Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Calon Papah Baru Mulai PDKT


__ADS_3

Hai Gio, sini bareng sama calon papah baru." seloroh Handan yang berhasil membuat aku, Meli, dan Janah sontak saling lirik.


Apa yang aku takut kan pun terjadi. Candaan Handan tidak bisa direm. Alhasil aku semakin tidak enak dengan Meli.


Aku menghirup nafas dalam ketika Handan kembali bercanda yang menurutku sangat keterlaluan. Bahkan pandangan mata Meli dan Janah langsung bertemu dengan padangan mataku.


"Handan, kamu jangan bercanda kaya gitu. Aku tidak enak dengan Meli." Yah, aku lebih baik negur secara langsung, karena aku benar-benar tidak mau ada kata wanita perusak hubungan orang atau bahkan stigma yang aneh-aneh. Cukup hubunganku dan ayahnya Gio yang dirusak oleh wanita lain. Aku jangan ikut-ikutan merusak hubungan orang lain.


Meskipun Handan beberapa kali bilang tidak ada ikatan apa-apa dengan Meli. Namun, sebagai wanita aku bisa mengartikan apa yang Meli rasakan pada Handan.


"Yeh, tanya tuh sama Meli, aku nggak ada hubungan apa-apa. Iya kan Mel?" Handan menatap Meli. Begitu pun aku pun menatap Meli yang wajahnya masih mengembangkan senyum, tetapi aku tahu Meli hanya tidak ingin orang lain tahu bagaimana hancurnya hatinya karena ucapan Handan.

__ADS_1


"Taz, aku ajak Gio ke depan yah?" tanya Hadi, dan aku pun mengangguk sebagai tanda kalau aku mengizinkan Gio ikut dengan Handa. Karena aku juga ingin berbicara dengan Meli, sehingga membiarkan Handan pergi jauh lebih baik.


"Tapi pulangnya jangan lama-lama yah, dan jangan belikan makanan yang aneh-aneh," pesanku pada Handan yang aku tahu kalau laki-laki itu ingin mengajak keluar putraku.


"Siap!" Handan mengacungkan dua jempol dan aku bisa lihat Gio yang langsung mau dengan Handan, padahal baik Handan dan Gio bisa dikatakan baru bertemu. Namun, Gio sudah langsung akrab dengan pengacaraku itu. Mungkin itu semua karena Gio yang sangat rindu dengan ayahnya. Sehingga menganggap Handan adalah ayahnya juga.


Begitu Handan ke luar, aku pun menggeser dudukku mendekat ke Meli, aku ingin memperjelas ucapan Handan dan perasaanku pada Handan. Aku tidak mau Meli salah sangka. Bagiku hubungan persahabatan kami jauh lebih penting. Dari pada mencari jodoh pengganti.


Bisa aku lihat dari reaksi Meli dan Janah yang langsung terkejut dengan ucapan aku. Di mana mereka berdua awalnya sedang sibuk dengan ponselnya. Aku pun bingung kenapa Janah dan Meli menatapku dengan tatapan yang aneh.


"Kenapa kamu bisa punya pikiran kaya gitu? Aku aja biasa saja dengan candaan Handan," balas Meli setelah temanku itu saling tatap dengan Handan seolah mereka saling berkomunikasi lewat kontak mata.

__ADS_1


"Karena aku tahu kamu menyukai Handan, dan aku tidak ingin dengan kedekatan aku dan Handan. Kamu jadi salah sangka dengan aku. Apalagi Handan itu kalau bercanda kaya tadi. Jujur aku merasa tidak enak dengan kamu. Aku tidak ingin dicap sebagai perusak hubungan orang atau dengan sebutan yang menurutku sangat hina. Aku tahu bagaimana rasanya cinta sebelah tangan dan aku tidak ingin kamu merasakan hal yang sama dengan yang aku rasakan saat ini, apalagi laki-lakinya bermain dengan sahabat sendiri, pasti sakitnya dobel," jawabku dengan jujur. Namun, aku justru melihat Mel dan Janah tersenyum.


"Aku sudah kebal dengan candaan Handan. Lagian aku tahu kalau Handan itu sifatnya dari jaman baheula kaya gitu. Aku nggak pernah ambil hati. Aku dan dia baik karena kan di antara kalian aku dan Handan berteman jauh lebih lama aku dan Handan sudah dari taman kanak-kanak kenal. Keluarga kita bahkan sudah saling dekat itu semua karena mamah dan papaku berteman baik juga. Jadi aku gak aneh dengan candaan dia. Apalagi aku tau di luaran sana Handan juga pasti punya cewek yang lebih deket dari pada aku sama dia. Sia-sia kayaknya kalau aku terlalu mengharapkan pada dia yang jelas gak cukup dengan satu cewek." Meli berbicara terlihat santai.


Yah kurang lebih aku dan Meli pemikirannya sama. Bukan aku tidak menghargai niat baik Handan kalau dia ingin menjadi ayah sambung buat Gio. Namun, aku lagi-lagi belum siap kalau harus berbagi cinta.


Mas Azam saja yang terkenal alim dan dari jaman kami kuliah pacarnya setia dengan aku saja bisa berbuat yang diluar kewajaran selingkuh bahkan sampai zina. Apalagi laki-laki seperti Handan berapa lapis kesabaran yang harus aku siapkan kalau benar-benar aku berjodoh dengan dia.


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2