
Setelah magrib aku, Meli dan Janah pun bersiap untuk makan malam bersama. Aku yang memiliki ide ini, hanya untuk mengucapkan rasa terima kasih, padan tim pengacaraku yang sudah bekerja dengan sangat baik. Bukan hanya itu aku juga ingin mengucapkan rasa terima kasih sama Janah dan Meli yang sudah membantu membuka perselingkuhan Mas Azam dan gundiknya.
Aku tidak bisa bayangin kalau Janah dan Meli waktu itu tidak ngeyel agar aku menyelidiki ayahnya Gio, mungkin sampai saat ini aku masih jadi orang paling bodoh di bumi ini.
Tetap bersikap romantis sedangkan suami hampir setiap hari melayani wanita lain. Meli dan Janah juga selalu hadir di saat aku sedih dan saat aku butuh bantuan. Mereka adalah teman terbaikku. Tanpa mereka aku tidak akan sekuat ini. Mereka selalu mendukungku, apa pun masalahku.
"Tazi, kamu cantik banget sih, aku iri tau kalau lihat kamu. Meskipun udah mau punya anak dua tetap saja cantik," ucap Janah. Bener-bener kelewatan mujinya. Aku jadi GR kan karena pujian Janah yang kelewatan bohongnya.
"Cantik dari mana coba. Aku aja nggak pakai make up, cuma pakai lipstik itu pun warna nude, Janah itu kalau bohong berlebihan," balasku sembari meninggalkan Janah yang sedang memoles wajahnya.
"Tapi bener kok yang dikatakan Janah kamu itu cantiknya alami." Meli pun ikut-ikut membuatku makin gede rasa.
"Udah Mel, Jan, kalian mau ikut makan malam nggak. Kalau nggak aku tinggal nih." Dua orang itu dan-dan aja lama banget. Entah ngapain aja. Padahal aku udah nunggu dari satu jam yang lalu tapi belum selesai juga make up-nya.
"Ikut dong, kapan lagi ditraktir sama Bos Tazi. Ayo Jan, sia-sia dari siang sengaja tidak makan biar bisa makan banyak malam ini, dan sekali-kali bikin Tazi bangkrut." Meli tertawa puas.
"Iya bener, aku dari semalam udah nggak makan juga ikut-ikut Meli masa nggak jadi di traktir, rugi bandar kita." Tidak mau kalah, Janah pun tertawa dengan renyah.
Padahal aku tau itu hanya akal-akalan Meli dan Janah saja. Ya kali Meli yang tajir melintir dari embrio sampai mau tahan lapar demi di traktir aku.
Kami pun langsung menuju restoran yang sebelumnya sudah direkomendasikan oleh Meli, katanya selain makanan di restoran ini lezat tempatnya juga nyaman. Benar saja begitu sampai aku pun sudah merasa kalau restoran ini memang sangat nyaman apalagi untuk kumpul-kumpul sepertiĀ kita bukan hanya untuk merayakan rasa senang karena semua masalah yang aku hadapi sudah selesai dengan hasil yang memuaskan. Anggap saja ini semua adalah acara reunian kita. Meskipun yang hadir hanya kita aja, tanpa adanya acara makan-makan padahal kita juga sudah sering reunian.
"Tumben banget Handan telat," ucap Meli, yah padahal biasanya Handan adalah orang paling tepat waktu di antara kita. Namun, malam ini kayaknya Handan sudah mulai terbawa dengan pengaruh kita yang demen ngaret.
"Mungkin dia lagi sibuk. Handan juga masih pegang kasus adiknya Mas Azam," balasku. Namun, baru saja aku membalas ucapan Meli, malah suara Handan sudah terdengar.
__ADS_1
"Cie ... ada yang nyariin yah." Nah kan artis sesungguhnya datang.
"Iya, Meli nyariin katanya udah kangen," balasku yang langsung dapat ulti dari tatapan mata Meli yang langsung melebar.
"Enak aja kenapa jadi aku. Tazi tuh yang cariin kamu." Nah kan Meli sama Janah kadang-kadang emang paling pintar memutar balikan fakta.
"Dih, jahanam kau berdua Meli, Janah. Aku mah udah seharian ketemu Handan ya kali udah kangen aja, gantian kalian berdua lah," balasku tidak terima difitnah dengan begitu kejam sedangkan Handan sendiri malah tetap santai dengan menikmati makanan pembuka yang baru datang.
"Kalian itu berisik banget sih. Apa mesti tiga-tiganya aku nikahin biar aku adil," balas Handan dengan memainkan alisnya naik turun.
"Tidak!" Aku, Janah dan Meli pun membalas secara serentak. Sedangkan Handan justru tertawa dengan renyah.
Malam ini kami pun makan dengan hangat sesekali tertawa renyah dengan kekonyolan Janah dan juga Handan. Entah mengapa dua orang itu cocok banget Janah rada-rada telat mikir, sedangkan Handan terus-terusan senang mengerjai Janah. Bertahun-tahun jadi teman Handan, tapi Janah masih saja kadang lemot.
"Iya cocok, tiap hari rumah rame kali kalau Handan nikah sama Janah," imbuh Meli sembari setengah berkelakar. Nah kan bukan hanya.aku yang merasa Janah dan Handan itu cocok, Meli pun merasakan hal yang sama.
"Kalian jangan ngada-ngada yah, aku nikah sama Janah jangan sampai deh, belum nikah aja cape ngasih tau dia apalagi nikah," balas Handan yang ternyata dengar gibahan kita.
"Lah emang aku mau jadi jodoh kamu. Gak yah. Gak mau banget!"
"Dih, kenapa jadi kamu yang ke-GR-an. Aku juga pasti nggak mau yah sama kamu.
Kami pun tertawa renyah melihat Handan dan Janah yang terus bertengkar. Malam ini aku benar-benar lupa masalah-masalahku. Biarpun hanya sebentar, tapi bagiku sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa cape hampir lima bulan aku menjalani dua sidang yang menguras emosi, pikiran, waktu dan tenaga.
Kalau aku tidak kuat mungkin sidang tidak akan berjalan dengan lancar karena banyak teror yang menyerang ku. Lagi dan lagi dukungan teman-teman ku ini, aku mampu melewati semua masalah yang menghadang, dan kini aku menikmati buah dari kerja kerasku.
__ADS_1
Aku bisa terbebas dari energi negatif, dan aku juga bisa semakin kuat, serta bisa memberikan pelajaran buat suami yang menganggap istri di rumah tidak berguna. Semoga dengan adanya kasus Mas Azam, suami/istri yang mau selingkuh mikir lagi. Karena kenikmatan sesaat, sengsara dan terkurung dalam penjara, belum denda yang cukup mahal harus dibayar oleh tersangka. Masih mau selingkuh?
Malam ini kami pun menikmati malam malam bersama dengan teman dan tim pengacara dari Handan.
"Terima kasih yah Dan, tanpa kamu dan tim kamu mungkin aku tidak bisa mendapatkan kemenangan ini. Pantas saja kamu dijuluki pengacara papan atas, itu semua karena kerja keras kalian memang terbukti sangat bagus. Aku sangat puas dengan kerja kalian." Aku kembali mengucapkan terima kasih dengan Handan dan tim-nya secara langsung. Karena biasanya aku hanya mengucapkan dengan Handan.
"Iya sama-sama. Aku senang karena bisa bantu kamu."
Setelah mengucapkan terima kasih secara langsung pada orang-orang yang terlibat dalam kasusku, kami pun kembali pulang karena hari yang sudah semakin larut.
"Ngomong-ngomong kamu pulang sama Meli dan Janah kan?" tanya Handan, dan langsung aku jawab dengan anggukan kepala.
"Iya dong kan Tazi berangkat sama kita, ya pulang sama kita." Meli langsung memberi kode agar aku langsung pulang.
"Ayo Taz pulang, bumil nggak boleh keluar malam-malam, pamali." Tidak mau ketinggalan Janah pun langsung menggandeng tanganku.
"Kami duluan yah Dan. Sekali lagi terima kasih buat bantuannya." Entahlah meskipun sudah berkali-kali mengucapkan kata terima kasih. Namun, rasanya masih saja kurang.
Sekarang rencanaku di kota ini hanya tinggal menyelesaikan pekerjaanku, dan kembali ke rumah orang tuaku untuk berkumpul dengan keluarga.
Ternyata sejauh apa pun kita pergi dan menikah ikut suami, kalau hubungan sudah berakhir dengan suami ujung-ujungnya akan kembali pada keluarga.
Aku masih menyesal karena dulu pernah membuat kecewa Ayah dan Ibu. Padahal di saat aku jatuh seperti sekarang ini, keluargalah kekuatan utama. Bukan hanya dukungan saja tapi juga dengan doa-doa dari keluarga semuanya berjalan dengan lancar.
Bersambung...
__ADS_1