Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Calon Abang.


__ADS_3

"Bunda ...." Gio langsung menyambut ketika aku baru sampai rumah. Putra ku lari dengan berjingkrak-jingkrak terlihat senang sekali. Aku langsung memeluknya begitupun Gio langsung mengusap usap punggungku. Rasanya semua sakit dan tubuhku yang lemas langsung semangat lagi, dan sakit sembuh sudah.


"Bunda dali mana?" tanya Gio ketika melihatku menyeka air mata. Ini bukan air mata kesedihan, tapi ini air mata bahagia.


'Bunda habis kerja Sayang." Aku dan yang lainya memang sudah sepakat kalau kita tidak mengatakan kalau aku baru saja dirawat di rumah sakit. Begitupun Bi Jum, mengatakan pada Gio kalau aku sedang kerja.


"Kok kerjanya lama banget? Gio kangen, Bunda nanti jangan kerja lagi yah. Gio tidak ada temannya," ucap Gio dengan suara yang lirih dan menahan kesedihan. Aku pun sama merasakan kesedihan juga, tetapi Gio juga harus tahu kalau bundanya harus tetap kerja.


"Gio nakal nggak. Selama Bunda kerja?" Aku mencoba mengalihkan ucapan Gio agar dia tidak membahas pekerjaan lagi. Nanti pelan-pelan aku jelaskan kenapa bundanya harus tetap bekerja.


"Tidak Gio udah pintal. Kata Bibi, Gio mau jadi abang jadi harus pintal," ocehnya dengan sangat lucu.


Sementara Handan tidak ikut turun, dia sedang sibuk-sibuknya. Banyak yang harus dia urus. Bahkan sepanjang perjalanan mengantar aku pulang biasanya dia akan banyak candaan, kali ini dia habiskan dengan menelepon orang-orangnya.

__ADS_1


"Iya Sayang, Gio akan jadi abang nanti jangan rewel lagi yah. Jangan nakal. Gio harus baik sama adiknya."


"Siap Bunda, Gio nggak nakal nanti Gio sayang sama dedek bayi." Aku pun masuk ke dalam kamar untuk istirahat. Sejak aku mengatakan kalau Gio akan punya adik. Putraku yang saat ini sudah usia tiga tahun pun semakin bisa diandalkan. Bahkan Bi Jumi juga mengatakan kalau Gio itu baik dan tidak rewel. Tepatnya tidak seperti sebelumnya yang manja dan ingin menang sendiri. Sekarang sudah bisa nalar.


"Bu, kemarin Bapak kirim pesan?" ucap Bi Jum ketika masuk ke kamarku. Sontak aku yang tadinya mau istirahat bangun kembali ingin tahu apa yang dikatakan ayahnya Gio.


"Ayahnya Gio ngomong apa Bi?" tanyaku. Karena aku sekarang sudah memblokir nomer ayahnya Gio. Sejak kejadian yang di restoran aku tidak ingin lagi berkomunikasi dengan laki-laki itu. Kalau ada apa-apa dengan Gio biar berkomunikasi dengan Bi Jum, atau Hamdan, aku tidak mau ngurusin laki-laki itu lagi.


"Itu aja? Apa ada lagi?"


"Sama tanya surat-surat rumah dan kendaraan yang katanya Ibu bawa?" Nah, pantas Bi Jum terlihat ragu-ragu ngomong karena sebenarnya Mas Azam menghubungi Bi Jum bukan kangen dengan Gio tapi ada udang di balik bakwan. Alias niat sesungguhnya ingin mengambil surat-surat itu. Dan untuk basa basi pun mengatakan kangen dengan Gio.


"Bi Jum jawab apa?" tanyaku ingin tahu apa yang pengasuhnya Gio katakan.

__ADS_1


"Bibi bilang urusan surat-surat Bibi tidak tahu apa-apa? Dan soal ketemu dengan Gio seperti yang Ibu katakan harus omongin dengan pengacara dulu kalau semuanya deal maka Ibu akan berikan izin Bapak ketemu Gio."


Yang jelas aku puas banget dengan ucapan Bibi Jum, bisa banget diandalkan.


"Terus Bapak bilang apa?" Aku semakin kepo apakan mau nerima gitu aja a[a kaya orang kebakaran jenggot.


"Biasa Bu, ngomel. Ngomong katanya Bibi masuk sekongkol Ibu, mau ambil harta yang Bapak kumpulkan mau numpang kaya dan lain-lain. Sesuai yang Ibu bilang Bibi diam aja. Yang waras ngalah."


Tidak salah aku punya asisten seperti Bi Jum. Memang keren, aku janji Bi Jum akan ikut aku kerja sampai kapanpun Bi Jum mau.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2