Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Dukungan Keluarga


__ADS_3

Sepanjang perjalanan aku pun merasakan kegelisahan. Meskipun sebelum berangkat ke rumah orang tua, segala persiapan sudah aku persiapkan. Terutama mengenai kejujuran atas perceraianku dan ayahnya Gio. Namun, aku masih saja merasakan tidak nyaman. Sepanjang perjalanan juga putraku tidur. Sehingga aku pun bisa memejamkan mata, meskipun pikiranku tidak bisa sepenuhnya tenang.


Di mana jarak rumah orang tuaku semakin dekat, hatiku semakin was-was, meskipun aku yakin kalau ibu dan ayah pasti tidak akan pernah marah ataupun menyalahkan aku atas perceraian ini, tetapi rasanya aku tidak berani melihat wajah kecewa mereka.


Setelah menempuh perjalanan lebih dari empat jam karena jalanan yang sedang macet, kami pun sudah sampai di rumah yang sangat aku rindukan. "Sayang, sudah sampai bangun yuk." Aku mengusap pipi Gio yang rupanya masih pulas tertidur.


Tidak harus menunggu lama. Gio pun membuka mata, dan tersenyum riang.


"Udah sampai Bun," balas Gio meskipun nyawanya masih belum terkumpul seratus persen. Aku mengangguk dan bersiap turun.


"Gio ..." Suara adikku yang nomer satu Sulis. Disusul Nino, dan Indy yah ternyata bukan hanya ke dua orang tuaku yang menyambut kedatanganku, tapi ke dua adikku pun menyambut kami. Senang rasanya seolah cape karena perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan terbayar sudah.


Aku lihat Gio pun langsung lari menuju tante dan omnya yang sudah lama tidak bertemu.


"Ibu sama Ayah kemana In?" tanyaku pada adik bungsuku yang membantu mengeluarkan perlengkapan kami untuk menginap dan ada sedikit oleh-oleh untuk keluargaku.


"Ada di dalam, Ibu lagi masak. Ayah kerja tadi niatnya katanya libur,.tapi ternyata ada kerjaan mendadak jadi berangkat kerja deh."


"Terus kalian nggak pada sekolah?" tanyaku, maklum dua adikku masih sekolah cuma Sulis yang udah kerja.


"Libur dong, kan anak yang punya sekolahan," balas Nino dengan sombong.


Pertama yang aku lakuin adalah menemui Ibu di dapur. "Masak apa Bu, wanginya  sampe depan," ucapku sembari salaman dengan wanita yang telah melahirkanku.


"Gio udah salaman sama Nenek," ucapku sama Gio yang langsung asik bermain sama Tante dan omnya.


"Udah Bun ...." Gio menjawab dengan semangat.

__ADS_1


"Kalau kamu lapar makan dulu. Ibu lagi masak rendang, ini sebentar lagi selesai," ucap Ibu sembari menunjuk rendang yang memang sudah hampir matang.


"Nanti aja lah, lagian baru sampai juga Bu. Masih terbawa suasana jalan, pengin istirahat dulu."


"Macet nggak jalanan?" tanya Ibu, saat aku bantu mencuci piring. Sedangkan Bi Jum langsung merapihkan barang kita ke kamar. Untuk sementara aku dan Bi Jum akan tidur bertiga, maklum di rumah orang tuaku kamarnya pas-pasan. Kasihan kalau Bi Jum tidur di ruang keluarga atau tempat sholat.


"Bu, Tazi sama ayahnya Gio sudah bercerai." Aku mencoba memulai obrolan dengan ibu saat di dapur. Yah, di tempat ini aku rasa menjadi tempat yang pas untuk aku memulai bercerita dengan ibuku mengenai nasibku yang kurang beruntung ini. Apalagi hanya ada kita berdua. Sehingga aku lebih leluasa bercerita.


Ibu langsung menghentikan mengaduk rendang. Menatapku seolah mencari kebenaran.


"Apa sudah kamu pikirkan mateng-mateng?" tanya Ibu setelah beberapa saat menatapku. Sedangkan aku hanya bisa menunduk tidak berani rasanya menatap sorot mata Ibu.


Aku mengangguk dengan lemah.


"Azam selingkuh atau ada masalah lain? Karena Ibu lihat kayaknya Azam laki-laki baik dan bertanggung jawab," ucap Ibu yah seperti dugaanku. Ketika Ibu dan Ayah sudah percaya pada ayahnya Gio jelas seolah tidak percaya kalau ayahnya Gio menyakiti aku.


"Selingkuh Bu, dengan atasannya. Baru kemarin pengadilan memutuskan perceraian kita."


Yesss ... hati rasanya langsung dingin serasa disiram air es. Rasa tidak nyaman pun langsung sirna sudah ketika Ibu tidak menyalahkan aku dan tidak nampak kecewa.


"Ibu tidak marah, Tazi dan ayahnya Gio cerai?" tanyaku dengan hati-hati.


Kembali Ibu menatapku. "Jodoh itu untung-untungan. Ibu lebih marah kalau kamu tidak bahagia, tapi tetap bersama laki-laki itu. Meskipun cerai adalah perbuatan paling dibenci Alloh, tapi dari pada kamu menderita lebih baik kamu berpisah. Jangan takut Ibu bakal marah atau gimana, karena semua orang berhak menentukan pilihan hidupnya. Dari pada kamu paksa tetap bersama Azam tapi menderita. Jauh lebih sedih ibu lihatnya."


Aku pun akhirnya bisa mengulas senyum lega.


"Jadi kamu selama ini tinggal di mana? Ko tidak balik ke sini? Apa takut ibu sama ayah bakal marah?" tanya Ibu dengan nada bergurau. Kembali aku mengulas senyum, karena memang candaan ibu benar juga.

__ADS_1


"Tazi nggak ingin Ibu dan Ayah kepikiran. Selama ini Tazi tinggal di rumah Meli, bareng Janah juga. Perceraian Tazi dibantu sama Handan," jelasku dengan detail.


"Handan, anaknya Om Ahmad bukan yang punya tambang batu bara?" tanya Ibu sepertinya masih mengingat Handan, yang dulu memang sering ngejar-ngejar aku, tapi aku malah milih ayahnya Gio. Abisan dia playboy banget.


"Kok Ibu masih ingat," balasku maklum sudah cukup lama tapi Ibu masih ingat memang ingatan Ibu itu kuat banget.


"Ingat lah, Handan pernah ke sini lamar kamu. Tapi kamu sudah pergi mau nikah sama Azam."


Uhuk ... uhuk ... aku langsung tersentak kaget dengan ucapan Ibu.


"Ibu serius, Handan datang ke rumah kita lamar Tazi?" tanyaku kaget dong, karena selama kita bersama Handan, laki-laki itu tidak pernah membahas masalah ini, justru aku baru tahu dari Ibu saat ini.


"Iya dia yang sering sama Meli dan Janah, malah Ibu pikir temen laki-laki kamu sukanya sama Meli atau Janah, tapi malah ngelamar anak ibu, tapi namanya bukan jodoh jadi tidak menikah sama dia."


"Emang menurut ibu, Handan itu seperti apa. Karena jujur akhir-akhir ini kami dekat lagi, dan dia suka bercanda sih pengin jadi ganti ayahnya Gio, tapi Tazi nggak pernah ambil serius, lah wong dia aja pacarnya banyak." Yah, ini dari dulu yang aku pikirkan tentang Handan. Meskipun aku sering dengar katanya kalau yang masa mudanya playboy, masa tuanya justru jadi orang yang bisa dikatakan setia karena nakalnya  sudah dihabiskan saat muda.


"Jujur kalau ditanya dari cara bersikap Ibu tetap milih Handan, tapi kan kamu yang menentukan, kalau dilihat dari cara meminta kamu juga Handan lebih terlihat serius dan biasanya yang serius itu tanggung jawab."


Aku mengangguk pelan. "Sekarang Tazi juga masih ketemu terus sama Handan, soalnya masih ada kasus lagi yang belum selesai," ucapku saking asiknya ngobrol sampai aku lupa memberitahu kalau aku masih ada persidangan lagi, dan niatku datang ke rumah ke dua orang tuaku juga untuk meminta restu agar kedua orang tuaku mendoakan agar persidanganku lancar dan tidak ada masalah lagi, tentu yang terakhir aku bisa membuat suamiku dan gundiknya merasakan tidur di balik jeruji besi.


"Masalah apa lagi? Apa Azam KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) sama. kamu?" tanya Ibu sembari menatapku dengan serius, seolah ingin mencari apakah aku ada luka kekerasan.


"Zina, dan perselingkuhan."


Aku bisa melihat raut wajah Ibu semakin terlihat marah dan kecewa berat sama ayahnya Gio. Wajar sih orang tua mana yang ingin anaknya disakiti. Apalagi sampai selingkuh. Beruntung aku memilih keluarga yang tidak menghakimi, dan mendukung apa pun yang jadi keputusanku.


Yah, aku menyesal karena pernah marah dan pergi dari keluarga, padahal di saat aku ada masalah keluargalah yang jadi tempat ternyata untuk berbagai kisah.

__ADS_1


Bersambung....


...****************...


__ADS_2