Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
CEO?


__ADS_3

"Tazi ..."


Aku kembali menghentikan langkahku, ketika namaku dipanggil lagi oleh suara orang yang sudah aku kenal. Yah, meskipun aku belum melihat orang yang memanggilku, tetapi aku sudah sangat tahu suara siapa itu. Betul, dia adalah Handan. Aku pun membalikan badan dan tersenyum dengan ramah pada Handan.


"Pas banget, jangan-jangan jodoh," kelakar Handan, dengan berjalan menghampiriku, dengan senyum manisnya.


"Ada salam," balasku, mengalihkan candaan Handa, sembari berjalan bersebelahan dengan pengacara ku yang super play boy.


"Dari siapa?" tanyanya, bingung dia secara laki-laki itu banyak banget gebetannya sampai bingung salam dari yang mana.


"Meli, emang ada berapa sekarang gebetannya," balasku sembari terus berjalan tanpa arah. Yah, tanpa arah sebab aku tidak tahu ruangan personalia ada di mana.


"Oh Meli, aku pikir salam dari bundanya Gio."


Aku memejamkan mata. Handan emang bener-bener terus aja cari kesempatan di balik kesempitan.


"Dan, jangan gantung perasaan Meli kasihan. Lagian aku nggak mau nanti hubungan aku dan Meli malah jadi masalah. Aku tidak mau nanti Meli salah paham dengan aku. Aku tidak mau merusak persahabatan kita hanya karena satu laki-laki." Aku menghentikan langkah. Yah, lebih baik aku bicara sekarang dari pada nanti Meli keburu salah paham. Lagi pula aku dan Handan tidak ada perasaan apa-apa, begitupun Handan dia hanya senang bergurau dengan aku.


"Iya-iya, lagian aku bercanda kok. Tapi sedikit ngarep sih. Abisan udah lama naksir sama kamu, tapi kamu malah milih Azam. Ya boleh dong nanti kalau sudah resmi pisah dicoba lagi siapa tahu beneran jodoh."


Ah, si Handan emang paling bener-bener deh susah dibilangin.


"Udah ah jangan bahas sesuatu yang tidak penting. Lebih baik sekarang kamu katakan. Di mana ruangan personalia?" tanyaku mengabaikan celoteh Handan.


"Loh ngapain ke ruangan personalia?" tanyanya balik.

__ADS_1


"Ngelamar kerja kan. Bukanya kalau mau ngelamar kerja harus datang ke ruang personalia, untuk memberikan data diri dan persyaratan lainya?" tanyaku memastikan. .


Iya dong, aku nggak salah kalau tanya ruang personalia. Karena memang dimana-mana kerja ya seperti itu prosedurnya. Nah ini ditanya buat apa? Sontak bikin bingung saja.


Apa mungkin saja jaman sekarang dengan jaman aku dulu sudah beda aturan melamar kerja


"Tidak usah. Orang kamu calon menantu yang punya perusahaan kok harus lamar-lamar. Udah nggak usah kamu langsung kerja bagian asisten pribadi aku." Handan menaik turunkan alisnya, dengan senyuman tengil.


Kembali aku hirup nafas dalam, bener-bener ngomong sama satu orang ini menguji kesabaran.


"Handan aku serius deh, jangan bercanda terus napa. Aku bagiannya apa?" tanyaku dengan gigi saling beradu menunjukkan kemarahanku.


"Hehehe aku kan bercandanya yang baik-baik juga, ya mungkin saja malaikat pas lewat dan kabulkan  ucapan aku. Kamu jadi mantu Papah Ahmad dan Mamah Arum kan gak salah bercanda yang baik-baik, dan kalau kerjaan. Aku sudah bicara dengan Papah kamu memang jadi asisten aku. Maklum Hadi dia sekarang sudah tinggal tetap di Jakarta. Papah juga lagi di Jakarta, dan aku juga ada kerjaan sendiri jadi kamu gantikan posisi aku." Jelas Hadi dan berhasil membuat aku semakin syok. Bagaimana tidak syok kalau Tuan Ahmad adalah presdir alias pemilik perusahaan, dan Handan adalah CEO alias pemimpin perusahaan, kalau aku gantiin  Handan apa aku juga akan menjabat sebagai CEO?


Ah dadaku rasanya semakin sesak. Harusnya aku senang karena itu tandanya aku dan Mas Azam jabatannya lebih tinggi aku, dan itu yang aku mau juga. Agar aku bisa buktikan kalau cewek juga bisa kerja dan menghasilkan uang yang banyak, tapi aku juga was-was takut nanti aku tidak amanah dan tidak bisa bekerja dengan baik, dan akhirnya aku mengecewakan orang-orang yang sudah percaya dengan aku.


"Tidak aku sedang berpikir aja apakah aku mampu mengemban amanah ini, pekerjaan yang kamu berikan terlalu berat," jawabku jujur. Mungkin saja Handan bisa pindahkan aku kebagian lain yang tanggung jawabnya tidak seperti jabatan yang Handan katakan tadi. Rasanya terlalu berat.


"Belum juga dicoba udah menyerah duluan. Mana Tazi yang dulu, Tazi yang aku kenal itu orangnya percaya diri, suka tantangan dan juga selalu semangat buah memulai hal yang baru. Aku yakin kamu itu bisa mengimbangi pekerjaan kamu nantinya. Menjadi asisten aku sekaligus pengganti aku, itu tidak sehoror yang kamu bayangkan kok. Buktinya aku tetap waras sampai sekarang meskipun pekerjaanku pindah-pindah." Handan memberiku semangat dan kepercayaan yang luar biasa. Rasanya aku akan sangat menyesal kalau mengecewakan Handan.


Yah, benar juga kata Handan, aku belum coba tapi kenapa aku bisa tahu kalau aku tidak mampu. Setidaknya coba dulu baru aku mengatakan tidak mampu.


"Ya udah deh, aku akan coba, tapi kamu jangan galak-galak yah. Awas kalau kamu galak-galak aku bakal berhenti kerja," ancam ku dengan nada bicara yang ketus. Meskipun kenyataanya aku tidak akan mudah berhenti kerja karena cari kerja itu susah, belum usiaku yang sudah kepala tiga susah buat cari kerjaan.


Mendengar ucapanku yang songong Handan pun tertawa renyah bahkan sampai beberapa orang yang sudah datang melihat ke arah kami. Bingung kali anak dari pemilik perusahaan tertawanya kaya kunti.

__ADS_1


"Astaga Tazi, mana berani sih aku galak sama kamu. Kan kamu aja lebih galak dari aku. Belum kamu calon istri aku, masa sama calon istri galak, disayang dong," kelakar Handan lagi dan lagi ada istilah calon istri yang membuat aku tidak nyaman.


"Handan, jaga candaan kamu deh. Sumpah aku nggak enak kalau Meli dengar, takutnya dia anggap serius. Please jangan rusak persahabatan kita yang sudah lama." Kembali aku ingatkan Handa dengan candaannya. Takutnya keceplosan dan Meli dengar dikiranya aku juga ada rasa dengan Handan.


"Apa sih Taz, aku dan Meli nggak ada apa-apa. Kan udah dibilang dari awal," balas Handan dengan santai.


"Iya kamu tidak ada perasaan apa-apa, tapi Meli. Dia menyimpan perasaan sama kamu. Tidak mungkin aku korban selingkuh malah tega menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah jelas disukai sama sahabatku. Kalau kamu dengan wanita lain Mungkin Meli tidak akan jadi masalah, tapi kalau dengan aku rasanya aku jadi wanita paling jahat. Jangan bikin persahabatan kita hancur," jelas ku entah berapa kali aku jelaskan soal candaan sensitif ini.


"Iya-iya nanti aku nggak bercanda kaya gini lagi." Akhirnya aku bisa bernafas lega.


"Bercanda boleh, aku juga suka bercanda tapi jangan yang sensitif. Karena aku tidak mau dari candaan malah nanti akan membuat persahabatan aku dan Meli hancur."


Kembali Handan berjanji kalau dia tidak akan bercanda dengan hal yang sensitif. Bahkan. Hari ini aku pun bekerja cukup lancar. Karena ada Om Aldo yang mengajarkan aku dengan telaten. Om Aldo sendiri adalah tangan kanan dari Tuan Ahmad pemilik perusahaan tempatku bekerja alias papahnya Handan. Sedangkan Handan sendiri datang ke kantor hanya setor muka siangan dikit dia kabur. Sampai sekarang jam lima waktunya aku pulang laki-laki itu tidak nongol lagi.


Drettt... bertepatan aku yang akan meninggalkan ruangan Handan. Ponselku bergetar, tanpa pikir panjang aku pun langsung mengambil ponsel yang sudah ku masukan ke dalam tas. Aku sih berharap kalau yang chat si Meli atau Janah, kasih kabar kalau dia akan menjemput ku. Ya tidak apa-apa lah berkhayal dulu.


Namun, wajahku langsung berubah ketika aku melihat siapa yang chat.


"Aku mau ketemu sama kamu sekarang!"


Huh, aku membuang nafas kasar. Ketika membaca pesan dari ayahnya Gio. Kira-kira aku temua atau tidak yah?"


#Sok kasih masukan ditemui atau tidak kalau ditemui kira-kira bakal diapain?


Bersambung...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2