
Sebelum lanjut othor minta maaf dua hari gak up, ada urusan sehingga novel ini di off sementara dalu. InsyaAllah kedepannya up. lancar lagi. Selamat lanjutkan membaca. ❤
Pagi hari, aku Gio dan Bi Jum pun bersiap akan ke rumah orang tuaku. Sebelumnya aku pun sudah mengabarkan kalau aku akan datang. Mereka sangat senang dengan kabar yang aku bawa. Bahkan Ayah izin tidak kerja, dan ibu masak makanan kesukaanku dan juga kesukaan Gio. Ini adalah yang membuatku semakin semangat untuk berkunjung ke rumah ke dua orang tuaku. Belum adik-adikku semua heboh karena ponakan satu-satunya akan datang. Mereka bisa isengin Gio deh.
Bukan hanya aku, Gio pun nampak antusias ketika aku bilang akan ke rumah neneknya. Yah, itu semua karena Gio pasti akan banyak temannya, rumah aku dan ke dua orang tuaku memang cukup jauh butuh waktu sekitar tiga sampai empat jam untuk mengunjungi rumah orang tua. Biasanya kami sering main paling lama tiga bulan atau kalau ayahnya Gio sedang tidak sibuk kami tiap bulan bermain. Namun, kali ini aku lebih dari lima bulan baru bermain lagi.
Kemarin-kemarin aku menggunakan alasan sibuk dan baru kali ini aku ada waktu. Beruntung Ibu dan Ayah tidak menanyakan apakah aku datang bersama ayahnya Gio atau tidak. Biarkan aku akan jelaskan nanti setelah bertemu secara langsung.
"Gio, apa sudah siap?" tanyaku ketika melihat Gio sudah rapi dengan pakaian terbaik yang aku pilihkan.
"Udah Bun. Abang bawa banyak mainan, takut nanti nangis kalau tidak ada mainan," celoteh anak pintar itu. Aku hanya mengulas senyum bangga ketika mendengar jawaban Gio. Meskipun aku yakin dia tidak akan mungkin memainkan mainan yang dibawanya, tetapi asalkan Gio suka dan tidak rewel aku pun membiarkan Gio mau bawa apa yang dia suka.
"Tapi ingat yah, kalau bawa sesuatu nanti tanggung jawab, dan jangan taro sembarangan. Kalau sudah main dirapihkan lagi. Biar tidak ilang dan tidak ada yang mengambil, jangan tergantung sama Bunda ataupun Bi Jum, karena Bunda dan Bi Jum juga banyak kerjaan." Aku menasihati putraku agar tanggung jawab dengan apa yang dibawanya.
"Siap Bunda." Gio pun langsung hormat dengan tegap. Putraku memang suka sekali lihat tentara-tentara kalau lagi berbaris rapi, dan sering mengikuti gerak-gerakannya termasuk hormat yang tegap dan suara yang berat dan tegas.
Aku dan Gio turun bersama bergandengan tangan, di mana Meli dan Janah sedang sarapan.
__ADS_1
"Loh, kalian mau ke mana Taz?" tanya Janah ketika melihat aku dan Gio sudah berpakaian rapih, di hari yang bisa dikatakan masih terlalu pagi.
"Kan semalam Tazi sudah bilang kalau dia mau ke rumah orang tuanya dua hari ini, ngabisin cuti dia. Gimana sih kamu, lola aja terus dipelihara. Orang mah pelihara sapi kambing, dia pelihara lola." Meli mewakilkan aku banget. Langsung ngedumel sama Janah.
Yah, Janah emang agak-agak gitu, dia sedikit lola (Loading lama) atau kata orang telat mikir, tapi bukan itu sih, lebih tepatnya dia itu pelupa parah. Bahkan mungkin kalau nama bukan kita yang panggil setiap hari udah lupa tuh namanya siapa. Tapi inilah serunya kita pertemanan yang unik.
"Ah, perasaan Tazi nggak ngomong apa-apa," balas Janah dengan santai. Sok paling nggak tau apa-apa. Padahal udah berapa kali aku bilang setelah sidang selesai bakal nginap di rumah orang tua ku.
"Udah Taz, kamu berangkat aja. Jangan tanggapi orang satu ini. Panjang urusannya." Meli yang memiliki kesabaran setipis tisu pun langsung meminta agar aku pergi. Yah, lebih tepatnya ngusir.
"Mel, aku belum selesai ngomong," balas Janah., merasa kesal karena lagi-lagi Meli mengerjainya.
"Nanti aja ngomongnya. Di kantor. Ini sudah siang, kasihan Tazi sama Gio kalau kesiangan bisa macet. Perjalanan ke rumah orang tua Tazi jauh dan rawan macet." Meli emang top banget dah. Aku hanya tertawa dengan kelakuan dua orang sahabatku itu.
"Ya udah Mel, Tazi, aku berangkat dulu yah. Kalian jangan bertengkar terus," ucapku sembari cium pipi kanan dan cium pipi kiri. Begitupun dengan Gio.
"Tante Meli, Tante Ana, Gio mau pelgi dulu ke lumah kakek dan nenek yah." Gio salaman dengan Janah dan Meli.
__ADS_1
"Dih, anak Tazi memang ngeselin, giliran nyebut nama Meli aja bener, nama gue aja dipanggilnya Ana, nama bagus-bagus Janah'" protes Janah menunjukan wajah tidak sukanya, karena Gio yang panggil namanya Ana.
Namanya anak kecil memang kadang susah nyebut dengan kata yang panjang.
"Udah sih Janah, kamu mah ada-ada aja. Namanya juga anak kecil nanti juga kalau Gio udah besar dia bisa panggil nama kamu dengan bener. Lagian kenapa nama kamu panjang. Kalau nama aku kan enak panggilnya Meli, kalo kamu Jan-nah. Gak enak dipanggilnya." Nah kan Meli sama Janah bertengkar lagi. Memang orang dua itu kalau deket bertengkar terus, tapi kalau jauh suka kangen-kangenan. Bahkan berteman dari jaman kuliah masih aja betah sampai sekarang. Jadi apa pun yang dikatakan Meli mupun Janah bener-bener kaya nggak ada istilah sakit hati. Bertengkar jangan ditanya bahkan pernah gak saling tanya tapi ya ujungnya balikan lagi.
"Udah Tazi, Gio kalian berangkat kih. Da ... dah ...." Meli kembali ngusir kita, padahal aku masih pengin lihat mereka bertengkar terus bahkan kalau perlu ya biarpin sampai sore. Biar nggak kerja sekalian. Berhubung aku dan Gio udah diusir lagi sama pemilik rumah, kami pun langsung pergi, apalagi taxi juga udah datang.
Sepanjang perjalanan aku pun menyiapkan mental dan jawaban-jawaban yang mungkin kedua orang tuaku ingin tahu, dan tentu adik-adikku juga pasti banyak tanya dengan kabar yang aku bawa. Aku sebisa mungkin tetap menunjukkan rasa tenang, dan juga tidak menunjukan kesedihan. Karena memang jujur aku sudah tidak ada sama sekali perasaan sedih berpisah dengan ayahnya Gio. Mungkin aku sudah terlanjur sakit hati sehingga sejak kejadian penabrakan yang direncanakan oleh adik ayahnya Gio aku semakin hilang rasa simpati atau bahkan semakin benci pake banget.
Rasanya sudah tidak ingin tahu apa pun yang berhubungan dengan ayahnya Gio. Tuhan memang maha pembolak balik hati yah. Kemarin aku bucin pake banget belum juga satu tahun kita berpisah, rasanya hatiku kini berbanding terbalik. Benci yang aku rasakan baru mendengar namanya saja sudah enek.
Entahlah kalau ketemu apakah aku bisa beramah telah seperti sebelumnya, atau justru aku akan berpura-pura tidak saling kenal. Yah, mungkin berpura-pura tidak saling kenal cukup mengungkapkan rasa kecewa ku.
Bersambung....
...****************...
__ADS_1