
Aku pulang ke rumah Meli ketika dua sahabatku masih tidur pulas. Begitupun putraku tercinta masih tidur dengan Bi Jumi. Aku berjalan dengan berjinjit agar tidak mengganggu tidur Gio. Sebelum memutuskan untuk tidur, lebih dulu aku melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba.
Sajadah ku hamparkan, di atas sajadah aku berserah, ku pasrahkan jalan hidupku agar Tuhan saja yang mengaturnya. Aku curahkan segala kesedihan marah dan serentetan maslah yang aku alami malam ini. Tidak ada satu pun yang luput aku ceritakan pada-Nya. Aku hanya ingin Tuhan menjadi saksi atas perjalananku, aku ingin Tuhan membantu kesulitanku. Hanya pada-Nya aku berserah, dan hanya pada-Nya aku meminta pertolongan.
Kini aku belajar dari pengalaman malam ini, aku terus melantunkan syair-syair pujian untuk-Nya, mencoba mendamaikan hati ini dengan syair cinta-Nya. Setidaknya aku mencoba membuat sesuatu yang nyaman agar pikiranku tidak semakin tumpah merembet ke mana-mana.
Aku telah kehilangan rasa percaya, rasa dimana aku mengenal cinta. Aku kehilangan arti cinta. Aku sudah kehilangannya. Aku menyeka air mata yang mengintip dari sudut mataku. Sejak tadi aku ingin menangis, tapi aku tahan dengan sekuat tenaga, tidak ingin Mas Azam dan gundiknya tahu kalau aku lemah. Aku tidak ingin mereka menertawakanku karena aku menangis. Namun, sekarang tidak ada alasan aku menahan air mata ini.
Aku terisak lirih, seolah tengah melepaskan satu persatu rasa sakit yang membuat dadaku sesak. Aku tahu menangis tidak menyelesaikan masalah. Namun, mungkin dengan air mata yang keluar sesak di dadaku pun sirnah. Setelah aku melakukan kewajiban. Aku mendekat ke Gio, dan memeluk putraku. Ia sedikit terusik dengan kedatanganku tapi setelahnya kembali terbuai di alam mimpinya. Tanpa sadar aku yang memang sangat lelah pun ikut menyusul Gio menyulam mimpi.
*******
"Tazi ... Tazi ...." Suara Meli dan juga Janah sudah mengusik tidurku, padahal rasanya aku baru saja terpejam, tapi dua sahabatku itu sudah kembali menarikku dengan paksa dari alam mimpi.
"Apa sih ..." Aku pun mau tidak mau harus membuka mata. Duduk bersandar dengan pandangan menatap dua sahabatku. Sedangkan Gio sudah tidak ada di kamar sepertinya Bibi sudah mengajaknya bermain, agar tidak mengganggu tidurku.
"Kamu lihat ini." Janah menunjukan ponselnya. Meskipun aku masih ngantuk dan nyawaku pun belum terkumpul sempurna, tapi aku langsung mengambil ponsel miliki Janah dan melihat berita apa yang Janah bawa. Meskipun bisa aku tebak, pasti tidak jauh dari kejadian malam tadi.
Benar saja. ternyata dua orang yang semalam merekam kejadian di kantor Mas Azam, melakukan siaran langsung di Facebook, dan videonya ter-save di beranda, sontak jadi heboh sejagat perkantoran Mas Azam, tidak hanya di facebook, tapi juga di grup whatsapp, pagi-pagi sudah dapat bahan gibah.
Aku hanya mengulas senyum. Yah, meskipun aku tidak membuka aib suamiku secara langsung, tetapi ternyata Alloh justru membuka dari tangan orang lain.
__ADS_1
"Tazi, ini serius?" tanya Meli yang langsung duduk di sampingku. Pandangan mata wanita itu terus menguliti ku.
"Loe diam aja gitu." Janah nggak mau kalah kepo juga dengan apa yang sudah aku lakukan.
"Yang jelas kalau diam nggak lah Janah. Semalaman kenapa aku minta kalian ambil Gio, ya alasannya karena aku nggak mau diam aja dan diinjak-injak mereka. Mas Azam sudah aku laporkan ke polisi dengan tuduhan perzinaan dan juga selingkuh," jawabku dengan yakin.
"Kamu serius?" tanya Meli lagi, mungkin menurut temanku aku sedang bercanda.
"Ya kali aku bercanda Mel. Ini malasahnya serius masa aku diam aja. Aku nggak mau lah nangis-nangis tidak jelas." Aku yakin dua sahabatku tahu betul bagaimana watakku. Aku tidak pernah bermain-main setiap melakukan apa pun.
Meli dan Janah pun mendukung penuh apa yang aku lakukan, bahkan dua sahabatku mau membantuku untuk mengumpulkan bukti tambahan seperti gosip-gosip Mas Azam dan gundiknya pergi ke hotel, siapa saja yang memergoki dan segala macam info tentang mereka. Karena aku ingat pesan Handan, aku harus terus mencari bukti yang jauh bisa akau gunakan untuk menguatkan laporanku.
Setelah kami mengobrol sebentar dengan kejadian semalam, Janah dan Meli pun berangkat kerja. Aku sendiri kembali merebahkan tubuhku. Gio sendiri aku serahkan pada Bi Jumi dulu. Tubuhku sudah mulai merespon tidak enak, aku takut nanti malah jatuh sakit. Aku yang penasaran dengan kabar Mas Azam pun mencoba membuka ponsel.
Satu persatu aku membuka pesan dari mertuaku, berlanjut ke ipar-iparku, setelahnya pesan dari suamiku yang tentu sebenar lagi akan jadi mantan. Gemas rasanya membaca pesan-pesan mereka.
[Puas kamu Tazi sudah bikin malu anakku!]
[Seneng banget buka aib suaminya. Kasihan nanti kalau Gio gede bakal malu karena ulah ibunya.]
[Sudah hidup enak, tinggal terima aja kok bertingkah]
__ADS_1
[Padahal suami kerja banting tulang buat anak istri, tapi malah istrinya cari gara-gara.]
[Bangga banget bisa viralin suaminya.]
[Kalau aku malu yah, suaminya selingkuh tandanya istrinya nggak becus puasin suami.]
[Aku lakuin ini semua buat kamu, dan Gio, tapi malah kamu sebagai istri nggak tau diuntung]
[Cabut laporan kamu Tazi, anakku sudah bikin aku hidup enak, jangan bertingkah.]
[Kalau Abangku nggak kerja banting tulang pasti kalian juga masih miskin.]
[Sudah hidup enak, malah nggak tau diri.]
Aku terkekeh membaca pesan-pesan keluarga ayahnya Gio. Ya meskipun sesek juga di hati karena mereka justru tandanya mendukung perselingkuhan.
Mereka tetap membela keluarganya meskipun sudah jelas adanya berita viral ini karena Mas Azam yang mulai.
"Sepandai pandai nya menyimpan bangkai pasti akan kecium juga bau busuknya." Mungkin ini pepatah yang tepat untuk Mas Azam.
Bersambung....
__ADS_1
...****************...