
Kembali aku mematikan ponsel, tanpa ingin aku membalas pesan-pesan mereka. Bukan aku takut, hanya aku tidak ingin menambah beban pikiran. Aku paham betul sekalipun aku berdiri di tengah-tengah kebenaran, membela harga diri, tetap saja di mata mereka aku tetap salah. Jadi percuma saja aku menjelaskan sesuatu yang benar pada orang yang sudah membenci kita. Yang ada hanya membuang-buang waktu, pikiran dan menambah beban hidup.
Kembali aku simpan ponsel setelah membaca pesan dari suami, ipar dan juga mertuaku. Apa yang aku takutan terjadi juga. Apa yang aku lakukan terlihat salah di mata mereka, dan apa yang Mas Azam lakukan, semua karena di mata mereka aku jadi istri tidak bisa melayani suami.
Biarkan mereka beranggapan seperti apa, yang jelas aku yakin kalau mereka berada di posisiku, mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan. Atau mereka tidak akan melakukan seperti yang aku lakukan karena mereka hanya tahu berada di posisi sebagai gundik. Ah, entahlah yang jelas aku dan mereka cara berpikirnya tidak pernah sejalan.
Aku, anti selingkuh, poligami atau apalah. Tidak ada dalam kamusku membagi cinta dan perasaan. Dalam kamusku, lebih baik sendiri dan berpisah dari pada harus memelihara racun dalam rumah tangga. Yah racun, bukan madu. Terlalu indah disebut madu dalam rumah tangga. Ketika ada nyawa lain dalam hati pasang kita. Entah siapa yang mengatakan madu. Ingin rasanya aku protes jangan kasih istilah madu untuk wanita lain yang masuk dalam pernikahan orang. Lebih cocok dengan sebutan racun, karena dia hadir membuat hidup pahit.
Aku pikir kisah seperti ini hanya ada dalam cerita sinetron dan kehidupan selebritis yang penuh dengan drama, nyatanya kini aku justru merasakan sendiri. Di musuhi ipar dan mertua hanya karena aku sebagai wanita, istri dan ibu ingin menuntut keadilan. Yang aku lakukan bukan semata ingin mempermalukan suamiku, tapi aku juga ingin memberikan contoh dan efek jera pada laki-laki di luaran sana yang masih suka bermain api dengan melakukan hubungan zina dengan wanita manapun. Agar lebih baik berhenti melakukan hal yang tidak berguna sama sekali. Karena ketika istri melaporkan perbuatan kalian, yang malu bukan hanya si laki dan selingkuhannya, tapi juga keluarga besar.
Lucunya ketika keluarga besar sudah tersudut dan malu, mereka justru balik nyerang mental istri sah, sepertiku. Dengan tujuan agar aku tidak melanjutkan lagi laporan pada polisi. Mungkin kalau wanita lain yang tidak suka ribet akan memilih damai dan diselesaikan dengan cara kekeluargaan.
Namun, aku justru lain, dalam hatiku ketika aku diteror dengan kata-kata yang menyudutkan, aku justru dalam hati semakin bersemangat untuk terus maju, pokoknya rasanya belum puas kalau Mas Azam dan gundiknya belum merasakan tidur di balik jeruji besi. Jahat? Yah, anggap saja aku begitu. Baik sama orang yang salah, jatuhnya justru dimanfaatkan dan dikadalin.
__ADS_1
Aku merebahkan tubuh kembali. Selagi Gio masih anteng dengan Bi Jum, aku kembali melanjutkan tidur yang tertunda. Menghadapi masalah ini, aku butuh kewarasan sehingga aku harus tetap jaga diri, dengan istirahat yang cukup dan makan yang bergizi.
Setiap orang pasti pernah merasakan hidupnya berada di titik terendah. Sama seperti yang aku rasakan saat ini. Aku merasa benar-benar merasa berada di masa-masa yang sulit dan berat.
Andai, dulu aku mendengarkan nasihat kedua orang tuaku. Mungkin aku tidak akan merasakan kecewa seperti sekarang ini. Filling orang tua memang sangat bagus. Ayah dan Ibu dulu menentang keras pernikahan kami. Namun, aku yang dibutakan dengan cinta, justru menentang mereka dan tetap memilih Mas Azam, aku tidak masalah tidak diakui anak mereka lagi. Dalam batinku tetap yakin kalau cinta Mas Azam adalah cinta yang paling tulus, tapi nyatanya aku salah.
Meskipun saat ini hubunganku dengan kedua orang tuaku sudah membaik, tapi rasanya aku malu kalau harus pulang ke rumah orang tua di saat aku dalam masalah seperti ini.
Aku malu karena dulu tidak mendengarkan kata-kata orang tuaku. Padahal mereka berbicara baik, karena tidak ingin anaknya di kecewakan.
"Nda, pulang ..." rengek Gio. Mungkin dia tidak betah Gio tinggal di rumah Meli.
"Pulang? Gio mau pulang?" tanyaku dengan mengusap rambut putraku yang saat ini berusia tiga tahun.
__ADS_1
Gio mengangguk dengan bibir hampir tumpah karena kembali menangis.
"Ini rumah Gio. Kita sekarang tinggal di sini." Meskipun aku tahu Gio belum begitu tahu dengan apa yang aku katakan, tapi aku berharap kalau Gio sedikit mengerti dengan kondisiku saat ini. Yah, aku pun mengerti Gio tidak biasa tinggal di rumah Meli. Maklum selama kecil aku hampir tidak pernah pergi terlalu lama dari rumah. Aku adalah wanita rumahan yang lebih nyaman tinggal di rumah.
Aku menimang Gio sembari bersholawat agar putraku tidur. Benar saja tidak lama aku timang-timang Gio yang manis pun sudah tidur. Ternyata anakku hanya kecapean dan ngantuk.
"Bu, Bapa ngirim pesan tanya Ibu dan Gio ada di mana?" Bi Jumi, memberikan ponselnya dan menunjukkan pesan dari ayahnya Gio.
"Tolong jangan kasih tau kita di sini yah Bi. Bibi tolong cari alasan agar Mas Azam percaya kalau Bibi tidak tahu kita di mana," pintaku. Aku tidak mau nanti malah ada ucapan-ucapan yang menyerang Bi Jumi. Biarkan dia kerja dengan tenang.
"Baik Bu."
Beruntung Bi Jumi bisa diandalkan dia memilih berada dipihak ku. Meskipun dengan segala resikonya.
__ADS_1
Bersambung.....
...****************...