Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Gibahin Meli


__ADS_3

Samar-samar suara alarm menarikku dari alam mimpi. Meskipun malas, masih ngantuk juga, tapi aku tetap memaksakan diri untuk bangun. Di sepertiga malam ini adalah waktu yang paling tepat untuk aku memanjatkan doa. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu berharga ini. Pukul tiga pagi, di saat sebagaian orang masih terbuai di alam mimpi. Aku pun beranjak bangun, ku sisihkan rasa malas dan kantukku. Aku mulai membersihkan tubuh dan kemudian bersuci. Ku hamparkan sajadah lalu menjalankan sunahnya. Sebagai pemburu surga aku ingin Tuhan ikut andil dalam masalah-masalahku. Aku ingin Tuhan memberikan pertolongan setiap masalah yang datang ke hidupku.


Untaian doa mengalir dari kalbu lewat bibirku yang kelu. Di luar gelap masih mengusai, memanggut sepi. Aku petik segenggam makna dari kejadian yang aku alami akhir-akhir ini. Kuraup setangkup harapan dari doa yang kulangitkan.


Terpekur dalam sujud, mengadu aku pada-Mu, Engkaulah Sang Penguasa Alam. Meskipun perih, dan terjal jalan hidup ini. Aku akan tetap berdiri dan melangkah dengan harapan yang aku gantungkan pada-Mu. Walau jalan hidup ini sering kali perih dan berkerikir, meluka setiap langkah dalam perjalananku. Ku ambil makna setiap cobaan yang engkau berikan, Ku cecap air kehidupan yang tidak selamanya manis. Semua aku lakukan sebagai kasih cintaku pada-Mu. Aku mohon ridho-Mu Ya Rab, tuntun selalu aku dalam jalan kebaikan-Mu.


Aku menyeka air mata ini. Rasanya hati damai setiap aku mengadu pada-Nya. Sembari menunggu ibadah Sholat Subuh aku mendengarkan kajian dengan bibir terus mengucapkan puji-pujian untuk-Nya. Aku ingin dengan ujian ini aku semakin dekat dengan Tuhanku. Aku tidak memaki-Nya dan tidak juga menyalahkan takdir-Nya. Aku mencoba membuka hati ini dengan kelapangan dada. Setiap hamba pasti akan melewati ujian-Nya. Mungkin Dia mengujiku karena ingin menaikan derajatku. Yah berpikir positif nyatanya jauh lebih sehat untuk mentalku.


Ku lihat banyak sekali yang bernasib jauh lebih buruk dari hidupku. Masih bisa aku bersyukur, karena dengan ujian ini, aku jadi lebih tahu mana yang benar-benar temanku dan perduli denganku atau sebaliknya. Bersyukur, aku masih bisa berdiri dengan hati yang tetap baik-baik saja. Sehingga aku masih bisa berpikir dengan logis dan tentunya masih waras.


Pukul lima setelah aku menjalankan kewajibanku, sebagai seorang ibu yang sudah biasa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan rasanya aku pun tidak betah kalau harus menunggu fajar menyapa dengan duduk-duduk di atas pembaringan.


Yah, kalau biasanya selepas menjalankan ibadah sholat wajib aku akan sibuk menyiapkan sarapan untuk ayahnya Gio, kali ini aku akan menyiapkan sarapan untuk Gio, aku sendiri dan sahabatku. Ya mungkin dengan masak, aku bisa mengungkapkan rasa terima kasih pada Meli dan Janah yang sudah selalu ada di saat aku membutuhkan mereka, dan di saat aku butuh dukungan dari mereka. Aku tahu tanpa dukungan dari mereka aku mungkin masih menjadi orang bodoh yang dikadalin oleh dua orang itu.

__ADS_1


"Aduh, Mbak Tazi, jangan ke dapur biar Bibi saja, nanti kotor." Seorang asisten rumah tangga di rumah Meli langsung melarang ku ke dapur dengan alasan kotor dan cape.


Aku mengulas senyum. "Tidak apa-apa Bi, aku sudah biasa masak ko, biarkan Tazi masak yah, dari pada di kamar terus bosan," pintaku lagi. Meskipun tadi sudah aku jelaskan kalau aku suka dengan masak, tapi asisten di rumah Meli tetap tidak mengizinkan dengan alasan takut kalau dimarahi oleh Meli. Yah, maklum Meli agak galak.


"Ya udah Mbak, tapi kalau Non Meli marah, Bibi nggak ikut campur yah." Akhirnya aku diizinkan masak juga setelah merayu-rayu menggunakan jurus mengiba ala Tazi.


"Siap Bi, kalau Meli marah sama Bibi, bilang saja biar Tazi marahin balik." Yah, maklum di antara mereka bisa dibilang aku paling bawel galak dan jutek. Maklum cewek kalau sudah jadi ibu-ibu itu identik dengan galak. Ya kaya aku ini, Meli dan Janah kalau aku sudah merepet maka mereka akan diam karena kata mereka aku itu kayak emak-emak. Yah memang bukan kaya lagi sih tapi emang sudah jadi emak-emak.


Pagi ini aku pun sudah masak dengan masakan sederhana, capcay dengan telor dadar ala rumah makan padang. Enggak nyambung sih yah, tapi nggak apa-apa lah, yang penting, serat, dan protein tercukupi.


"Kapan sih seorang Tazi bercanda," balasku tanpa melihat ke arah Janah. Aku masih terfokus dengan menyusun masakanku yang wanginya menggoda cacing-cacing di dalam perut.


"Ya kali, loe tidur terus berubah. Ngomong ngomong ini kamu yang masak?" tanya Janah, dengan tangan nyomot satu potong telor dadar yang montoknya kaya othor.

__ADS_1


"Ya emang ada lagi teman kamu yang rajinnya kaya Tazi. Terus kalau aku bilang ini hasil masakan Meli juga kamu nggak bakal percaya kan," balasku dengan setengah berkelakar, dan memang iya kok. Meli jangankan untuk masak kaya yang ada di meja saat ini, masak air aja bisa nggak ada rasanya.


"Nasis aja terus. Eh tapi Meli sudah banyak berubah loe. Terakir dia masak nasi lupa di cekrekin tombol masaknya. Alhasil kita kelaperan berjamaah." Nah kan nih si Janah pagi-pagi sudah ajak gibah aja.


"Loe ngomongin Meli, nanti kalau kedengaran dia bisa ngambek dan loe diusir dari rumahnya."


"Biarin lah. Aku juga udah bosen sama dia, pengin tukar tambah sama yang nggak pikun ada gak." Janah malah nantangin.


Aku pun terkekeh dengan kelakuan temanku. Yah, udah gak aneh yah. Kita emang sering gini gibahin bergantian. Nanti kalau Janah gak ada kita gantian kok Meli dan aku yang gibahin Janah. Begitupun kalau ganti aku yang gak kumpul dengan mereka, kuping panas digibahin sama dua orang ini.


#Hayo siapa yang kelakuannya kaya Tazi dan teman-temannya saling ghibah...


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2