Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Akhir. Tamat


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Jarum jam pun seolah berlari setiap detiknya tanpa terasa kini aku sudah memiliki dua buah hati.


"Bunda, adik Gea nangis," adu Gio yang saat ini sudah berusia lima tahun dan adiknya Gea, sudah berusia satu tahun. Kini Gea sedang belajar berjalan.


"Abang, jangan ganggu adenya dong, biar nggak nangis," seruku yang sedang menyiapkan keperluan Gea nanti di toko. Saat ini aku bekerja menjaga toko bangunan milik Ayah, dan aku selalu mengajak Gea tentu ada Bi Jum yang siap membantuku untuk menjaga Gea selama aku bekerja. Saat ini Gio sudah sekolah TK di sekolah keluargaku sehingga aku tidak harus antar jemput ada bibi dan omnya serta omanya yang memantau sekaligus menjaga Gio.


"Abang gak ganggu adek. Adek pengin di gendong, tapi Abang gak kuat."


Aku tersenyum mendengar celoteh Gio, dia memang abang yang baik.


Repot sih kalau pagi gini buat menyiapkan keperluan Gio dan keperluan Gea dan aku sendiri selama bekerja. Maklum jadi single parents memang harus super kuat harus bisa cari uang untuk kebutuhanku dan juga anak-anakku. Apalagi mantan suami juga tidak menunaikan kewajiban nafkah untuk anaknya sejak ia masuk ke dalam penjara. Sehingga semua keperluan Gea dan Gio aku yang mencukupinya. Alloh memang maha baik sehingga aku kuat untuk mengurus semunya. Rezeki anak-anak pun selalu ada.


Seharusnya sekarang ayahnya Gio sudah bebas, tetapi sampai usia Gea satu tahu tidak sekalipun datang atau menanyakan kabar anak-anaknya. Aku pun tidak tahu gimana kabarnya. Bukan kangen pengin bertemu, hanya saja sebagai ayah dari Gio dan Geo seharusnya ada datang untuk menjenguk anak-anaknya. Apalagi Geo dari lahiran sampai sekarang tidak pernah bertemu ayahnya.


Hubunganku dengan teman-temanku termasuk Handan pun masih terjalin dengan baik. Janah dan Meli masih sering datang berkunjung ke sini. Begitupun Handan ada beberapa kali datang untuk bermain dengan Gio dan Geo. Hubunganku dengan Handan pun tidak lebih dari teman, bukan aku tidak peka dengan perasaan Handan hanya saja aku benar-benar ingin sendiri dulu membesarkan anak-anakku, dengan kasih sayangku sepenuhnya. Aku tidak ingin kalau nanti punya suami lagi justru anak-anakku akan merasa kalau aku kurang kasih sayangnya.


kerepotan pagi sudah teratasi hari ini pun bekerja seperti biasa repot dan seru pastinya. Geo yang dari kecil sudah aku ajak kerja tentu tidak rewel meskipun seharian di toko.


"Mbak ada tamu," ucap sulis dengan setengah berbisik. Aku pun mengernyitkan kening ketika adikku mengatakan ada tamu sedangkan aku tidak ada janji.


"Siapa?" tanyaku tidak kalah berbisik.


"Mantan suami Mbak Tazi."


Aku melebarkan ke dua bola mataku hampir tidak percaya. "Ayahnya Gio?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan meskipun aku sih sudah yakin seratus persen kalau yang datang ya ayahnya Gio.

__ADS_1


Suli mengangguk dengan pelan.


"Ngapain?" tanyaku keceplosan, aku langsung menutup mulutku yang lupa, jelas kedatangan ayahnya Gio pasti kangen dengan anak-anaknya.


Aku menghirup nafas dalam dan menghembuskannya berkali-kali membuang rasa, marah, kecewa dan sebal. Kenapa baru datang sekarang setelah Geo sudah besar sedangkan seharusnya ayahnya Gio sudah keluar sejak Geo usia enam bulan, dan baru datang setelah usia Gea satu tahun, apakah tidak kangen selama ini.


Aku masuk dengan menggendong Geo setelah mengucapkan salam. Pandangan mataku tertuju pada laki-laki yang dulu sangat tampan dan bersih, kali ini ayahnya Gio jauh lebih kurus dan kulitnya legam serta mata yang jauh terlihat sangat kelelahan.


"Tazi ... apa itu anak kita?" tanya Mas Azam dengan beranjak berdiri. Aku pun mengangguk dengan menurunkan Gea yang sudah mulai belajar berjalan. Aku biarkan Mas Azam berkenalan dengan Gea.


"Namanya Gea sekarang sudah satu tahu," ucapku sebelum Mas Azam bertanya. Laki-laki itu menatapku. sembari meggendong Geo yang memang Geo sudah biasa berbaur dengan karyawan toko sehingga tidak takut orang. Gea langsung mau ikut dengan ayahnya.


"Maafkan aku_"


"Aku malu mau datang ke sini. Butuh banyak keberanian aku untuk datang menemui kamu. Aku sekarang bukan seperti Azam yang dulu, apalagi kalau aku datang tanpa membawa apa-apa kurang sopan rasanya." Yah, aku tahu sih berada di posisi Mas Azam yang sekarang aku dengar sudah jatuh bangkrut.


"Kenapa harus malu? Gio dan Gea saat ini yang dibutuhkan ayahnya, apalagi Gea dari lahiran tidak tahu siapa ayahnya. Gio mungkin sampai lupa bagaimana sosok ayahnya. Kenapa Mas Azam berpikir kalau kita itu hanya butuh materinya saja, sedangkan yang Gea dan Gio butuhkan adalah Mas Azam. InsyaAlloh di sini Gio dan Gea tidak kekurangan apa pun. Tazi juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak-anak, dan mereka tercukupi dari hasil kerja Tazi."


"Maafkan aku lain kali aku akan sempatkan datang untuk Gio adan Gea."


Aku hanya mengulas senyum samar. "Kalau gitu nikmati kebersamaan dengan Gea dan Gio. Aku mau kedalam dulu."


"Terima kasih." Lagi Mas Azam sekarng sangat berubah sikapnya tidak lagi keras kepala dan egois.


"Ngomong-ngomong sudah ketemu dengan Gio?" tanyaku karena aku lihat Gio tidak melihat Gio.

__ADS_1


"Tadi sempat ke sini tapi sekarng masuk lagi ke dalam. mungkin malu."


"Tunggu Tazi akan panggil Gio."


Tanpa menunggu jawaban dari Mas Azam, aku pun memanggil Gio. Meskipun aku tahu Gio itu ada rasa canggung karena sudah lupa dengan papahnya tapi setelah aku nasihati akhirnya Gio mau bermain dengan papahnya.


Sore ini Mas Azam pun bermain dengan Gio dan Gea. Hingga di pukul delapan malam Mas Azam pamit untuk pulang tentunya Mas Azam juga sudah meminta maaf ke orang tuaku dan adik-adkiku. Mereka pun sudah memaafkan Mas Azam termasuk aku, tetapi tetap dengan pendirianku. Aku memaafkan karena Mas Azam tetap jadi ayah dari anak-anakku. Mas Azam pun meminta maaf berkali-kali meskipun aku sudah mengatakan kalau aku sudah menutup kasus ini. Meskipun tidak melupakannya.


Yang terpenting bagiku saat ini, selain kebutuhan anak-anak tercukupi. Anak-anak juga tidak kehilangan kasih sayang dari papah dan bundanya. Anak-anaku tetap bisa merasakan kasih sayang dari ibu dan anaknya.  Meskipun banyak yang mengatakan kalau orang tua berpisah pasti korbanya anak-anak awalnya aku berpikir seperti itu, tetapi sekarang aku dan Mas Azam membuat kesepakatan kalau Mas Azam setiap bulan datang ke sini untuk bermain dengan anak-anaknya. Dan Mas Azam setuju. Sehingga Gea dan Gio tidak merasa kurang dekat dengan ayahnya. Karena sekarang mereka bisa ketemu dan bermain bersama.


Mas Azam memang gagal jadi suami, tapi aku tidak ingin melihat ia gagal menjadi sosok ayah. Biarkan masa lalu memberikan pelajaran buat laki-laki itu. Mas Azam sudah menanggung akibatnya. Ia jatuh miskin kembali. Dia adiknya dihukum dengan hukuman yang lama. Ibu dan ayahnya sakit-sakitan dan. sekarang ia jadi tulang punggung keluarga. Aku rasa hukuman dariku dan Alloh sudah cukup untuk memberikan efek jera untuk dia yang pernah selingkuh.


Sekarang yang terpenting kami bisa memberikan contoh dan kasih sayang yang tulus untuk Gea dan Gio. Manusia tidak ada yang sempurna termasuk aku dan Mas Azam.


Meskipun tidak bersama lagi, tapi kami berjanji tidak akan saling egois, Anak-anak nomer satu.


Tidak ada perselingkuhan yang sempurna. Kalau saat ini masih aman, mungkin Tuhan tengah memberikan waktu untuk kalian tobat. Jangan sampai berakhir seperti Azam. Karena ketika manusia sakit hati dan dalam keadaan gelap mata, jangankan masuk penjara. Bahkan bisa jadi membunuh pun akan dilakukan untuk harga diri, dan bentuk pembalasan sakit hati.


(End)


...****************...


Yang sudah membaca sampai akhir yuk mampir ke novel besties Othor dijamin bikin baper


__ADS_1


__ADS_2