Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Setitik Harapan


__ADS_3

Seorang dokter mudah mengembangkan senyum, seraya menatapku dengan tatapan yang teduh. "Luka ibu memang hanya luka ringan, tapi calon buah hati ibu cukup kaget dengan kejadian ini. Sehingga ibu pasti merasakan bagian perut agak sedikit nyeri kalau buat jalan kan?" jawaban dari dokter yang menangani pemeriksaan aku sejak tadi.


Jawaban dokter cukup membuat aku kembali pusing. Jantungku seperti berhenti berdetak ketika dokter mengatakan calon bayi.


"Apa artinya aku hamil Dok?"tanyaku sekali lagi, memastikan kalau telingaku masih normal.


"Betul ibu, usia kehamilannya bahkan sudah memasuki enam belas minggu, yang artinya sudah memasuki empat bulan. Apa ibu tidak merasakan ciri-ciri kemahiran? Beruntung calon anak ibu kuat jadi meskipun ibu jatuh dari atas motor janinnya masih bisa dikatakan baik-baik saja dan sehat."


Aku mengulas senyum masam, mendengar penjelasan dokter hatiku sangat sakit. Hamil, sebagian orang adalah hal yang sangat membahagiakan termasuk aku saat tahu dulu saat hamil Gio. Namun, kali ini hatiku justru sakit dan tidak menginginkan akan kehamilan ini.


Andai men99u9urkan kehamilan tidak dosa dan juga tidak membuat sakit diriku maupun buah hatiku. Mungkin aku sekarang akan memilih langkah itu. Selain aku tidak ingin anak ini karena buah hati dari Mas Azam, yang sudah terlanjur memberikan kesakitan untuk aku. Aku juga belum siap untuk hamil lagi. Dulu saat aku menginginkan hamil lagi rasanya sulit sekali untuk hamil, tetapi sekarang ketika aku tidak menginginkannya dokter mengatakan aku hamil sudah enam belas minggu yang artinya sudah empat bulan usia kehamilan anakku.


Entahlah, aku benar-benar tidak sadar kalau aku sedang hamil. Selama ini datang bulanku memang tidak teratur, sehingga ketika aku tidak datang bulan beberapa bulan ke belakang aku beranggapan kalau ini gara-gara aku yang sedang stres.


Ku pejamkan mata ini yang rasanya kepalaku semakin berdenyut kencang. Di rumah sakit dan sudah minum obat nyatanya aku tidak juga merasakan kalau kepalaku membaik. Tetap saja rasa pusing justru semakin kuat.


Krekettt ... Pintu ruangan di buka, pandanganku pun menatap ke arah pintu. Handan masuk dengan wajah yang justru terlihat bahagia. Entahlah apa yang membuat bahagia, aku berharap yang membuat bahagia adalah kondisi sopir ojek online yang sudah sadar dan kondisinya baik-baik saja.


"Barusan aku bertemu dokter yang menangani kamu, katanya kamu sedang hamil lagi. Selamat yah, aku ikut senang dengarnya," ucap Handan yang langsung membuatku bukanya bahagia justru rasanya hati ini tidak nyaman, dan ingin menangis saja. Banyak sekali pikiran di dalam otakku, sehingga aku justru seperti orang yang kehilangan akal. Pikiran-pikiran buruk mengisi otakku termasuk berharap agar bayi yang aku kandung tidak kuat dan aku keguguran. Sungguh aku sangat lelah.

__ADS_1


Ku alihkan pandangan mata menatap jendela yang besar. Awan di luar sana sangat cantik danĀ  cerah sangat berbeda dengan hatiku yang mendung.


"Aku tidak tahu rencana Alloh seperti apa, tapi aku hanya tidak suka dengan Tuhan menitipkan nyawa lagi di rahimku. Aku tidak mengharapkan anak ini," balasku frustasi. Yah, pikiranku sangat buntu entahlah aku tidak lagi teringat dosa, hatiku benar-benar sedang galau.


"Astaghfirullah Tazi, kenapa kamu bisa-bisanya berbicara seperti itu. Anak adalah rezeki. Banyak di luaran sana yang menginginkan buah hati, dan ketika kamu diberikan kepercayaan lagi itu tandanya Alloh percaya dengan kamu untuk memiliki anak lagi, lalu kenapa kamu justru berbicara seperti itu." Handan membalas dengan nada bicara yang kecewa. Wajar sih dia bicara seperti itu karena aku yang memang sangat jahat.


Aku hanya membalas dengan mengulas senyum getir. Entahlah aku tidak tahu dengan apa yang aku pikirkan, tetapi itu yang ada dalam hatiku, aku benar-benar tidak menginginkan kehamilan ini.


"Kamu tidak ada di posisiku jadi kamu tidak tahu bagaimana perasaan hati ini," balasku dengan nada yang dingin. Aku benar-benar pusing dan tidak ingin mendengarkan ceramah apa pun. Ceramah baik kalau kondisi aku sedang seperti ini rasanya akan sama saja, tidak berguna.


"Apa kamu takut dengan kamu hamil pengadilan akan membatalkan perceraian kamu?" tanya Handan kali ini nada bicaranya jauh lebih lembut.


Aku menunduk dan memainkan jari-jariku. "Bukanya seperti itu, banyak yang proses perceraiannya ditunda setidaknya sampai aku melahirkan. Pengadilan banyak yang menunda perceraian dan memberikan kesempatan kita untuk saling memperbaiki rumah tangga," balasku dengan lemah.


"Apa yang kamu katakan memang bisa terjadi dan ada beberapa bahkan sebagian besar perceraian akan ditunda kalau istri ketahuan hamil. Namun, bukan tidak mungkin pengadilan akan tetap mengabulkan perceraian kalian. Karena kasus kamu sudah cukup kuat buat mengajukan permohonan perceraian." Entahlah itu memang benar atau Handan hanya ingin menghiburku saja.


"Syarat agar aku tetap bisa cerai bagaimana?" tanyaku, mungkin aku bisa mengikuti anjuran dari Handan.


"Tidak gimana-gimana, sebenarnya kamu tetap bisa cerai karena kasus perselingkuhan pengadilan tidak akan mentolerir keadaan itu sekalipun kamu hamil, hakim bisa tetap mengabulkan permohonan kamu. Suami di penjara dan suami meninggalkan istri dalam waktu yang lama, tanpa ada nafkah. Maka pengadilan akan tetap mengabulkan tuntutan perceraian. Lagian sidang perceraian kamu hanya menunggu ketuk palu, jadi aku rasa pengadilan tidak akan menghalangi dan mereka juga tidak akan tahu kalau kamu hamil. Apalagi kalau memang dugaan kita benar ada andil dari ayahnya Gio kalau dia adalah dalang dibalik kecelakaan kalian."

__ADS_1


Aku menghirup nafas lega mendengar penjelasan Handan, dan bisa dikatakan aku lebih tenang sekarang. Meskipun selama belum ketok palu hatiku masih tidak nyaman.


"Kondisi sopir sekarang sudah sadar, dan mengalami luka di kakinya yang cukup parah, dan tangan yang juga parah. Tapi sekarang sudah mulai viral di media sosial, karena untung ada CCTV di lokasi kejadian, jadi aku yakin tidak akan lama pelaku itu akan tertangkap. Dan untuk biaya pengobatan sopir juga diklaim dari pihak perusahaan ojek online. Rekan-rekan sejawat juga sedang menggalang donasi untuk membelikan motor kembali untuk sopir ojek online, dan untuk kebutuhan sehari-hari aku juga memberikan tawaran pekerjaan pada sopir ojek online kalau sudah sembuh jadi kamu jangan khawatir karena semuanya sudah diurus dengan sangat baik."


Mendengar penjelasan dari Handan hatiku sangat bahagia. Jujur ini adalah kabar yang menurutku sangat aku tunggu, dan cukup mengalihkan pikiranku soal kehamilan.


"Oh iya urusan Gio juga beres, tadi Bi Jum sudah angkat teleponku, katanya dia ketiduran saat menidurkan Gio, udah kamu jangan pikirkan apa-apa lagi untuk urusan kamu semuanya sudah beres. Aku juga sudah beri kabar sama Meli dan Janah agar nanti kalau pulang kerja bisa ke sini untuk menemani kamu. Karena aku tidak bisa tetap menemani kamu. Aku harus urus masalah penabrakan kamu tadi pagi, agar semuanya cepat beres."


Aku kembali terharu mendengar semua yang Handan katakan, aku padahal tidak meminta Handan melakukannya, tetapi Handan sudah mengerjakan semua. Aku sangat bersyukur karena memiliki teman sekaligus pengacara yang sangat baik.


"Terima kasih Ndan, jujur sekarang aku sudah tenang," jawabku dengan senyum tipis.


"Iya sama-sama, kamu sehat-sehat aja, anak kamu butuh ibu yang sehat dan kuat. Jangan pikirkan Azam, aku yakin dia tidak akan lama juga akan menerima batunya."


Kembali aku mengulas senyum dan dalam hatiku aku menjawab dengan ucapan AMIN yang sangat kencang.


Aku ingin lihat bagaimana mereka menerima buah dari perbuatan mereka. Aku yakin Alloh tidak akan pernah tidur. Alloh pasti. memberikan kado yang istimewa untuk mereka. Dan mungkin kado dari Alloh ini bisa menyadarkan mereka bahwa yang indah di dunia belum tentu berakhir bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2