
Apabila ku ingat beberapa hari ke belakang, rasanya betapa sakitnya hati ini, betapa sulitnya hidup ini, betapa kejamnya Tuhan mentakdirkan garis takdir seperti ini. Namun, aku selalu berpikir positif, aku hanya sedang berusaha melangkah ke tangga kehidupan yang lebih tinggi.
Rasanya diri ini seperti batu karang di lautan, meskipun sengaja dipukul agar hancur hingga menjadi debu. Lalu melayang tertiup angin. Terbang tinggi kemanapun angin meniupnya, tetapi aku tetap sama dengan sebelumnya kuat dan semakin tegar. Tidak akan goyah hancur meskipun gelombang besar selalu menghantamnya.
*****
"Kamu tidak tahu hidupku, lebih baik kamu diam saja! Siapkan mental kamu nanti, karena aku yakin secepatnya kamu akan mendekam di dalam penjara. Silahkan nikmati kebersamaan kamu dengan gundik kamu di dalam penjara. Aku dan Gio pasti akan hidup jauh lebih baik dari kamu."
Plak!!!
Pipiku terasa perih dan panas ketika tangan kekar yang dulu pernah aku banggakan karena dari tangan itu kehidupan keluarga kami berubah dan bahagia. Yah, karena dari tangan itu suamiku bekerja dan memberikan nafkah, tetapi sekarang tangan itu menamparku, tepat di depan umum. Hanya karena ucapan ku yang kata laki-laki itu sangat keterlaluan.
Aku menyeringai memberikan senyum mengejek. "Terima kasih kado terindah sebelum kita benar-benar cerai," ucapku dengan suara lirih dan tetap aku coba untuk kuat dan tidak menangis. Meskipun rasanya tubuhku seperti dihantam dengan bongkahan batu yang besar. Hancur rasanya ketika dari tangan suamiku aku ditampar dan rasanya aku direndahkan oleh laki-laki yang pernah sangat aku cintai selama pernikahan kami yang sudah berjalan lima tahun lamanya.
__ADS_1
Mas Azam pun berdiri dan tubuhnya dicondongkan ke tubuhku yang juga berdiri dengan tatapan yang tajam menatap laki-laki itu.
"Aku akan ambil Gio dari tangan kamu. Dia tidak pantas tinggal dengan kamu yang keras kepala," ucapnya sembari setengah berbisik.
Kembali aku tersenyum dengan senyum mengejek.
"Bermimpi boleh dan sah-sah saja, tapi ingat harus sadar diri dan jangan ketinggian kalau jatuh rasanya sakit. Di mana-mana pengadilan tidak mungkin bisa menyerahkan anak pada orang yang tempramental seperti kamu. Saya pastikan Gio tidak akan bisa ikut tinggal bersama dengan kamu." Untung aku masih bisa menahan diri. Mungkin kalau kesabaranku setipis tisu, kursi di hadapanku sudah melayang ke kepala Mas Azam.
"Kita buktikan saja," balasnya dengan wajah yang semakin memerah karena ucapanku.
Laki-laki itu langsung pergi dengan meninggalkan kartu ATM yanga dia berikan padaku. Yang sudah pasti kartu itu tidak akan aku gunakan.
Tubuhku langsung terkulai duduk dengan lemas. Rasanya tubuh ini langsung kehilangan tenaga ketika Mas Azam pergi.
__ADS_1
"Minum ..." Handan langsung memberikan segelas air dingin di hadapanku. Tanpa pikir panjang aku pun langsung mengambilnya dan meneguk air dingin itu hingga tandas. Ku tatap Handan yang duduk di hadapanku dengan tatapan yang tajam.
"Kenapa tadi tidak datang? Malah diam saja? Mungkin kalau kamu muncul aku tidak kena tampar oleh ayahnya Gio. Aku malu banyak yang melihat ke arahku dengan tatapan yang meremehkan, bahkan mereka seperti menghujat lewat tatapan mereka," keluhku, sakit dan panas bekas tamparan Mas Azam tidak seberapa sakit dibandingkan rasa malu oleh pengunjung cafe yang seolah menghujat ku lewat sorot mata mereka.
"Aku sengaja biarkan dia melakukan itu. Di tempat ini ada CCTV kita bisa gunakan rekaman CCTV di ruangan ini untuk bukti tambahan. Bukanya kalau tidak salah dengar, laki-laki itu akan mengambil Gio. Dan dengan bukti dia menampar kamu di tempat umum bisa jadi bahan pertimbangan hakim untuk memutuskan hak asuh. Yang sebenarnya pasti akan jatuh ke tangan kamu, tetapi kalau laki-laki itu melakukan banding dengan bukti dia menampar kamu akan menjadi semakin sulit untuk dia mendapatkan hak asuh Gio."
Tangan Handan pun menunjuk pada kamera CCTV yang ada di pojok cafe yang pastinya bisa merekam kejadian penamparan Mas Azam padaku. Pandangan mataku mengikuti arah jari telunjuk Handan kemana mengarahnya.
Mungkin aku bisa sedikit lega dengan adanya kamera CCTV di cafe ini, tetapi entahlah rasanya hati ini masih tidak terima ketika ada laki-laki dengan berani dan sengaja merendahkan ku. Rasanya dadaku semakin sesak dan ingin rasanya buru-buru membuat laki-laki itu tidak berkutik lagi dengan hukuman yang dilakukan pada aku dan juga Gio.
"Kamu ke mobil dulu. Aku akan menemui penanggung jawab cafe ini untuk meminta copy vidio rekaman CCTV yang tadi." Handan memberikan kunci mobilnya agar aku menunggu di mobi.
Tidak seperti biasanya yang mana aku selalu menolak, untuk kali ini aku justru langsung mengambil kunci yang Handan berikan. Yah, aku memang saat ini butuh Handan, karena nasihat-nasihat dari laki-laki itu cukup membuatku nyaman. Saat ini aku butuh nasihat dari Handan.
__ADS_1
Bersambung....
...****************...