali ke rumah Meli.
Meskipun aku berat meninggalkan Gio dan aku juga ingin tinggal bersama ke dua orang tuaku, tetapi apa boleh buat ini semua demi keadilan. Masih banyak yang harus aku kerjakan, demi masa depan yang tenang.
"Iya Bunda, kan Gio sudah mau jadi abang, kata Tante dan Om kalau mau jadi abang harus baik dan tidak boleh rewel," balas Gio dengan suara yang menggemaskan, dan makin pintar. Makin berat rasanya aku meninggalkan Gio. Namun, tuntutan pekerjaan dan urusan yang lainnya. Setelah aku pamitan dengan Gio, Ibu, Ayah dan juga adik-adikku. Tentunya aku juga menitipkan Gio pada Bi Jum. Pukul delapan aku langsung melanjutkan perjalanan dengan diantar oleh adikku yang nomer satu. Maklum mau naik taxi nggak diizinkan oleh orang tuaku.
Sepanjang perjalanan kami banyak cerita. Malah aku merasakan kalau hubunganku dengan adikku jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang adik-adikku jauh lebih asik dan mengerti kondisiku. Berbeda dengan dulu di mana hubungan kami tidak sedekat dan seperduli ini. Ada banyak hikmah dari kejadian ini, aku sekarang jadi lebih dekat denga ke dua orang tuaku, dan juga adik-adikku. Di mana hubungan kami semapat memanas.
Pukul sebelas malam aku pun sampai di rumah Meli. "Kamu nginap sini aja Lis, ini udah malam kalau langsung pulang takut ada apa-apa."
"Iya lah Mbak, ngantuk juga kalau langsung pulang, ya gak berani juga. Mau sampai jam berapa di rumah. Ngomong-ngomong Mbak Meli sama Mbak Janah udah tidur?"
Tidak aneh yah kalau keluargaku pada kenal Meli dan Janah serta Handan, karena dulu kita memang selalu bersama-sama terus. Ya meskipun gak satu angkatan semuanya tapi udah akrab dari sananya. Entah dari mana juga tiba-tiba seakrab itu, padahal awalnya kita orang yang saling jutek. Kecuali Handan dan Meli yang udah deket dari jaman kakek neneknya.
"Udah lah pastinya, besok kan pada kerja." Aku mengajak Sulis adik pertamaku untuk tidur di kamarku. Tidak seperti dalam mobil tadi yang banyak obrolan, kali ini aku dan Sulis justru terlibat obrolan yang ringan dan santai. Maklum udah cape jadi tidak lama langsung merangkai mimpi. Apalagi besok adalah hari pertama aku kerja.
Beruntung aku hamil yang sekarang tidak seperti hamil saat Gio yang mabok dan ngidam cukup parah. Hamil yang kali ini justru aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan saking tidak tahu kalau hamil ketahuan hamil sudah hampir usia empat bulan. Sungguh luar biasa anak ku kali ini sangat ngerti kondisi orang tuanya. Mungkin calon anakku yang sekarang tau kalau ayah dan bundanya sudah tidak bekerja lagi.
__ADS_1
Pukul lima pagi aku pun langsung bangun seperti biasa, mandi, ibadah dan bersiap untuk kerja. Berhubung ada adikku yang mau pulang maka sebelum pulang aku manfaatkan untuk mengantarku ke kantor.
"Wah, Tazi kamu sudah pulang. Jadi rame lagi deh," ucap Janah dengan wajah berbinar bahagia ketika melihat aku turun bareng Sulis.
"Wah, Sulis ikut juga. Kamu cepet banget gede Lis. Kerja di mana sekarang?" tanya Meli, pada adikku.
"Bantu-bantu Ayah aja Mbak. Kasihan nggak ada yang bantuin usahanya."
Yah, ayahku memang punya toko bangunan, jadi yang pegang kerjaan adikku sedangkan ayahku sendiri malah masih kerja dengan orang. Aneh memang, tapi katanya kerjaan itu dulu yang sangat bergengsi dan juga sangat sulit dapatkannya serta dari kerjaan itu Ayah bisa menghidupi kami, hingga sekarang ayah punya sampingan yang dikerjakan oleh adikku. Sedangkan ibuku ngolah sekolah milik almarhum kakek.
"Iko nggak ikut sini lagi Taz?" tanya Meli. Mereka memang gitu, padahal sebelumnya aku sudah bilang kalau Gio akan tinggal di rumah ibuku. Aku juga jelaskan alasannya apa saja. Tapi mungkin Meli memang lupa jadi tanya lagi.
"Yah, nggak rame dong nggak ada Gio. Biasanya kalau pagi pasti heboh, enggak ada yang nangis. Gak ada yang bisa diusilin," sambung Janah yah sesuai dugaanku pasti mereka kehilangan itu.
Setelah bercengkrama dengan Meli, Janah dan Sulis. Kini aku pun langsung berangkat kantor. Tidak harus menunggu lama karena memang aku sengaja berangkat lebih awal. Tidak enak kalau sudah satu minggu cuti malah masuk telat lagi. Sebagai rasa terima kasih karena kantor ini sudah memberikan cuti untuk aku, aku pun memutuskan untuk berangkat lebih pagi.
"Hay Taz uda sembuh."
__ADS_1
"Gimana kabarnya Taz, udah sehatan kan?"
"Alhmadulillah, udah sehat yah Taz."
"Aku dengar-dengar kamu hamil, selamat yah."
Aku mengembangkan senyum bahagia. "Alhamdulillah berkat doa dari kalian semua, sekarang aku sudah sehat. Anak aku juga semuanya sehat. "
"Syukurlah, kita ikut senang. Semogga kerjaan lancar yah, dan anak kamu juga sehat selalu," balas teman-temanku.
Tak henti-hentinya aku mengucapkan terima kasih dengan dukungan dan perhatian dari teman-temanku.
Meskipun aku bisa dikatakan baru kerja di kantor ini, tetapi teman-teman aku sangat baik-baik. Aku merasa sangat beruntung karena teman-temanku baik dan perhatian, bahkan aku juga tidak menutupi statusku. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Baik dari hubungan aku dan ayahnya Gio, kondisi anakku dan kenapa bisa cerai semuanya aku buka dengan jelas, agar tidak ada fitnah.
Bukan bermaksud membongkar aib ayahnya Gio, tetapi aku tidak ingin perceraianku yang mungkin informasinya tidak jelas bakal digoreng oleh mereka. Lagi pula cepat atau lambat orang-orang akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang akan tahu siapa mantan suami aku dan kasus perceraian kami. Karena berita viral itu mereka pasti tahu, hanya saja tidak tahu saja kalau aku adalah wanita yang diselingkuhi seorang anak buah dengan bosnya.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...