
Setelah telepon dengan keluargaku mengabarkan bagaimana hasil sidang. Aku pun merebahkan tubuh berniat agan istirahat dulu. Masih ada waktu sampai nanti malam untuk makan bersama teman-teman dan tim pengacara Handan.
"Tazi ..." Baru saja aku merebahkan tubuh niatnya mau istirahat siang, tapi para pengganggu sudah pada datang. Siapa lagi kalau bukan Janah dan Meli.
"Bisa nggak kalau masuk kamar itu ketuk pintu dulu," balasku membiarkan dua orang itu dengan kerusuhan. Aku tetap rebahan. Punggungku rasanya panas karena berjam-jam duduk dan ngurus ini itu, lebih cape dari kerja biasanya.
"Enggak, ini sudah kebiasaan kita. Kalau nggak berisik bukan Janah sama Meli. Iya kan Mel?" Janah mulai beraksi.
"Dih, apaan sih kamu. Aku mah nggak berisik yah. Kamu aja yang berisik. Jelas aku orangnya kalem," bela Meli. Sok banget jadi anak kalem. Padahal dua orang itu ya sama-sama berisik.
"Kok tumben kalian sudah pulang?" tanyaku di mana ini masih jam dua, tapi Meli sama Janah sudah pulang.
"Mau ngerayain kemenangan kamu kan. Handan tadi bilang katanya kita pulang aja." Meli langsung mengembangkan senyum pepsodent-nya.
"Oh pantesan. Anak bos besar yang nyuruh," balasku sembari memejamkan mata. Jadwal acara untuk makan-makan nanti jam tujuh sekarang baru jam dua masih ada waktu untuk meluruskan punggung.
"Ngomong-ngomong Azab kena hukuman berapa tahu Taz?" tanya Meli yang sama memilih istirahat di sampingku.
"Sembilan bulan. Kenapa mau nemenin?" tanyaku setengah berkelakar.
"Ih amit-amit nemenin laki-laki kaya gitu. Bahagia nggak, makan hati iya."
__ADS_1
"Kok sebentar banget Taz cuma sembilan bulan," celetuk Janah.
"Lah, sembilan bulan lama Say. Aku hamil sembilan bulan juga lama. Apalagi hidup di dalam penjara yang jelas satu hari aja rasanya satu bulan. Apalagi sembilan bulan." Mungkin pikiran Janah hidup di dalam. penjara enak jadi sembilan bulan sebentar.
"Iya juga sih. Apalagi seperti Azam dan Bu Dewi sudah terbiasa hidup mewah, jadi pasti berat lah. Tapi ngomong-ngomong. Bu Dewi sama mantan laki kamu, ada minta maaf tidak?" tanya Janah.
"Mas Azam ada minta maaf, bahkan nangis saat tahu aku hamil, tapi untuk Bu Dewi jangankan minta maaf untuk datang menyapa saja tidak ada," jawabku dengan jujur.
"Memang tuh betina satu mengada-ada saja. Setidaknya kalau tidak kaya, tidak cantik dan tidak tahu diri punya lah rasa bersalah minta maaf kek. Tidak harus kaya Azam yang nangis-nangis nyesel, tapi ada ucapan minta maaf kan jatuhnya lebih enak," sela Meli yang nampaknya dongkol juga.
Jangankan Meli dan Janah yang tidak tahu saat itu ada di posisiku saja marah dan kesel. Apalagi kalau merasakan betapa sakitnya lihat suami selingkuh. Apalagi kalau calon wanitanya tidak mau mengakui malah mencari gara-gara dengan cara yang katanya akan melaporkan balik. Meskipun tidak ada kelanjutannya tapi bagi aku ini sangat membuat aku sakit hati banget.
Sampai sekarang, aku masih mengharapkan kalau pihak atau kalau bisa Bu Dewi datang untuk meminta maaf. Meskipun sampai kapan aku tidak akan memaafkan apalagi sampai melupakan.
"Sama lah Jan, kan dua-duanya melakukan. Mau sama mau, ya adil lah dua-duanya sama," jawabku dengan jelas.
"Meskipun aku kecewa karena hukumannya hanya bulan, tapi tidak apa-apalah. Setidaknya mereka merasakan tinggal satu ruangan berhimpitan. Makan dengan piring plastik, makan hanya dengan nasi dan sayur bening sama goreng tempe. Aku nggak bisa bayangin Bu Dewi dan Azam melewatinya. Ya meskipun aku bahagia mendengarnya. Apalagi kalau hukumannya bertambah," imbuhku.
"Kata Handan kamu juga mau resign, kenapa cepet banget?" tanya Meli, memang rencana resign itu baru aku sampaikan sama Handan. Karena aku tidak ingin kalau nanti heboh duluan nyebar ke kantor. Meskipun aku dan Meli serta Janah kantornya beda, tapi itu masih sama punya orang tua Handan yang artinya sama saja, gosip biasa menyebar cepat mengalahkan jet tempur.
"Cepet banget gimana, bahkan usia kandunganku sudah masuk tujuh bulan yang artinya satu atau dua bulan lagi aku bakal lahiran. Aku pengin melahirkan dekat dengan keluarga. Kalau di sini ada kalian yang ada berisik," balasku setengah berkelakar.
__ADS_1
"Iya juga sih bener. Tapi nanti kita berdua saja dong sama Janah lagi." Meli masih saja nyerocos sedangkan Janah malah sudah duluan tidur. Aku yang mau tidur dari tadi malah gagal terus.
"Gak apa-apa, kasihan kalau aku pergi kamu pergi pasti Janah sendirian." Tidak bisa bayangin kalau Janah sendirian, di mana biasanya mereka berdua terus bahkan dari jaman kuliah sudah terus-terusan berdua.
"Tapi jujur Taz, aku juga sebentar lagi bakal pergi dan resign sama kaya kamu," ucap Meli dengan suara yang setengah berbisik.
"Hah kamu serius Mel, pindah ke mana?" tanyaku heran, yang aku tahu Meli itu selama ini selalu di kota ini karena memang orang tuanya ada di kota ini termasuk Handan, kalau aku dan Janah memang numpang kuliah di kota ini, tapi kami berasal dari kota yang berbeda.
"Orang tua aku minta kalau aku nyusul ke tempat kerjanya yang sekarang. Makanya terpaksa aku kayaknya harus ninggalin negara Indonesia tercinta."
"Yah Mel kasihan amat kalau Janah ditinggal kamu sendirian di sini. Nanti dia pasti kehilangan banget. Tapi kami udah bilang sama Janah dengan rencana kamu?"
"Belum, baru kamu. Enggak tega aku mau bilangnya juga."
Aku tahu sih persahabatan Meli dan Janah jauh lebih duluan baru aku masuk sebagai teman mereka, aku ngerti banget bagaimana perasaan Meli pokoknya sedihnya melebihi diputusin sama pacar.
"Ya udah nanti kamu pelan-pelan bicara sama Janah, mudah-mudahan dia bisa mengerti kemauan orang tua kamu. Yang mungkin cemas karena kamu di sini sendirian. Mungkin orang tua kamu juga ingin kumpul dengan kamu sama seperti yang lainnya.
Aku dan Meli pun terus bercerita mengenai rencanaku dan juga rencana Meli kedepannya. Tanpa terasa kami berdua pun terlelap tidur nyusul Janah yang sudah merangkai mimpi lebih dulu.
Kalau sudah saling pergi pasti momen-momen ini yang sangat dirindukan.
__ADS_1
Bersambung...
...****************...