Game Over (Mantan Suami)

Game Over (Mantan Suami)
Pembelaan Azam


__ADS_3

Ayahnya Gio memberikan kartu berwarna gelap yang aku tahu itu adalah kartu ATM kalangan atas.


"Kamu bisa gunakan uang yang ada di dalam sana dengan hidup enak bersama Gio. Tapi kamu hentikan laporan pada aku dan Dewi."


Aku mengulas senyum. sebenarnya aku tidak kaget lagi sih karena Handa juga sebelumnya sudah curiga dengan tujuan Mas Azam untuk bertemu dengan aku. Ku akui kalau Handan sangat cerdas sampai-sampai dia tahu apa yang akan Mas Azam lakukan sehingga aku bisa menyiapkan apa yang harus aku lakukan.


Pandanganku tertuju pada kartu gelap yang Mad Azam sodorkan ke hadapanku. Lalu aku menggeser kartu itu ke hadapanku dengan tangan sebelah kanan. Biasa aku lihat dari sudut mataku, kalau Mas Azam tersenyum dengan apa yang aku lakukan.


Nafasku sebisa mungkin aku buat tenang, meskipun dalam dada rasanya aku ingin melempar dan menginjak-injak bahkan mematahkan kartu itu. Namun, aku kembali teringat pesan pengacaraku. Di mana aku harus tetap bersikap santai, dan tidak terpancing apa pun yang Mas Azam katakan.


"Jujur, aku dan Gio sangat membutuhkan kartu ini_" ucapanku langsung terhenti.


"Kalau gitu kamu bisa ambil kartu itu untuk kebutuhan kamu dan Gio. Tapi kamu jangan lanjutkan kasus yang kamu laporkan. Tadi siang aku sudah dipanggil kepolisian bersama Dewi. Kamu tahu kan kalau aku ditetapkan bersalah, maka aku akanĀ  dipenjara. Aku akan kehilangan pekerjaan. Sedangkan kamu tahu betul selain aku sebagai kepala keluarga dan tulang punggung kalian, aku juga sebagai tulang punggung keluargaku. Kalau aku dipenjara dan kehilangan pekerjaan orang tua dan adik-adikku siapa yang akan memberikan nafkah." Mas Azam langsung memotong ucapanku.


Kembali aku mengulas senyum dengan tangan sebelah kanan yang membalik balikan benda tipis itu, dan sesekali mengetuk-ngetuk ujung kartu itu ke meja.


"Maaf bukanya aku egois atupun aku jahat, tapi aku tidak membutuhkan kartu ini." Aku langsung mendorong kartu sakti segala umat itu. Yah dengan keputusanku yang kemarin, aku sudah matang tidak akan membatalkan laporanku. Terbukti atau tidaknya nanti laporanku aku tidak akan mundur. Meskipun aku tetap yakin kalau keputusanku itu sangat yakin kalau mereka bisa mendekam di dalam penjara.

__ADS_1


Aku lihat mata Mas Azam langsung marah, dengan garis rahang yang tegas terlihat jelas di sana kemarahan Mas Azam.


"Soal konsekuensi yang Mas Azam katakan tadi. Seharusnya Mas sudah pikirkan sebelum melakukan perselingkuhan itu. Terserah mau nilai aku jahat dan egois yang jelas aku wanita, dan aku punya harga diri. Seorang istri dan ibu aku tidak mau harga diriku diinjak-injak, apalagi hanya dinilai dari materi. Maaf untuk kebutuhan Gio aku yakin aku bisa mencarinya sendiri." Aku tidak izinkan Mas Azam langsung menyerang ucapanku.


Laki-laki yang ada di hadapanku pun tersenyum meremehkan. Aku sendiri kembali menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan. Seulas senyum terlukis di wajahku untuk menunjukkan kalau aku tetap baik-baik saja.


"Jadi kamu menolak uang ini, dan kamu tetap mau memenjarakan ayah dari anak kamu?" tanya Mas Azam dengan nada bicara yang bergetar menahan kemarahannya.


"Yah, semua tidak akan terjadi, kalau Mas Azam tidak selingkuh," balasku dengan tegas.


Kembali senyum meremehkan terlihat dari wajah Mas Azam yang sebenarnya tampan dan aku dulu sangat beruntung karena mendapatkan suami yang tampan, tetapi kali ini aku justru tidak melihat laki-laki itu yang tampan, justru aku melihatnya acak-acakan dan sangat tidak terawat.


"Seharusnya kamu sebagai istri introspeksi diri. Kenapa suaminya bisa selingkuh. Apakah kamu sudah bisa melayani suami atau belum? Kalau suami selingkuh jelas ada yang tidak beres dari istrinya. Kamu terlalu keras kepala, kamu terlalu sibuk dengan Gio dan aku juga memilih tidur dengan wanita itu untuk kalian, agar aku bisa mendapatkan jabatan, tujuannya agar aku bisa memberikan harta yang lebih untuk keluarga kamu, dan aku tidak dicap miskin oleh keluarga kamu yang kaya itu." Tepat seperti yang aku pikirkan, suamiku sendiri menuduhku yang tidak bisa melayani suami, dan sibuk dengan Gio. entah itu benar atau tidak, tetapi sebagai seorang istri aku sudah berusaha jadi yang terbaik.


Namun apa yang aku lakukan masih dicap kurang juga. Yang paling membuatku syok adalah dia melakukan ini demi jabatan agar tidak dihina oleh keluargaku. Ini jelas ucapan yang ngada-ngada. Aku yang ingin tetap sabar ketika orang tuaku disangkut pautkan dalam masalah ini apalagi dituduh menghina menantunya karena miskin itu tidak benar.


"Kenapa Mas Azam bisa berpikir kalau Papah dan Mamah tidak meretujui kita karena menganggap kalian miskin. Bukanya jelas Papah dan Mamah menolak Mas Azam dulu karena Mas Azam lebih muda dari Tazi dan Papah dan Mamah takut kalau Mas Azam akan menyakiti Tazi. Apalagi saat itu jabatan Tazi jauh lebih tinggi dari Ma Azam, orang tua mana yang tidak takut kalau anaknya tidak bahagia dan tidak dinafkahi dengan layak. Itu bukan berati Papah dan Mamah menganggap Mas Azam miskin," balasku rasanya tidak suka mendengar ucapan Mas Azam, yang justru membuat alasan yang tidak-tidak dengan menggunakan orang yang seolah mendorong laki-laki itu untuk selingkuh apalagi dengan alasan harta.

__ADS_1


"Itu sama saja, intinya orang tua kamu tidak percaya dengan kemampuanku, dan itu alasan aku mau merayu wanita itu karena dengan merayu wanita itu aku bisa dapat harta yang banyak, dan kamu menikmatinya juga kan. Enak juga harta haram kan?"


Jujur kembali aku meradang ketika mendengar ucapan Mas Azam.


"Demi Tuhan kalau aku tahu harta itu haram, tidak akan aku mau dinafkahi oleh kamu. Aku tidak tahu harta itu kamu dapat dengan cara haram. Jadi jangan mengemis perdamaian dari aku, karena jawabanku tetap tidak akan mau." Aku berdiri dan akan beranjak dari dudukku.


Aku rasa tidak ada lagi yang harus aku diobrolkan semuanya sudah terbukti dan aku kini pun dapat bukti tambahan. Yah, atas ide Hamdan aku pun merekam obrolan kamu. Pengakuan Mas Azam tadi bisa aku gunakan untuk bukti tambahan laporanku.


"Sok suci, padahal sudah kenyang dengan uang yang aku berikan. Aku ingin lihat setelah cerai dari aku apakah kamu masih bisa makan dan membesarkan Gio atau tidak, atau kamu nanti juga akan jual diri demi tumpukan harta. Kamu sudah terbiasa hidup enak, tidak mungkin kamu akan bisa hidup menderita." Kembali ucapan Mas Azam seolah memang sedang memancing kemarahanku.


"Cukup! Kamu tidak tahu hidupku, lebih baik kamu diam saja! Siapkan mental kamu nanti, karena aku yakin secepatnya kamu akan mendekam di dalam penjara. Silahkan nikmati kebersamaan kamu dengan gundik kamu di dalam penjara. Aku dan Goa pasti akan hidup jauh lebih baik dari kamu."


Plak!!!


Nah loh siapa yang menampar dan siapa yang ditampar apakah akan terjadi pertarungan? Othor kabur ah gak berani bikin adegan kekerasan maklum hatinya othor baik....


Bersambung....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2