
Setelah mendengar nasihat dari Handan, aku pun akhirnya tetap menemui ayahnya Gio, tapi dengan Handan yang mendampingiku dan dengan kesepakatan bersama juga aku dan Handan akhirnya berangkat ke cafe Kenangan dengan kendaraan terpisah.
Sepanjang perjalanan aku pun lebih banyak menyiapkan mental dan juga menyiapkan apa yang akan aku lakukan dan aku katakan. Bukan karena aku yang grogi, tapi karena memang aku yang tidak ingin menunjukkan emosiku. Aku harus bisa menunjukkan kalau aku tetap baik-baik saja meskipun Mas Azam selingkuh. Yah, setidaknya membuat ayahnya Gio menyesal karena berselingkuh dari aku.
Tidak harus menempuh perjalanan yang lama karena memang cafe Kenangan dan kantor tempat aku kerja tidak terlalu jauh. Kini aku sudah sampai lebih dulu dari Handan di cafe Kenanga.
Sebelum turun, aku pun lebih dulu memastikan Handan sudah sampai juga atau belum. Yah, kini aku sudah bisa bernapas lega ketika sudah melihat mobil Handan ada di belakang taxi yang aku tumpangi.
[Kita langsung masuk bersama atau sendiri-sendiri?] tanyaku pada Handan melalui pesan singkat.
__ADS_1
[Kamu masuk sendiri dulu aja, aku akan awasi dari belakang, ingin tahu apa yang Azam rencanakan. Aku juga ingin tahu apa obrolan Azam dengan kamu ketika tidak ada aku di samping kamu.] Itu adalah balasan dari Handan. Setelah mendapat balasan dari Handan, aku pun langsung turun dari taxi. Pandanganku tertuju pada mobil ayahnya Gio yang sudah terparkir di depan cafe. Itu tandanya laki-laki itu memang tepat waktu. Tanpa menunggu lama lagi. Aku pun langsung masuk ke dalam cafe. Begitu masuk di depan pintu cafe pandanganku sudah tertuju pada sosok yang sudah sangat aku kenal.
Yah, ayahnya Gio duduk tidak jauh di depan pintu masuk sehingga aku langsung tertuju pada laki-laki itu. Tanpna menunggu lama aku pun langsung menuju ke meja di mana ayahnya Gio duduk. Aku mengulas senyum ramah seperti tidak terjadi apa-apa di antara kita. Yah, aku harus pandai bersandiwara. Sama seperti yang mereka lakukan.
Begitupun ayahnya Gio membalas senyumku. Aku langsung berjalan menuju meja Mas Azam. "Maaf lama di jalan macet," ucapku begitu aku sudah sampai di depan ayahnya Gio.
"Tidak apa-apa," balasnya dengan suara yang biasa saja. Seolah kita tidak terjadi sesuatu. Meskipun dalam hatiku tetap saja ada rasa yang masih sakit. Namun, demi sandiwara aku berusaha menutupi rasa marah dan kecewa itu.
"Ngomong-ngomong apa yang ingin kamu dan aku dibicarakan?" tanyaku tanpa berbasa basi, yah aku tidak ingin berlama-lama ngobrol dengan laki-laki itu, karena di aku sudah kangen dengan Gio. Ini adalah hari pertama aku kerja dan rasanya baru berapa jam rasa kangen sudah menggunung.
__ADS_1
Mas Azam menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Aku pun tidak menunduk maupun mengalihkan pandangan kami, justru saat ini aku memberikan tatapan yang seolah menantang. Yah, mungkin dulu aku akan malu dan menunduk ketika suamiku menatapu, tetapi kali ini aku ingin menujukan kalau aku tidak akan mau lagi menunduk dengan yang dia lakukan.
Ayahnya Gio memberikan kartu berwarna gelap yang aku tahu itu adalah kartu ATM kalangan atas.
"Kamu bisa gunakan uang yang ada di dalam sana dengan hidup enak bersama Gio. Tapi kamu hentikan laporan aku dan Dewi."
Deg! Aku mengulas senyum. Ku akui kalau Handan sangat cerdas sampai-sampai dia tahu apa yang akan Mas Azam lakukan sehingga aku bisa menyesuaikan apa yang harus aku lakukan.
Bersambung...
__ADS_1
...****************...