Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Hari Pertama Ngantor


__ADS_3

"Sayang, Bunda berangkat kerja dulu yah," pamit ku pada Gio yang sedang sarapan bersama Bi Jum. Berat pasti, ini adalah pertama kalinya aku meninggalkan Gio untuk bekerja. Ingin rasanya selalu di sampingnya, menjaga dan tidak melewatkan satu perkembangan apa pun. Namun, keadaan memaksaku meningalkan Gio. Kembali aku mengingat kalau yang aku lakukan saat ini adalah demi kebaikan dan masa depan putraku.


Tatapan Gio padaku, membuat hati ini semakin sedih dan berat rasanya meninggalkan kerja.


"Nda kelja mana...? tanya Gio dengan tatapan yang bingung. Maklum usia Gio yang masih tiga tahun, dan selama ini aku hampir tidak pernah meninggalkan dia apalagi meninggalkan untuk kerja. Biasanya kemanapun aku pergi maka Gio akan ikut. Ketika sekarang aku pamit kerja pasti dalam pikirannya bertanya-tanya kerja di mana.


"Bunda kerja di kantor Sayang, nanti pulang kerja Bunda belikan mainan untuk Gio yah. Sekarang Gio di rumah bareng Bi Jum. Gio jangan nakal dan jangan rewel yah," ucapku lagi dengan berjongkok menyetarakan tinggi putraku yang sedang duduk di meja makannya.


Gio kali ini menatap ke arah Bi Jum.


"Gio di rumah sama Bibi, nanti main bola yah." Bi Jum pun mencoba menasihati Gio agar mau kalau aku tinggal kerja. Ya meskipun sebenarnya aku pergi saja juga Gio tidak akan tahu, tapi kembali lagi aku ingin pergi dengan izin dari putraku agar pekerjaanku lancar dan berkah.


"Iya Bun, Gio di lumah mau main bola sama Bi  Jum," balas Gio dengan wajah yang ceria. Yah anakku memang sedang senang bermain bola. Aku pun merasa lega karena Gio mengizinkan aku pergi. Kini aku pun menatap Bi Jum.


"Bi, nitip Gio yah. Kalau ada yang cari Bibi atau Gio siapa pun itu jangan ditemui. Meskipun itu keluarga ayahnya Gio. Kalau ada apa-apa telpon Tazi yah Bi." Tidak lupa aku menitipkan Gio lagi pada Bi Jum. Meskipun sebelum-sebelumnya aku sudah menitipkan Gio juga pada Bi Jum, biar lebih afdol lagi aku pun menitipkan Gio kembali.


"Baik Bu. Ibu jangan khawatir Gio aman dengan saya."


Yah kini aku pun bisa tenang meninggalkan Gio kerja. Terakhir kali aku cium Gio cukup lama. Yah, sebagai seorang ibu pasti merasakan dilema ketika meninggalkan anak-anaknya di rumah. Namun, tidak semua ibu beruntung dengan menjadi ibu rumah tangga yang menyaksikan secara langsung perkembangan setiap anaknya. Ada yang bernasib sama seperti aku yang terpaksa harus meninggalkan anak-anak kita demi pekerjaan. Masa depan, itu juga yang membuatku yakin dan harus tega meninggalkan Gio untuk kerja. Maklum masa depan anak tidak ditanggung pemerintah, apalagi BP-JS. Canda Bepejes.


Apalagi skincare emaknya ya jelas aku harus cari sendiri.


Yah, aku harus keluar rumah untuk bekerja, karena aku juga tidak mungkin mengandalkan ayahnya Gio untuk menggantungkan hidup Gio dan hidupku. Harus ada penghasilan agar aku juga tidak dihina oleh mereka. Dengan berat kaki ini perlahan meninggalkan Gio dengan Bi Jum. Beruntung Gio tidak rewel ketika aku tinggal kerja pertama kalinya. Mungkin Gio juga sebenarnya tahu apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya. Sehingga dia pun tidak rewel, dan cenderung lebih bisa mengerti kondisi kami.


"Gio nggak nangis kan?" tanya Janah begitu aku masuk mobil mereka. Yah, demi keamanan bersama aku pun memilih numpang mobil Meli. Eh, salah tepatnya aku malas nyetir sendiri. Apalagi di jam kerja seperti pagi dan siang. Lebih baik aku memanfaatkan kebaikan Meli dan Janah alias nebeng.

__ADS_1


"Enggak, mungkin  Gio tahu, kalau kondisi kita tidak seperti dulu," jawabku dengan suara lirih.


"Iya Gio sih nggak nangis, tapi emaknya yang mewek. Kasih tisu Jan, tuh bendungan udah mau jebol." Meli memang tau banget. Aku udah mau nangis. Yah, bukan Gio yang nagis tapi malah aku yang sedih.


"Kalian nggak tahu sih rasanya jadi ibu yang ninggalin anaknya di rumah  demi cari sesuap nasi. Sedih Mel, Jan ..." Nah kan aku malah beneran nangis. Yah, pikiranku justru membayangkan yang tidak-tidak. Padahal aku hanya kerja nanti juga sore balik lagi, tapi malah aku langsung mewek.


"Nah loh, Mel gara-gara omongan kamu Tazi jadi nangis kan." Janah paling semangat bela aku.


"Dih apaan sih Taz, cuma bilang gitu doang nangis," balas Meli merasa benar.


"Lagian kamu Mel, aku lagi sensitif kamu ngomong gitu. Jangankan omongan kaya gitu. Nyamuk ditepuk aja kalau hati lagi sensitif mah bakal aku tangisin tuh nyamuk karena mati." Aku sih nangis juga bukan karena ucapan Meli, karena berat aja ninggalin anak, untuk pertama kali kerja.


"Udah ah jangan nangis nanti make up kamu luntur lagi. Sekarang kamu mau ke kantor mana. Handan atau mana?" tanya Meli sebagai sopir pribadiku saat ini.


Tidak lama kami pun sampai di kantor yang jauh lebih besar dari kantor Mas Azam, bangga dong aku kerja di kantor yang terkenal besar di kota kami. Ya meskipun aku masuk ke kantor ini karena kekuataan orang dalam. tidak apa-apa lah dengan kekuatan orang dalam juga yang penting saat ini bisa dibilang aku kerja di atas Mas Azam.


Sebagai manusia aku pun ingin lebih tinggi dari mantan suamiku ya baik penghasilan jabatan dan semuanya. Aku ingin buktikan kalau aku juga bisa kerja dan lebih dari yang dia hasilkan.


'"Mel, Janah, aku masuk dulu yah. Terima kasih tumpanganya. Ngomong-ngomong nanti pulang kamu jemput aku juga kan," ucapku dengan mengedipkan sebelah mataku. Jurus rayu lah yah. Siapa tahu Meli sekarang berhati malaikat mau jemput aku meskipun jarak kantor kita cukup jauh.


"Tazi, gue baik juga ada batasanya. Loe pulang naik taxi," balas Meli langsung ngegas udah kaya di tanjakan aja, ngegerung.


Aku pun tertawa renyah. Yah aku juga tahu diri yah, tapi sekali-kali ngetes kebaikan sahabat itu nggak ada salahnya.


"Iya-iya baper banget Jan temen kamu. Udah balik sana kerja yang bener biar bisa belikan ponakan kalian mainan yang mahal," usirku pada dua tantenya Gio.

__ADS_1


"Dih, itu mah maunya emaknya, Gio mah dibelikan layangan harga ceban juga udah anteng." Meli langsung sensi lagi.


"He'eh Gio dibelikan bola pelastik yang harganya sepuluh ribu juga udah girang." Janah nggak mau kalah, sekarang dia di pihak Meli. Padahal tadi dia di pihak ku loh, tapi sekarang gantian Meli juaranya. Janah emang gitu plin plan.


"Iya-iya, aku masuk yah. Takut telat nanti dipecat belum juga resmi diterima udah di pecat aja," ucapku, pamit sekali lagi.


"Taz ..." Baru juga aku membalikan badan udah dipanggil sama Meli.


"Apa lagi, mau kasih uang jajan," balasku sembari mengulurkan tangan. Maklum Meli anak orang kaya. Dia kerja bukan karena kekurangan uang jajan, dia kerja karena bosan dan bingung mau ngabisin jatah bulanan dari ibu bapaknya.


"Ada nih dua rebu." Meli mengambil uang dua rebuan yang selalu disediaakan untuk palkir. "Salam yah buat Handa ..." Wajah Meli yang merah dan nada bicara yang lirih membuat aku kembali yakin kalau temanku ini memang ada perasaan spesial pada Handan.


"Sip ... tapi uang titip untuk titip salam nanti transfer yah," balasku dengan setengah berkelakar.


"Kalau yang ini aku nggak denger..." Nah kan Meli langsung injak pedal gasnya, mobil pun langsung melesat pergi.


Aku yang kembali akan masuk pun kembali menghentikan langkahku ketika lagi-lagi namaku dipanggil.


"Taz.... " tapi tunggu ini bukan suara Meli. Lalu suara siapa yah?


#Nah kura-kura itu suara siapa yah? Gak mungkin othor yang panggil Tazi....


Bersambung...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2